Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Sedang apa di sana?

 

Selain berusaha menahan rindu di malam sabtu, aku juga benar-benar menahan diri dari menyentuh coklat SilverQueen di samping kanan laptop. Coklat tersebut ku letakkan di atas buku novel “Pulang” karya Leila S. Chudori yang sudah dua bulan ini belum juga ku selesaikan. Bukannya aku tidak mau menyentuh coklat atau pun buku, aku menunda memakan coklat karena takut akan berdampak untuk perutku. Kau akan tertawa melihatku yang saat sedang mengetik menatap layar, juga sambil melirik menatap coklat, dan juga sekaligus merasa bersalah sebab tidak melanjutkan membaca novel. “procrastination” pada coklat memiliki alasan yang berbeda dengan alasan aku pada buku. Aku selalu menenangkan diri dan mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu dengan “pelan-pelan” sebagai excuse untuk tidak segera menyelesaikannya. Ini buruk sekali. Aku tahu. Tapi.... aku juga masih memiliki tapi. Dimana aku menikmati membacanya tanpa terburu-buru, mencoba memahaminya sampai bisa menceritakan ulang apa yang barusan kubaca. Benarkah?

Aku merasa berbohong pada diriku sebab mengatakan tidak berani menyentuh coklat karena alasan takut sakit perut lagi, padahal sebelumnya, aku baru saja melahap dua roti sobek isi coklat. Akhirnya aku membuka coklat tersebut, dan sekarang, satu-satunya yang ku tahan hanyalah rasa rinduku. Bukan lagi coklat ini.

Mengutip puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, aku membaca kembali bait per baitnya. Izinkan aku menuliskannya kembali disini,

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

Kalapnya, kalau pun hujan tak turun di bulan Juni, maka tidak ada yang lebih tabah dari diriku yang selalu mengatakan menunggu. Matahari pun tahu kenapa aku menghindarinya, “karena rinduku”. Temaramnya kamarku juga tahu, kenapa jendela itu lebih sering tertutup daripada terbuka, “karena rinduku”. Sampai akhirnya, sebuah suara menyelamatkanku dari kegelapan yang ku pilih sendiri. Suara itu menarikku keluar dari fantasi delusiku, yang ku tunggu tidak akan bangkit lagi. Yang ku tunggu, tidak bersedia memahami, atau bahkan mereka tidak mengenaliku lagi.

Pelan-pelan tanpa ku sadari, aku beranjak dari gelap kamarku, aku keluar melihat matahari, aku melihat cahaya lain dari kompor api. Kenapa tetiba ke kompor? Sebab akhirnya, aku juga mulai meniatkan diri untuk rajin memasak guna penghematan ekonomi. Tidak jadi serius lagi, realita selalu menjadi lelucon yang mau tak mau, adalah alasanku melihat cahaya lagi. Aku harus hidup walau yang kucintai sudah tidak ada lagi. Aku harus hidup, walau yang kukagumi memperlakukanku seolah bukan tokoh utama di sekitarnya lagi. Aku harus hidup, meskipun membuat jarak adalah obat pahit yang harus ku minum, maka aku akan meminumnya. Dan akhirnya aku pergi. Meskipun buku yang belum ku selesaikan, judulnya adalah Pulang. Sebab “pergi” ku kali ini, memiliki makna baru, yakni “pulang” pada yang bukan sekadar bangunan. Pergiku adalah pulang pada yang memperlakukanku dengan sebaik-baik cara dan keadaan.

Suara itu tidak kudengar malam ini. Suara yang katanya tidak ingin menganggu istirahatku. Yang padahal, aku tidak merasa terganggu olehnya.

Sedang apa di sana?

Comments

Popular Posts