Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
Refleksi Pembelajaran Perjalanan Pendidikan Nasional
Refleksi Pembelajaran Perjalanan Pendidikan Nasional
Fadhilah Ata (2314897) Tugas 7 Topik 1 - Koneksi Antar Materi - Filosofi Pendidikan Indonesia
Saya menyadari bahwa menjadi guru adalah Profesi mulia yang berawal dari panggilan jiwa diri sendiri.
Filosofi Pendidikan Indonesia menjadi salah satu mata kuliah Mahasiswa PPG Gelombang 2 tahun 2023. Mempelajari mata kuliah ini menurut saya penting agar selaku calon guru profesional kita dapat tahu mengenai Perjalanan Pendidikan Nasional, dan hakikat pentingnya pendidikan di Indonesia, terutama berlandaskan konstitusi, sesuai amanat pada Pembukaan UUD alinea ke-4 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Saya meyakini bahwa pendidikan adalah hak setiap orang. Pendidikan dapat menaikkan derajat penempuhnya, pendidikan yang merdeka membuat seseorang menjadi percaya diri dan mandiri dalam memperoleh pengetahuannya. Merujuk pada Undang-Undang No 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari hal ini, saya juga meyakini bahwa dalam memperoleh pendidikan yang baik diperlukan usaha sadar dari setiap individu untuk mencapainya, motivasi besar datangnya dari diri bukan hanya karena pengaruh orang lain.
Berdasarkan dari materi yang telah dipelajari, Ki Hajar Dewantara menyampaikan bahwa pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Pendidikan juga diartikan sebagai tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan, agar segala unsur peradaban dan kebudayaan dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa perlunya pemberian pendidikan kultural dan nasional dengan cara memberikan pendidikan kepada anak sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.
Perjalanan pendidikan nasional tidak terlepas dari sejarah panjang di masa lampau. Pendidikan pada masa kolonial, pendidikan hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu sehingga terjadinya sebuah diskriminasi karena hanya golongan masyarakat atas dan calon-calon pegawai saja yang diperbolehkan untuk menempuh pendidikan. Salah satu dampak dari adanya pendidikan kolonial tersebut akhirnya muncullah tokoh-tokoh terpelajar yang memiliki cita-cita untuk melepaskan Indonesia dari belenggu pemerintah kolonial. Adapun golongan terpelajar yang dimaksud adalah Soetomo (Budi Utomo), Suwardi Suryaningrat/ Ki Hajar Dewantara (Sekolah Taman Siswa), K.H Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), R.A Kartini (Emansipasi Perempuan).
Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam perjalanan pendidikan nasional adalah Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1922 didirikannya Taman Siswa di Yogyakarta yang menjadi gerbang kebebasan dan kebudayaan bangsa untuk menggambarkan peran guru dalam pendidikan, maka Ki Hajar Dewantara menggunakan “sistem among” sebagai perwujudan menempatkan peserta didik sebagai pusat dalam proses pendidikan. Dengan demikian, sebagai guru diwajibkan bersikap “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani''. Artinya, guru sebagai pendidik harus mampu menjadi contoh yang baik dan mampu untuk menumbuh kembangkan minat dan kemauan peserta didik dalam berkarya, serta guru juga harus memberikan dukungan atau memberikan kebebasan, kesempatan dan bimbingan agar peserta didik dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan kemampuannya sendiri. Akhirnya setelah kemerdekaan, pendidikan di Indonesia mengalami perubahan.
Setelah saya mempelajari topik 1 pada mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, saya memperoleh banyak pengetahuan baru dan terdapat beberapa perubahan yang saya rasakan, yaitu saya dapat mengetahui sejarah perjalanan Sistem Pendidikan Nasional dari masa sebelum kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan bahkan sistem pendidikan saat ini. Saya dapat mengetahui beberapa pemikiran yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kaitannya dengan Filosofi Pendidikan yang selanjutnya diadaptasi dan diimplementasikan pada pendidikan saat ini. Seperti yang disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Saya menjadi tahu bahwa guru sejatinya bukan sekedar mengajar, namun harus menjadi teladan, membangun cita-cita, dan memberi dukungan kepada peserta didik. Ketika nanti saya menjadi guru, sebelum menentukan proses pembelajaran saya perlu mempunyai pandangan bahwa pendidikan harus berorientasi pada peserta didik, bukan pada guru atau sistem, setelah itu saya juga perlu untuk mengenali karakter dan kebutuhan peserta didik terlebih dahulu agar pembelajaran yang saya berikan bisa lebih bermakna dan memberikan pengalaman nyata sehingga peserta didik tidak merasa bosan selama proses belajar. Dengan mempelajari mata kuliah filosofi pendidikan Indonesia ini, saya akan menerapkan prinsip belajar dari Ki Hajar Dewantara dan memerdekakan peserta didik dengan cara memberikan kebebasan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan minat dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sebagai guru, bukan hanya memberikan pengetahuan saja, tetapi saya juga harus turut terlibat dalam menumbuhkan karakter peserta didik agar mereka dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan baik dan bermanfaat.
Comments