Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita:

Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak.
https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e

“Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis.

Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa.

Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah?

Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis?

Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.”

Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metamorfosis lain yang mengubah manusia menjadi lebih baik? Perubahan apakah itu?

Ia menjawab lagi, “Perubahan emosi dan tingkah laku, teacher.” Aku terpana mendengar jawaban itu.

“Benar.” Kelak kalian ingin bermetamorfosis menjadi apa di tahun ini? Metamorfosis dari semester yang lampau ke semster yang baru, 2025 ke 2026. Itu artinya kalian akan memiliki tujuan atau goals yang hendak diwujudkan. Lalu aku memutar video tentang goals.
https://youtu.be/_vkLn1Qve60?si=qWcUSoctZl3EvUcd

Kalian akan bermetamorfosis dengan memikirkan apa yang ingin kalian wujudkan. Aku memberi mereka waktu untuk berpikir, dan di akhir kelas hari ini aku membagikan kertas goals untuk diisi dan dibawa kembali minggu depan.

Baik, itu perantara tulisanku malam ini. Hehe, lanjut taby.

Dulu, aku tidak terlalu ngeh ketika menonton film Barbie Mariposa atau Elena, yang setiap kali mereka selesai menghadapi tantangan, sayap, baju, maupun hiasan yang melekat pada mereka akan berubah menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Dan yang jahat, berubah menjadi kodok.

Saat kecil, aku melihat itu hanya sebagai penghiburan tanpa memaknai bahwa ternyata kita juga mengalami perubahan-perubahan itu setiap selesai menghadapi sesuatu hal. Apa itu namanya, naik level ya? Di gim juga demikian, bukan? Siklus yang dari awalnya rendah, naik menjadi sesuatu dan menginspirasi. Ah, apa iya?

Manusia bermetamorfosis tidak hanya dari bayi menjadi besar, namun ketika sudah besar pun ada aspek lain yang juga akan ‘dinilai’—bahwa si fulan tersebut sudah naik levelnya, bagus sayapnya, tanpa dia sendiri sadari. Dan itu berkaitan erat dengan sikap, perkataan, dan kesabarannya dalam melalui sesuatu.

Metamorfosis dalam perasaan spiritual seolah seperti seorang hamba tersebut telah “dinaikkan derajatnya” karena ketakwaannya. Dalam pandangan manusia, orang – orang akan berkata “wah dia sudah dewasa, matang sekali cara dia menjalani hidup. TenaNg sekali kelihatannya”

Sudah lari ke mana-mana tulisan ini. Ya sudah, selamat beristirahat. Tidak ada penutup yang bagaimana-bagaimana, hehe. Wassalam. Nguantuks.

Taby, Kamu tidur kan? Istirahat.

Comments

Popular Posts