Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Apa Isi Doa Ibu?

Ombak lautan sore tadi sungguh cantik. Aku yakin kalau engkau sanggup dan kuat mengunjungi tempat tadi, engkau akan menyukainya. Memandang riak, mendengar alunan tabrakan air asin yang terbawa angin. Buih-buih putihnya seolah mengejar sepatu putihku. Aku sedikit belari kecil menghindar, tidak ingin mengotorinya.

Matahari yang terbenam sungguh anggun, cahaya merah jingga yang lembut, perlahan-lahan turun dan menghilang, seperti sengaja memasukkan dirinya ke dalam lautan. Seolah matahari itu ingin berenang semalaman, dan besok ketika naik dari laut, ia jernih kembali dari polusi hiruk pikuk manusia bumi. Bahkan mataharipun mensucikan dirinya.

Apa kau sudah mandi? Mensucikan dirimu juga, taby? Wkwk.

Izinkan aku menulis sebuah cerita.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya “apa yang tertinggal jika semua yang Ibu miliki pergi? Suami pergi, anak-anak pergi, benda-benda pergi. Apa yang akan Ibu miliki nanti?”

Sang ibu menjawab dengan bertanya kembali kepada anaknya, “apa yang tertinggal?”

“diri ibu sendiri, keutuhan jasmani dan ruhani ibu” jawab sang anak.

“oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah untuk mementingkan kepentingan diri Ibu, bahagiakan diri Ibu sendiri terlebih dulu. Sebab boleh jadi, aku juga akan pergi. Lebih jauh lagi”.

Kemudian ibu hanya terdiam, tidak merespon apa-apa.

“apa ibu marah kepadaku?”

Ibu masih belum merespon apa-apa.

Selang beberapa detik dengan jeda keheningan di antara mereka,  ibu berkata:

“tolong bantu usapkan sabun ke badan Ibu.”

Sang anak tidak menambah pertanyaan apa-apa lagi selain langsung mengambil sabun batang dan membantu mengusapkannya di punggung belakang ibu.

Taby, apakah kau mau menjadi seorang ibu? Yang kemudian menua sendirian tanpa bayi-bayi kecil yang dulu kau susui sepenuh jiwa. Seperti anak burung yang sudah besar, mahir terbang dan menjelajah lalu memutuskan membuat sarangnya sendiri dengan bayi-bayi burung lagi yang kemudian akan ditinggal terbang.

Lain cerita dengan kisah syeikh Abu Yazid Albusthami yang kembali pulang untuk menemui ibunya.

Sebelum masuk, di depan pintu, beliau mendengar sang ibu berdoa:

“Ya Allah, peliharalah dia yang terbuang, baguskanlah perilakunya, tanamkanlah kebaikan hati para guru kepadanya.”

Abu Yazid kemudian mengetuk pintu

“siapa itu?” tanya ibu.

“Orang yang terbuang,” jawab Abu Yazid.

 

Taby, apa kau tahu kisah-kisah masyhur yang lain?

 

“ibu....” sang anak lanjut, mengungkapkan sesuatu setelah selesai memandikan ibu.

“aku minta maaf belum mampu seperti jejak Uais, Tiko, Muhammad Wahid, chen Haixun, atau Yoga kepada ibunya”.

Ibu masih belum merespon apa-apa, beliau lanjut mengenakan mukenah dan duduk hendak melaksanakan shalat, menghadap kiblat. – Ibu sudah sepuh, tidak sanggup berdiri lagi.

Dan taby, tidak ada yang tahu apa yang didoakan sang ibu setelah salam.

Dari tatapannya yang sayu, kadang memejam, kadang berkedip, dan badan yang bergerak disertai bibir dengan zikir. Apa isi doa ibu?

Comments

Popular Posts