Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Seleksi Alam - From Attachment to Detachment

Dengan menyebut nama Tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Hayy Taby. Peace be upon you, tulisan ke-tigaku di blog di tahun ini. Apa kabar? Aku tidak tahu sebenarnya apakah aku masih memiliki kemampuan untuk menulis atau bagaimana. Tidak menulis disini bukan berarti juga aku berhenti. Aku memilih jeda yang entah sampai kapan.

Selamat ulang tahun untuk Ayah jika engkau masih hidup hari ini. 31 Desember bukan? Berapa usia Ayah sekarang? Apa yang akan Ayah katakan jika melihatku dan jika melihat keadaan belakangan ini? Tentu saja, aku sudah mengikhlaskanmu. Aku menyapa bukan berarti aku sedih disini, bukan. Aku menyapa karena aku masih mengingatmu.

Hay Taby, 2025 diluar prediksi, tapi sejauh harapan yang ku bangun di awal tahun kemarin, seiring berjalannya waktu segala hal yang terjadi seolah seperti magic bagiku. Seolah semesta meresponku secara langsung di pagi dan siang hari. Aku merasakan energi-energi atau pola tingkah yang kemudian membuatku sadar, tidak ada yang namanya “kebetulan”. Semua yang terjadi adalah sebab akibat dari manifesting hati dan gestur badan dan respon alam dan kepekaan dalam memahami.

Taby, aku tidak memungkiri gedebak-gedebuk yang menimpaku. Aku tidak lari. Aku tetap menjaga senyum dan tawaku. Sebab, apa lagi yang ku miliki selain diri dan kepercayaanku akan takdir-takdir yang menjadi milikku, akan orang-orang yang membersamai atau menjadi pelajaran berharga untukku. Aku tidak menyimpan benci untuk menjaga keimutan wajah ini wahai taby. Hehe....

IELTS? Jangan tanya. Masih belum. “Nature doesn’t hurry, right?”. Aku semakin menghargai waktu-waktu luang yang ku miliki dengan merecharge energi, terutama tidur, atau aku melakukan olahraga kesukaanku sejak kecil, Tepuk Bulu, dengan teman-teman lama maupun baru.

Taby, tahun ini aku lebih banyak berinteraksi dengan manusia dari berbagai level usia maupun ragam kepribadian. Aku belajar mendengarkan kritikan dengan profesional tanpa mencampur baurkan hal-hal yang bersifat personal dalam dunia kerja. Aku menghargai dan penuh ketakjuban. Merendahkan ego dan memperbaiki keterampilan mengajar atau kemampuan interpersonal. Tidak ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna.

Seumur-umur, aku tidak pernah menari di atas pentas, dan kemudian aku harus belajar bahkan mengajarkan murid-murid imutku menari di atas pentas. “Belum pernah berarti tidak menjadi alasan untuk tidak memulai, bukan? Selama ada yang memberikan kesempatan”. Aku mengucapkan terima kasih untuk pengalaman-pengalaman baru di tahun ini. Sepertinya 2025 benar-benar memasakku sampai sematang ini. Dari cara-caraku merespon setiap kejadian di tahun ini, apakah aku dapat dikatakan sudah memiliki mental sebagai orang dewasa sejati?

Awal kepindahanku ke Banda Aceh, aku takjub, disini sudah mulai banyak komunitas-komunitas yang terlihat aktif. Aku mengenal teman-teman baru. Hidupku juga mengalami seleksi alam secara lahiriah bukan hanya sekadar diksi “seleksi alam”. Teman-teman, barang-barang, air mata. Akhir November, Banjir bandang menghantam desaku. Ketinggian air di atas dua meter. Seluruh perabotan rumah terendam, dan yang ku syukuri, mamak, mabit, dan abang dalam keadaan selamat. Tapi tidak dengan ijazah dan buku-buku yang menjadi saksi bisu perjuanganku memahami matematika saat kuliah dulu. Raib, taby. Raib. Bahkan buku karanganku sendiri, pendekar wanita itu telah basah menjadi pendekar banjir yang lepek. Setiap melihat tumpukan barang-barangku yang dijejerkan di atas batu, rasa sedih berubah menjadi rasa sakit hati. Sejak awal mamak sudah mengingatkan, “kalau pulang, adek harus lebih banyak sabarnya”. Lalu, apa yang aku lakukan taby? Aku berdiam diri, memilih mengambil jeda dengan diriku akan barang-barang yang telah meninggalkanku, di hari ke-tiga di rumah, tubuhku menyerah terhadap batinku. Aku sakit. Tapi tenang, itu tidak lama.

Taby, di tahun ini aku juga mensyukuri ada manusia yang mau mendengarku lebih banyak, memahamiku, mengajariku sesuatu yang sebelumya tidak aku rasakan, perasaan. Dari mulai attachment sampai dengan detachment. Awal tahun sampai akhir tahun. Maka 2025 bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan atau teman, tapi juga tentang melepaskan. Yang biasanya, aku membiarkan diriku ditinggalkan lebih dulu, tapi sekarang aku juga belajar untuk pergi lebih dulu. Aku mencintai, merefleksi, dan membela diriku. Terima kasih 2025 dan segala hal yang ada didalamnya.

Taby, aku membuka diriku untuk esok hari dengan keberlanjutan tujuan yang belum sempat terpenuhi di tahun lalu, akan aku lanjutkan, akan aku perbaiki. “Slowly, but consistently. Nature doesn’t hurry right? Yet everything is accomplished.” Treat me better :) 

"Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai, yang penting rutin. konsisten bukan berarti ritmenya harus sama melulu, tapi rutin aja dulu. Be present".

Surat dari chat GPT:

Untuk aku,

Kamu sering merasa “biasa saja”, padahal kamu menjalani peran yang tidak sederhana. Kamu peduli—bahkan saat lelah. Kamu berpikir tentang orang lain, bahkan ketika tak ada yang meminta.

Kamu tidak berisik soal niat baikmu, tapi kamu konsisten. Kamu belajar, memperbaiki, dan bertanya—bukan karena kamu kurang, tapi karena kamu ingin lebih bermakna.

Kadang kamu ragu: “Apakah aku sudah cukup?”
Jawabannya: mungkin belum sempurna, tapi cukup tulus untuk terus bertumbuh.

Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu sedang berjalan, bukan tertinggal.

Tetap lembut, tetap belajar, dan izinkan dirimu istirahat tanpa rasa bersalah.

— Aku, yang tahu aku sudah berusaha.

 

Dan terakhir, tulisan tambahanku:

Ku ucapkan terima kasih pada apa-apa, atau siapa yang menemaniku di tahun ini.

Suka dukaku, bahagia dan piluku.

Cerita-cerita yang tidak penting yang seolah juga penting bagi telinga-telinga baikmu.

Aku menyayangimu dengan jarak atau pun tanpa jarak, dengan jasadmu maupun tanpa wujudmu dihadapanku. Dengan adanya suara atau tidak adanya suaramu yang menemaniku.

Seleksi alam membawaku di titik ini,

rasa merelakan yang telah pergi,

rasa ego yang ikut terabrasi,

diajari oleh bumi,

dididik oleh langit.

Aku menyayangimu dengan jarak atau pun tanpa jarak, dengan jasadmu maupun tanpa wujudmu dihadapanku.

Aku ingin engkau sejahtera dengan cinta seluruh semesta tertuju kepadamu.

Wassalam.

Comments

Popular Posts