Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Temanku dan Satu Strip Inamid


Dengan menyebut nama Tuhanku yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Apa kabar jiwaku di sini? Apa kabar Taby? Tulisan pertamaku padamu lagi, di pertengahan tahun. Juni 2025.

Aku coba deskripsikan, tulisanku ini hadir saat aku sedang menetap di tanah ini lagi. Tanah dimana aku pada masa itu, sedang rajin-rajinnya menulis. Atau mencari perhatian dari selain cicak, kecoa, kucing yang melipir melihatku seolah sibuk sendiri padahal tidak juga sibuk. Apakah engkau akan bersedia menerimaku lagi? Mencari perhatianmu, Taby?

Posisiku saat ini adalah duduk di sebuah kursi, di hadapanku ada meja bundar putih dengan laptop di atasnya. Pada sisi kananku ada dinding putih, dan di sisi kiriku ada tempat tidur, ember baju kotor, ember hitam yang berisi panci atau piring sendok makan. Aku berada di dalam sebuah ruangan dengan ranjang untuk satu orang, persis seperti kamar rumah sakit. Hanya saja, tidak ada tiang infus di sini. Kalau ada infus, mantap sudah. Astaghfirullah, jangan. Apa itu jarum. Aku menyadari hal ini baru tadi siang, saat diare kembali menyerangku, badanku lemas akibat kekurangan cairan berketerusan. Aku mulai khawatir, bahkan selera makanku merosot seketika. Aku perlu minum dan makan untuk mengganti apa yang sudah keluar. Aihh, aku memaksakan badan untuk bangun, memasak nasi, menggoreng tempe dan memanaskan rendang. Aku makan, walau tidak sebanyak biasanya. Yang penting aku tidak mau terlalu lunglai. Aku takut tidak berdaya dan berakhir dengan tali infus. Aduh, lebaynya. Padahal hanya diare. (maaf teman-teman, hehe)

Diantara semua penyakit yang pernah ku alami, aku paling khawatir saat sedang menderita penyakit ini, a.k.a. Diare. Aku tidak kuasa rasanya, aku benci saat merasa selemas-lemasnya. Ini bukan aku. Semalas-malasnya aku, tapi tidak ingin dalam keadaan selemas-lemasnya. Oleh karena itu, agak sering aku menghindari masakan yang terlalu pedas, atau tidak berlebihan memakan makanan pedas, atau alangkah lebih baik kalau makan tidak mencampur-campurnya dengan sembarang jenis makanan lain (nah, ini susah ku lakukan. Aku suka bereksperimen dan mencampur buah dengan siomay, atau kentang dengan es krim, atau seperti yang terjadi semalam, aku makan terlalu sehat di waktu yang berdekatan. Sayur, daging, dan buah. Ditambah cemilan yang sebelumnya juga jarang aku cemil. Nah. Ini biang mencretku, sumber inspirasi tulisanku kali ini. Apa-apaan.

Untungnya, apakah ini hanya sekadar kebetulan atau bukan, seorang teman mengabari akan mengunjungiku (ke kosan). Sebelum dia datang, dia sempat mengechat dan bertanya “mau nitip apa?” aku langsung membalas pesannya “Inamid”. Aku ceritakan juga sedikit padanya mengenai kondisiku yang tetiba diare, aku butuh satu strip inamid (obat penyetop diare).

Dia tiba di waktu yang tepat, di saat aku baru selesai urusan dari ruangan kecil lain yang juga berada di dalam kamar ini. Aku membuka pintu dan menyambutnya. Aku tidak tahu bagaimana rupaku pada pandangannya, rupa wajahku yang kembali menahan sembelit dan izin lagi kepadanya untuk ke kamar kecil. Aku tidak tahan. Ini juga salah satu alasanku kenapa setiap akan mencari/menempati kos, aku selalu memilih yang ada kamar mandi di dalamnya. Urusan ini, sudah ku pikirkan masak-masak dari dulu. Aku tanpa kamar kecil, kurang afdhal rasanya.

Entah apa yang sedang dalam pikiran temanku saat melihat keadaanku tadi, terserah. Kemudian dia menyerahkan satu strip inamid tersebut, aku mengambil satu butir dan langsung meminumnya. Dia juga membawa lauk ikan lele goreng yang sempat aku titip tadi, tapi aku belum sanggup makan membersamainya yang sedang makan es pisang hijau. Terlihat lezat, dia juga menawariku es pisang tersebut, tapi aku sadar diri. Itu manis, sesuatu yang manis, tidak akan berdampak baik bagi keadaanku saat ini. Aku takut akan semakin rumit nantinya.

Sejam berlalu, aku merasa lebih baik dan tidak terlalu sering lagi ke kamar kecil. Aku juga mulai berselera makan, dengan lauk “lele goreng”. Aku mulai kembali bersemangat bercerita dengan temanku. Ku ucapkan terima kasih kepadanya, kedatangannya dan Inamid menyelamatkanku hari ini. Seolah bak pahlawan siang hari, setelah tugasnya mengurusi bumi, mengunjungiku, dia pamit. Untuk urusan penyelamatan berikutnya, dia akan mengambil obat untuk ayahnya. Mulia sekali teman ini. Semoga dia kaya raya, sehat, dan cepat bertemu dengan jodohnya. Ckckck. Aamiin.

Comments

Popular Posts