Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Menjadi Secure itu Sungguh Benar-Benar Penting.

Alangkah tenangnya pribadi kalau menguasai seluruh elemen “secure” untuk hidup di Bumi. Tetap tenang dan membumi, walau hujan, banjir, badai, atau gempa. Namun, kenyataannya tidak semudah itu.

Harus diakui, ada gonjang-ganjingnya, terutama saat menghadapi awal-awal tahun baru 2026 – dari menjelang pergantian tahun, hari pertama, hingga pagi tadi.

Taby, berhubung resolusiku tahun ini adalah kelanjutan dari resolusi tahun kemarin, sepertinya harus ada tambahannya sedikit, Lol.

Menyadari bahwa aku tergolong salah satu penduduk bumi dengan Anxious attachers, sehingga aku perlu memperbaiki pola komunikasi agar mendapatkan informasi yang kubutuhkan dengan tujuan tidak membuatku overthinking atau berasumsi berlebihan. Ini penting agar aku tidak kepikiran sendiri. Jadi kepikirannya rame-rame. Ckck.

“Aku selalu mencoba mengklarifikasi perasaanku dengan teman dekat, karena aku tak ingin menyembunyikannya.”

Namun ini menjadi suatu hal yang berbeda jika aku berhadapan dengan orang baru. Aku tidak tahu pola komunikasi mereka atau tingkat kejujuran hati mereka. Diluar kendaliku bagaimana mereka berinteraksi denganku, dan akan sangat aneh rasanya jika aku langsung memperkenalkan diri sebagai anxious attacher.

Yang aku harapkan hanyalah kejujuran:

“tolong, jujur saja denganku. Aku menghargai kejujuran, sungguh. Tidak perlu topeng atau berpura-pura”. Kalau pun topen juga adalah kejujuran, ya bagaimana ya.

Taby, kepura-puraan melelahkanku. Karena aku sulit menghubungkan ketidaksesuaian kata dan perbuatan, apalagi di tengah konflik  atau miskomunikasi. Celakanya, jika itu terjadi disaat aku tidak memiliki ruang untuk menjelaskan atau membela diri. Akhirnya aku hanya bisa diam dan pasrah.

Aku bisa memahami jika seseorang membutuhkan ruang atau jeda. Namun, yag sulit bagiku adalah diamnya seseorang tanpa penjelasan - dan berharap aku bisa menebak alasannya sendiri. Rasanya seperti beban bagiku. Tolong, aku juga bukan cenayang. Dan aku tidak marah, yang penting disampaikan dengan cara yang baik, tidak sinis, dan kalau boleh, disertai kelembutan, tatapan penuh ketulusan. Aduhai. Hehe.

Taby, belakangan aku memahami tentang makna “Detachment” yang sejati.

“Detachment itu bukan mematikan rasa. Detachment adalah mengembalikan kendali ke dirimu”

Tenyata, “detach” itu bukan berarti menjauh atau menghilang. Tapi mengembalikan diri ke keutuhan diri. Dalam prosesnya kita merehabilitasi diri dengan “jarak”, untuk memurnikan, menetralkan keterikatan yang pernah ada.

Taby, bukan kah ini masih menjadi bagian dari cita-cita seumur hidupku? Memperoleh Qalbun Salim. Hati yang tenang, mempelajari seni detach dalam hubungan antar manusia (hablumminannas). wow.

Aku selalu berusaha mengurangi asumsi melalui komunikasi. Tapi terkadang aku jadi tidak berani mengungkapkan sesuatu ketika “pintu bertanya” ditutup oleh diam, penghakiman tanpa klarifikasi, atau rasa acuh. Aku mengerti, tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna. Siapa yang mampu benar-benar mencitai selain Yang Maha Cinta?

“Menjadi secure dalam meregulasi emosi itu memang penting

Selamat beristirahat, Taby :)

 

Aku kutip tulisan cantik dari postingan instagram:

“Anxious attachers can handle boundaries.”

They can handle space.

They can handle a pause.

What they can’t handle is silence that feels like abandonment.

 

It’s not about needing constant closeness. It’s about needing to know: “are we still okay?”

 

It’s not about control.

They’re not asking for 24/7 contact.

They’re not trying to be too much.

They just need reassurance that connection hasn’t disappeared.

 

They’re really asking: when will you be back?

Is this space a break – or a goodbye?

 

What helps? Clarity.

“I care about you I just need an hour to reset.”

“I’ll text you later – I’m not ignoring you, I’m just overloaded.”

It calms the nervous system.

It says: “You’re still safe here.”

 

Anxious attachers don’t need perfect regulation. They need communication.

Simple. Human. Honest.

 

We don’t fear space.

We fear disconnection with No. explanation.

 

We’re not asking for control.

We’re asking for accountability.

Tell us what’s going on.

Let us feel included, not discarded.

 

It’s not about fixing everything now.

It’s about knowing we haven’t been dropped. - https://www.instagram.com/p/DS3On6kkqx8/?igsh=dnI2dDdtc2YyZzE4

 

“Clarity”, right? Good Night.


Comments

Popular Posts