Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Sedang apa di sana?
Selain berusaha menahan
rindu di malam sabtu, aku juga benar-benar menahan diri dari menyentuh coklat SilverQueen
di samping kanan laptop. Coklat tersebut ku letakkan di atas buku novel “Pulang”
karya Leila S. Chudori yang sudah dua bulan ini belum juga ku selesaikan. Bukannya
aku tidak mau menyentuh coklat atau pun buku, aku menunda memakan coklat karena
takut akan berdampak untuk perutku. Kau akan tertawa melihatku yang saat sedang
mengetik menatap layar, juga sambil melirik menatap coklat, dan juga sekaligus
merasa bersalah sebab tidak melanjutkan membaca novel. “procrastination”
pada coklat memiliki alasan yang berbeda dengan alasan aku pada buku. Aku selalu
menenangkan diri dan mencari-cari alasan untuk melakukan sesuatu dengan “pelan-pelan”
sebagai excuse untuk tidak segera menyelesaikannya. Ini buruk sekali. Aku
tahu. Tapi.... aku juga masih memiliki tapi. Dimana aku menikmati membacanya
tanpa terburu-buru, mencoba memahaminya sampai bisa menceritakan ulang apa yang
barusan kubaca. Benarkah?
Aku merasa berbohong pada
diriku sebab mengatakan tidak berani menyentuh coklat karena alasan takut sakit
perut lagi, padahal sebelumnya, aku baru saja melahap dua roti sobek isi
coklat. Akhirnya aku membuka coklat tersebut, dan sekarang, satu-satunya yang
ku tahan hanyalah rasa rinduku. Bukan lagi coklat ini.
Mengutip puisi Hujan
Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, aku membaca kembali bait per baitnya. Izinkan
aku menuliskannya kembali disini,
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik
rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak
kakinya
Yang ragu-ragu di jalan
itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak
terucapkan
Diserap akar pohon bunga
itu
Kalapnya, kalau pun hujan
tak turun di bulan Juni, maka tidak ada yang lebih tabah dari diriku yang
selalu mengatakan menunggu. Matahari pun tahu kenapa aku menghindarinya, “karena
rinduku”. Temaramnya kamarku juga tahu, kenapa jendela itu lebih sering
tertutup daripada terbuka, “karena rinduku”. Sampai akhirnya, sebuah suara
menyelamatkanku dari kegelapan yang ku pilih sendiri. Suara itu menarikku
keluar dari fantasi delusiku, yang ku tunggu tidak akan bangkit lagi. Yang ku
tunggu, tidak bersedia memahami, atau bahkan mereka tidak mengenaliku lagi.
Pelan-pelan tanpa ku
sadari, aku beranjak dari gelap kamarku, aku keluar melihat matahari, aku
melihat cahaya lain dari kompor api. Kenapa tetiba ke kompor? Sebab akhirnya,
aku juga mulai meniatkan diri untuk rajin memasak guna penghematan ekonomi. Tidak
jadi serius lagi, realita selalu menjadi lelucon yang mau tak mau, adalah
alasanku melihat cahaya lagi. Aku harus hidup walau yang kucintai sudah tidak
ada lagi. Aku harus hidup, walau yang kukagumi memperlakukanku seolah bukan tokoh
utama di sekitarnya lagi. Aku harus hidup, meskipun membuat jarak adalah obat
pahit yang harus ku minum, maka aku akan meminumnya. Dan akhirnya aku pergi.
Meskipun buku yang belum ku selesaikan, judulnya adalah Pulang. Sebab “pergi”
ku kali ini, memiliki makna baru, yakni “pulang” pada yang bukan sekadar
bangunan. Pergiku adalah pulang pada yang memperlakukanku dengan sebaik-baik
cara dan keadaan.
Suara itu tidak kudengar
malam ini. Suara yang katanya tidak ingin menganggu istirahatku. Yang padahal, aku tidak
merasa terganggu olehnya.
Sedang apa di sana?
Comments