Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Temanku dan Satu Strip Inamid
Dengan menyebut nama
Tuhanku yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Apa kabar jiwaku di sini? Apa kabar
Taby? Tulisan pertamaku padamu lagi, di pertengahan tahun. Juni 2025.
Aku coba deskripsikan,
tulisanku ini hadir saat aku sedang menetap di tanah ini lagi. Tanah dimana aku
pada masa itu, sedang rajin-rajinnya menulis. Atau mencari perhatian dari
selain cicak, kecoa, kucing yang melipir melihatku seolah sibuk sendiri padahal
tidak juga sibuk. Apakah engkau akan bersedia menerimaku lagi? Mencari perhatianmu,
Taby?
Posisiku saat ini adalah
duduk di sebuah kursi, di hadapanku ada meja bundar putih dengan laptop di atasnya.
Pada sisi kananku ada dinding putih, dan di sisi kiriku ada tempat tidur, ember
baju kotor, ember hitam yang berisi panci atau piring sendok makan. Aku berada
di dalam sebuah ruangan dengan ranjang untuk satu orang, persis seperti kamar rumah
sakit. Hanya saja, tidak ada tiang infus di sini. Kalau ada infus, mantap
sudah. Astaghfirullah, jangan. Apa itu jarum. Aku menyadari hal ini baru tadi
siang, saat diare kembali menyerangku, badanku lemas akibat kekurangan cairan
berketerusan. Aku mulai khawatir, bahkan selera makanku merosot seketika. Aku perlu
minum dan makan untuk mengganti apa yang sudah keluar. Aihh, aku memaksakan
badan untuk bangun, memasak nasi, menggoreng tempe dan memanaskan rendang. Aku makan,
walau tidak sebanyak biasanya. Yang penting aku tidak mau terlalu lunglai. Aku takut
tidak berdaya dan berakhir dengan tali infus. Aduh, lebaynya. Padahal hanya
diare. (maaf teman-teman, hehe)
Diantara semua penyakit
yang pernah ku alami, aku paling khawatir saat sedang menderita penyakit ini,
a.k.a. Diare. Aku tidak kuasa rasanya, aku benci saat merasa selemas-lemasnya. Ini
bukan aku. Semalas-malasnya aku, tapi tidak ingin dalam keadaan
selemas-lemasnya. Oleh karena itu, agak sering aku menghindari masakan yang
terlalu pedas, atau tidak berlebihan memakan makanan pedas, atau alangkah lebih
baik kalau makan tidak mencampur-campurnya dengan sembarang jenis makanan lain
(nah, ini susah ku lakukan. Aku suka bereksperimen dan mencampur buah dengan
siomay, atau kentang dengan es krim, atau seperti yang terjadi semalam, aku
makan terlalu sehat di waktu yang berdekatan. Sayur, daging, dan buah. Ditambah
cemilan yang sebelumnya juga jarang aku cemil. Nah. Ini biang mencretku, sumber
inspirasi tulisanku kali ini. Apa-apaan.
Untungnya, apakah ini
hanya sekadar kebetulan atau bukan, seorang teman mengabari akan mengunjungiku
(ke kosan). Sebelum dia datang, dia sempat mengechat dan bertanya “mau nitip
apa?” aku langsung membalas pesannya “Inamid”. Aku ceritakan juga sedikit
padanya mengenai kondisiku yang tetiba diare, aku butuh satu strip inamid (obat
penyetop diare).
Dia tiba di waktu yang
tepat, di saat aku baru selesai urusan dari ruangan kecil lain yang juga berada
di dalam kamar ini. Aku membuka pintu dan menyambutnya. Aku tidak tahu
bagaimana rupaku pada pandangannya, rupa wajahku yang kembali menahan sembelit
dan izin lagi kepadanya untuk ke kamar kecil. Aku tidak tahan. Ini juga salah
satu alasanku kenapa setiap akan mencari/menempati kos, aku selalu memilih yang
ada kamar mandi di dalamnya. Urusan ini, sudah ku pikirkan masak-masak dari
dulu. Aku tanpa kamar kecil, kurang afdhal rasanya.
Entah apa yang sedang
dalam pikiran temanku saat melihat keadaanku tadi, terserah. Kemudian dia
menyerahkan satu strip inamid tersebut, aku mengambil satu butir dan langsung
meminumnya. Dia juga membawa lauk ikan lele goreng yang sempat aku titip tadi,
tapi aku belum sanggup makan membersamainya yang sedang makan es pisang hijau. Terlihat
lezat, dia juga menawariku es pisang tersebut, tapi aku sadar diri. Itu manis,
sesuatu yang manis, tidak akan berdampak baik bagi keadaanku saat ini. Aku takut
akan semakin rumit nantinya.
Sejam berlalu, aku merasa
lebih baik dan tidak terlalu sering lagi ke kamar kecil. Aku juga mulai
berselera makan, dengan lauk “lele goreng”. Aku mulai kembali bersemangat bercerita
dengan temanku. Ku ucapkan terima kasih kepadanya, kedatangannya dan Inamid
menyelamatkanku hari ini. Seolah bak pahlawan siang hari, setelah tugasnya
mengurusi bumi, mengunjungiku, dia pamit. Untuk urusan penyelamatan berikutnya,
dia akan mengambil obat untuk ayahnya. Mulia sekali teman ini. Semoga dia kaya
raya, sehat, dan cepat bertemu dengan jodohnya. Ckckck. Aamiin.
Comments