Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Apa Isi Doa Ibu?
Ombak lautan sore tadi sungguh cantik. Aku yakin kalau engkau sanggup dan kuat mengunjungi tempat tadi, engkau akan menyukainya. Memandang riak, mendengar alunan tabrakan air asin yang terbawa angin. Buih-buih putihnya seolah mengejar sepatu putihku. Aku sedikit belari kecil menghindar, tidak ingin mengotorinya.
Matahari yang terbenam sungguh anggun, cahaya merah jingga
yang lembut, perlahan-lahan turun dan menghilang, seperti sengaja memasukkan
dirinya ke dalam lautan. Seolah matahari itu ingin berenang semalaman, dan
besok ketika naik dari laut, ia jernih kembali dari polusi hiruk pikuk manusia
bumi. Bahkan mataharipun mensucikan dirinya.
Apa kau sudah mandi? Mensucikan dirimu juga, taby? Wkwk.
Izinkan aku menulis sebuah cerita.
Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya “apa yang
tertinggal jika semua yang Ibu miliki pergi? Suami pergi, anak-anak pergi,
benda-benda pergi. Apa yang akan Ibu miliki nanti?”
Sang ibu menjawab dengan bertanya kembali kepada anaknya, “apa
yang tertinggal?”
“diri ibu sendiri, keutuhan jasmani dan ruhani ibu” jawab
sang anak.
“oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah untuk
mementingkan kepentingan diri Ibu, bahagiakan diri Ibu sendiri terlebih dulu. Sebab
boleh jadi, aku juga akan pergi. Lebih jauh lagi”.
Kemudian ibu hanya terdiam, tidak merespon apa-apa.
“apa ibu marah kepadaku?”
Ibu masih belum merespon apa-apa.
Selang beberapa detik dengan jeda keheningan di antara mereka,
ibu berkata:
“tolong bantu usapkan sabun ke badan Ibu.”
Sang anak tidak menambah pertanyaan apa-apa lagi selain langsung
mengambil sabun batang dan membantu mengusapkannya di punggung belakang ibu.
Taby, apakah kau mau menjadi seorang ibu? Yang kemudian menua
sendirian tanpa bayi-bayi kecil yang dulu kau susui sepenuh jiwa. Seperti anak
burung yang sudah besar, mahir terbang dan menjelajah lalu memutuskan membuat
sarangnya sendiri dengan bayi-bayi burung lagi yang kemudian akan ditinggal
terbang.
Lain cerita dengan kisah syeikh Abu Yazid Albusthami yang
kembali pulang untuk menemui ibunya.
Sebelum masuk, di depan pintu, beliau mendengar sang ibu
berdoa:
“Ya Allah, peliharalah dia yang terbuang, baguskanlah
perilakunya, tanamkanlah kebaikan hati para guru kepadanya.”
Abu Yazid kemudian mengetuk pintu
“siapa itu?” tanya ibu.
“Orang yang terbuang,” jawab Abu Yazid.
Taby, apa kau tahu kisah-kisah masyhur yang lain?
“ibu....” sang anak lanjut, mengungkapkan sesuatu setelah selesai
memandikan ibu.
“aku minta maaf belum mampu seperti jejak Uais, Tiko,
Muhammad Wahid, chen Haixun, atau Yoga kepada ibunya”.
Ibu masih belum merespon apa-apa, beliau lanjut mengenakan
mukenah dan duduk hendak melaksanakan shalat, menghadap kiblat. – Ibu sudah
sepuh, tidak sanggup berdiri lagi.
Dan taby, tidak ada yang tahu apa yang didoakan sang ibu
setelah salam.
Dari tatapannya yang sayu, kadang memejam, kadang berkedip,
dan badan yang bergerak disertai bibir dengan zikir. Apa isi doa ibu?
Comments