Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Tentang Menunggu, Bertumbuh dan Percaya, Meski Tidak Selalu Pasti
Tentang Menunggu, Tumbuh, dan Percaya
Sampai kapan?
Sedikitnya, rasa sesak di dada masih ada. Aku bahkan agak
kesulitan bernapas.
Entah ini sesak karena rindu, atau sesak karena kurang dana. Hahaha…
Mengikuti tantangan 30 hari bercerita—ayolah. Entah cerita
seperti apa yang ingin kutulis di sini. Aku masih berharap keinginan yang
terasa mustahil itu dapat terwujud di tahun ini. Kun fayakun, bukan?
Namun jawabannya selalu sama: Menunggu.
Aku lalu mendebat diriku sendiri. “Sampai kapan?” “Sampai kau
benar-benar siap,” jawabku pelan. Siap dengan emosi yang lebih stabil, mampu
menjaga bahagiamu sendiri dengan mantap. Bahagia karena dirimu, bukan karena
selainmu.
Dan kemudian, ada mantra ajaib lain yang harus kau miliki: Percaya.
Hidup kadang seperti antrean SPBU saat panic buying di Banda
Aceh kemarin. Panjangnya bukan main. Kadang orang di barisan sebelah maju lebih
dulu, kadang aku.
Kadang aku di depan, lalu bergantian berada di belakang mereka.
Kami saling tersenyum ketika aku berkata, “Beginilah
kehidupan. Kadang kita di depan, kadang kita di belakang.” Ckck.
Bedanya, saat mengantre, aku tahu seberapa panjang jarak yang
harus kutempuh demi bensin di depanku. Semuanya terlihat. Sedangkan kehidupan
yang luas ini—aku kebingungan di mana titik akhirnya, selain kematian.
Di sinilah yang melelahkan itu muncul. Bukan tentang usaha
saat menunggu, melainkan pikiranku sendiri. Pertanyaan yang berulang: Sampai
kapan?
Mantra ajaib lainnya adalah berdamai dengan pikiranku
sendiri. Membiarkan hidup menjadi jeda, dan aku hanya perlu berjalan jika sudah
lelah berlari.
Sebuah percakapan dengan teknologi pernah mengingatkanku: Belajar
berdamai dengan proses bukan berarti menyerah. Ia adalah bentuk
kepercayaan—bahwa apa yang kita rawat dengan jujur, pelan-pelan akan menemukan
jalannya sendiri.
Bijaknya.
Kadang aku merasa seperti Plankton di film Spongebob yang punya pacar layar.
Wkwk.
Taby, ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu agar maknanya
matang.
Dan bersabar, ketika dilakukan dengan sadar, adalah bagian dari pertumbuhan itu
sendiri.
Mungkin hari ini belum ada tanda yang jelas. Namun
ketidakhadiran hasil bukan berarti ketidakhadiran usaha. Kau sudah bergerak.
Kau jujur pada dirimu sendiri.
Kau tidak memaki. Kau sudah sopan pada dirimu.
Taby, dalam pergolakan batin, muncul pertanyaan-pertanyaan
ini:
Bolehkah aku merasakan cinta itu dalam keadaan yang
sebaik-baiknya? Ataukah ia hanya mimpi manis semalam? Bolehkah aku meminta
kepada-Mu kebahagiaan yang memabukkan, namun nyata dan bertahan lama?
Aku tahu kekekalan adalah milik-Mu. Apakah aku terlalu tamak
memintanya? Bukankah Engkau tahu isi hatiku? Bukankah tulisan-tulisanku adalah
percakapanku dengan-Mu—tentang kemudahan, dan tentang orang-orang yang
memudahkanku, mencintaiku?
Air mata yang jatuh karena menunggu sesuatu yang tak ingin
ditunggu, tampunglah untukku. Hatiku remuk karena tak mampu menguatkannya saat
itu. Maka, tolong kuatkan aku.
Ada kalanya aku ingin hidup lebih lama dan merasakan banyak
hal. Ada kalanya aku sangat lelah dan ingin tidur saja. Lagi dan lagi, Engkau
memintaku melatih kesabaran sepanjang masa.
Aku ingin sesuatu yang jelas, pasti, dan konsisten. Sesuatu
yang lembut, dengan batasan yang sehat. Sesuatu—atau seseorang?
Taby, proses yang baik itu jarang berisik. Ia bekerja diam-diam, sampai suatu hari kau menyadari: kau sudah sampai lebih jauh dari yang kau kira.
Jadi, sampai kapan? Sampai kau sadar bahwa hari ini pun sebenarnya kau sudah lebih baik dari kemarin.
Ayo, sadarlah.
Boleh jadi kau sudah memiliki banyak “sesuatu”, dan banyak orang juga menyayangimu :)
Tapi Taby,
kau tahu maksudku, bukan?
Ckckck.
Comments