Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Kamu Tidak Terburu - Buru Menghakimi
Highlightku dari tengah malam tadi sampai tengah malam ini adalah terkkeh-kekeh dengan hasil generate AI, promptnya “Generate a guy next to me that you think is my soulmate.” Ide ini berasal dari postingan ig stopbahlul. Dengan bio profile beliau “Rmbr, you are the love you’ve been waiting for.” Wait, jangan salah menngira. Bukan ignya Bahlul yang viral akhir-akhir ini. Bukan. Ini merupakan ig seorang dokter. Lalu aku mengenerate fotoku dengan prompt yang sama dengan postingan beliau. Wah, ada brewoknya, dan dengan rangkulan. Aku geli tertawa di tengah malam. Tidak kuat. Wkwkwk.
Malam ini aku juga iseng mencoba test attachment style,
dan hasilnya aku tergolong sebagai manusia “secure”, widiw. Padahal tesnya
sederhana ini. Ingat, jangan dibantah dulu. Ini adalah spaceku untuk
memvalidasi perasaan diriku sendiri. Aku share linknya juga yak, barangkali
kamu juga mau :3 https://share.google/jl1K149kQtp19cjea
Setiap malam, aku menulis apa yang sedang terlintas, tidak terkonsep
dengan struktur. Dan tidak terburu-buru juga. Aku hanya ingin menikmatinya,
memaknainya.
Taby, ini sebagai reminder untuk diriku sendiri. Aku harap, misalkan
suatu waktu aku sedang merasa begitu sensitif, dan belum mampu memahami manusia
seutuhnya, aku bisa kembali ke tulisan-tulisanku saat sedang secure seperti
saat ini.
kritik lembut tentang cara kita mencintai di zaman sekarang – Mencintai dengan membumi, memahami
walau terkadang kita juga punya kapasitas tidak paham-paham. Ckck.
Kita merasa sudah sangat dewasa secara emosional, seolah
memahami istilah-istilah seperti boundaries, red flags, self-healing.
Tapi justru karena itu, kita sering lupa cinta juga butuh
kesabaran – Menghadapi orang yang belum rapi, belum selesai dengan dirinya.
Proses sembuh tidak selalu indah, rapi, atau konsisten. It
takes time dude, hehe.
Kadang orang yang sedang berusaha menjadi lebih baik terlihat
berantakan, salah bicara, salah bersikap. Namun di zaman sekarang: satu
chat yang “salah”, satu momen canggung – bisa langsung membuat seseorang dicap toxic
atau unsafe. “menyalahkan, menyudutkan”.
Taby, kadang kita mengatakan: “aku sedang ingin menjaga
kedamaianku”
Padahal sebenarnya: “Aku menghindari kedekatan karena takut
terluka.” Taby, padahal kamu tidak mau jujur dengan dirimu. Ini menjaga diri
atau kabur dari kedalaman? Kamu takut mengahadapinya? Terlanjur baper dan
kemudian tidak bisa meregulasi emosi sendiri? Lantas nanti sebagai solusi
singkat untuk menenangkan pikiran, “kamu langsung membenci dan menyalahkannya.”
Lantas, apa kamu sudah perasa puas? Atau justru kamu semakin kesal dengan
dirimu sendiri, bukan lagi dengan orang lain.
Jangan latih jiwamu untuk pandai membenci atau menuduh tanpa
jeda. Biarkan ada spasi dan nafas sehingga kamu bisa menghakimi secara lebih
jernih.
Kita sering keliru memahami: mengatur emosi itu bukan berarti
memutuskan hubungan, kejelasan bukan berarti mengontrol orang, menjauh bukan
berarti selalu bijak. Tapi selesaikan dengan kehati-hatian, dan jauhi
ketergesa-gesaan. Ya, begitu lah ckck.
Seolah-olah kita membangun kehidupan yang “aman”, “ideal”,
tapi sebenarnya hanya diisi oleh orang-orang yang hanya tidak ingin membantah
kita, sebab takut “rusak”, tidak menggugah. Yang nurut-nurut saja lah. Tidak ada
sisi kritis yang berabi hadir akhirnya, untuk membangun circle menjadi lebih
baik. hanya “iya iya” saja untuk menghindari konflik.
Taby, kita mengira: “aku sudah dewasa secara emosional”
Padahal yang kita cari: “Hubungan yang nyaman, minim gesekan,
minim usaha.” Makanya ga berani berkomunikasi. Sibuk memendam. Berharap ada
cenayang yang menjadi mediator.
Akhirnya... kita seolah sudah melakukan “semuanya dengan
benar”, tapi kenapa ya “masih tetap merasa jauh? Kosong? Dan sendirian?”
Oleh karena itu, taby, “orang lain juga manusia, bukan
teori psikologi, bukan komputer, bukan daftar red flag, bukan objek
evaluasi. Mereka punya luka, proses, dan ketidaksempurnaan – sama seperti kita.
“Cinta bukan hanya tentang batas dan keamanan, tapi juga
tentang kesabaran, keberanian untuk dekat, dan menerima proses manusia lain.”
Dengan bacaan dan tulisan ini, taby. Aku percaya dengan
dirimu, jika nanti ada yang merusak ke”securanmu”, kestabilan empatimu, maka
kembalilah untuk membaca ini. Aku mencintaimu. Seutuhnya.
“kamu, tidak terburu-buru menghakimi.” iya kan Taby?
Comments