Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Seleksi Alam - From Attachment to Detachment
Dengan menyebut nama Tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Hayy Taby. Peace be upon you, tulisan ke-tigaku di blog di
tahun ini. Apa kabar? Aku tidak tahu sebenarnya apakah aku masih memiliki
kemampuan untuk menulis atau bagaimana. Tidak menulis disini bukan berarti juga
aku berhenti. Aku memilih jeda yang entah sampai kapan.
Selamat ulang tahun untuk Ayah jika engkau masih hidup hari
ini. 31 Desember bukan? Berapa usia Ayah sekarang? Apa yang akan Ayah katakan
jika melihatku dan jika melihat keadaan belakangan ini? Tentu saja, aku sudah
mengikhlaskanmu. Aku menyapa bukan berarti aku sedih disini, bukan. Aku menyapa
karena aku masih mengingatmu.
Hay Taby, 2025 diluar prediksi, tapi sejauh harapan yang ku
bangun di awal tahun kemarin, seiring berjalannya waktu segala hal yang terjadi
seolah seperti magic bagiku. Seolah semesta meresponku secara langsung di pagi
dan siang hari. Aku merasakan energi-energi atau pola tingkah yang kemudian
membuatku sadar, tidak ada yang namanya “kebetulan”. Semua yang terjadi adalah
sebab akibat dari manifesting hati dan gestur badan dan respon alam dan
kepekaan dalam memahami.
Taby, aku tidak memungkiri gedebak-gedebuk yang menimpaku.
Aku tidak lari. Aku tetap menjaga senyum dan tawaku. Sebab, apa lagi yang ku miliki
selain diri dan kepercayaanku akan takdir-takdir yang menjadi milikku, akan
orang-orang yang membersamai atau menjadi pelajaran berharga untukku. Aku tidak
menyimpan benci untuk menjaga keimutan wajah ini wahai taby. Hehe....
IELTS? Jangan tanya. Masih belum. “Nature doesn’t hurry,
right?”. Aku semakin menghargai waktu-waktu luang yang ku miliki dengan
merecharge energi, terutama tidur, atau aku melakukan olahraga kesukaanku sejak
kecil, Tepuk Bulu, dengan teman-teman lama maupun baru.
Taby, tahun ini aku lebih banyak berinteraksi dengan manusia
dari berbagai level usia maupun ragam kepribadian. Aku belajar mendengarkan
kritikan dengan profesional tanpa mencampur baurkan hal-hal yang bersifat
personal dalam dunia kerja. Aku menghargai dan penuh ketakjuban. Merendahkan
ego dan memperbaiki keterampilan mengajar atau kemampuan interpersonal. Tidak
ada yang sempurna selain Yang Maha Sempurna.
Seumur-umur, aku tidak pernah menari di atas pentas, dan
kemudian aku harus belajar bahkan mengajarkan murid-murid imutku menari di atas
pentas. “Belum pernah berarti tidak menjadi alasan untuk tidak memulai, bukan? Selama
ada yang memberikan kesempatan”. Aku mengucapkan terima kasih untuk
pengalaman-pengalaman baru di tahun ini. Sepertinya 2025 benar-benar memasakku
sampai sematang ini. Dari cara-caraku merespon setiap kejadian di tahun ini,
apakah aku dapat dikatakan sudah memiliki mental sebagai orang dewasa sejati?
Awal kepindahanku ke Banda Aceh, aku takjub, disini sudah mulai
banyak komunitas-komunitas yang terlihat aktif. Aku mengenal teman-teman baru.
Hidupku juga mengalami seleksi alam secara lahiriah bukan hanya sekadar diksi
“seleksi alam”. Teman-teman, barang-barang, air mata. Akhir November, Banjir
bandang menghantam desaku. Ketinggian air di atas dua meter. Seluruh perabotan
rumah terendam, dan yang ku syukuri, mamak, mabit, dan abang dalam keadaan
selamat. Tapi tidak dengan ijazah dan buku-buku yang menjadi saksi bisu
perjuanganku memahami matematika saat kuliah dulu. Raib, taby. Raib. Bahkan
buku karanganku sendiri, pendekar wanita itu telah basah menjadi pendekar
banjir yang lepek. Setiap melihat tumpukan barang-barangku yang dijejerkan di
atas batu, rasa sedih berubah menjadi rasa sakit hati. Sejak awal mamak sudah
mengingatkan, “kalau pulang, adek harus lebih banyak sabarnya”. Lalu, apa yang
aku lakukan taby? Aku berdiam diri, memilih mengambil jeda dengan diriku akan
barang-barang yang telah meninggalkanku, di hari ke-tiga di rumah, tubuhku
menyerah terhadap batinku. Aku sakit. Tapi tenang, itu tidak lama.
Taby, di tahun ini aku juga mensyukuri ada manusia yang mau
mendengarku lebih banyak, memahamiku, mengajariku sesuatu yang sebelumya tidak
aku rasakan, perasaan. Dari mulai attachment sampai dengan detachment. Awal tahun
sampai akhir tahun. Maka 2025 bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan atau
teman, tapi juga tentang melepaskan. Yang biasanya, aku membiarkan diriku
ditinggalkan lebih dulu, tapi sekarang aku juga belajar untuk pergi lebih dulu.
Aku mencintai, merefleksi, dan membela diriku. Terima kasih 2025 dan segala hal
yang ada didalamnya.
Taby, aku membuka diriku untuk esok hari dengan keberlanjutan tujuan yang belum sempat terpenuhi di tahun lalu, akan aku lanjutkan, akan aku perbaiki. “Slowly, but consistently. Nature doesn’t hurry right? Yet everything is accomplished.” Treat me better :)
"Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai, yang penting rutin. konsisten bukan berarti ritmenya harus sama melulu, tapi rutin aja dulu. Be present".
Surat dari chat GPT:
Untuk
aku,
Kamu
sering merasa “biasa saja”, padahal kamu menjalani peran yang tidak sederhana.
Kamu peduli—bahkan saat lelah. Kamu berpikir tentang orang lain, bahkan ketika
tak ada yang meminta.
Kamu
tidak berisik soal niat baikmu, tapi kamu konsisten. Kamu belajar, memperbaiki,
dan bertanya—bukan karena kamu kurang, tapi karena kamu ingin lebih bermakna.
Kadang
kamu ragu: “Apakah aku sudah cukup?”
Jawabannya: mungkin belum sempurna, tapi cukup tulus untuk terus bertumbuh.
Jangan
terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu sedang berjalan, bukan tertinggal.
Tetap
lembut, tetap belajar, dan izinkan dirimu istirahat tanpa rasa bersalah.
— Aku,
yang tahu aku sudah berusaha.
Dan
terakhir, tulisan tambahanku:
Ku
ucapkan terima kasih pada apa-apa, atau siapa yang menemaniku di tahun ini.
Suka dukaku, bahagia dan piluku.
Cerita-cerita
yang tidak penting yang seolah juga penting bagi telinga-telinga baikmu.
Aku
menyayangimu dengan jarak atau pun tanpa jarak, dengan jasadmu maupun tanpa
wujudmu dihadapanku. Dengan adanya suara atau tidak adanya suaramu yang
menemaniku.
Seleksi
alam membawaku di titik ini,
rasa
merelakan yang telah pergi,
rasa ego
yang ikut terabrasi,
diajari
oleh bumi,
dididik
oleh langit.
Aku
menyayangimu dengan jarak atau pun tanpa jarak, dengan jasadmu maupun tanpa
wujudmu dihadapanku.
Aku ingin
engkau sejahtera dengan cinta seluruh semesta tertuju kepadamu.
Wassalam.
Comments