Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
POHON KELAPA
Aku tidak bisa tidur, aku juga belum menuntaskan bacaan ketigaku. Bukan, ini bukan bacaan yang merupakan tugas dari sekolah untuk kubaca. Tolonglah, ini liburan. Aku sedang liburan, aku membaca buku cerita karangan penulis favoritku. Tulisannya begitu tepat sasaran, caranya menarasikan sesuatu mampu membuatku tertawa, atau terkadang pilu. Emosiku campur aduk, tak urung cinta juga membanjiri jiwaku dengan selipan roman. Tapi lebih seringnya, aku menyukai pesan mendalam, hikmah baik dari kehidupan. Ia menyampaikannya dengan baik. Aku suka sekali caranya.
Apakah aku akan bisa seperti caranya menulis? Toh ternyata,
dia menulis bukan karena seorang lulusan sastra. Dia seorang akuntan. Tidak banyak
bernarsis di media sosial, fotonya jarang kudapati seperti sedang berselfi. Sungguh,
belum sepertinya kudapati. Apalagi kisah kehidupan keluarganya, tak ada. Ia hanya
menulis, bercerita melalui tulisan, menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui
tulisan.
Aku sempat menontonya di sebuah video. Ia menganalogikan menulis
itu seperti sebatang pohon kelapa di sebuah pulau. Ia tidak kemana-mana, hanya sebatang
pohon yang mengakar pada tanahnya. Memang bisa kemana? Pernahkah kalian melihat
pohon berjalan? Tidak. Tapi pohon tersebut berbuah, yang kemudian saat setelah
masak pada dahan, buah-buah kelapa tersebut jatuh. Dibawa samudera, atau
menggelinding kemana saja. Tak dinyana, buah-buah kelapa yang jatuh itu
bertebaran dimana, beberapa justru kembali tumbuh menjadi pohon kelapa yang
baru. Berawal dari sebatang pohon kelapa di pulau terpencil, siapa yang
kemudian menyangka bahwa ia menebarkan benih-benih pohon kelapa ke penjuru
daerah lainnya. Aku pun mulai menyukai analoginya. Bagaimana cara dia berfikir?
Tak dinyana, beberapa tulisannya juga begitu kritis saat mengkritik sesuatu. Termasuk
pemerintahan. Logis sekali cara dia menyampaikan sesuatu. Lagi dan lagi, aku
diam-diam mengaguminya. Hei, jangan berasumsi macam-macam. Bukan berarti aku obsess
sekali kepadanya. Sekagum-kagumnya aku, saat ia ada di ibukota daerahku, aku
justru tidak mati-matian ingin melihatnya secara langsung atau mengejar tanda
tangannya. Hehe, sukaku sederhana.
Jadwal tidurku berantakan, malam membuatku lebih banyak
berfikir kemana-mana. Atau kenangan mengusikku, dan rinduku kepada seseorang
muncul seperti penyakit. Ditambah lagi, aku sambil mendengar lagu. Liriknya begini
“mencoba bertahan dari hatiku, keinginanku memilikinya. Kepada hati itu aku terlena,
dimana kau berada aku terbawa. Kepada hati itu kuterus mencoba, dimana kau
berada engkau milik-Nya”. Lagu Letto, berjudul “kepada hati itu”.
Lantas beberapa orang terlintas saja dalam bayangku. Ayah yang
aku sayangi, dan orang-orang yang aku syukuri pernah ada dan tidak tahu
keberadaannya. Dimanapun kau berada, engkau milik-Nya. Jadi ya begitulah,
keberadaanmu dibawah naungan dan lindungan Tuhanku.
Mohon maaf lahir dan batin, ayah. Mohon maaf lahir dan batin, kehidupan. Mohon maaf lahir dan batin, cinta. Ruh dan jasadku masih melanglang buana di bumi-Mu. Rezeki-Mu kepadaku adalah cinta. Aku makan, tidur, bergerak, bekerja, sebab Engkau ridha kepadaku. Aku meminta maaf dengan khilafku. Aku meminta maaf sebab masih terkandung sedihku yang berlebihan, ceriaku yang berlebihan, atau khayalku yang seolah tidak lagi pada dunia. Aku meminta maaf jika berjalan dengan cara yang tidak seharusnya, menyapa dengan cara yang salah, atau kesulitan berbaur atau justru melebur dan hilang dari pedoman. Aku meminta maaf kepada diriku. Tolong, jadikan juga tulisanku sebagai salah satu buah kelapa yang tumbuh dengan kebaikan dimanapun ia mendarat pada pembacanya.
Berakhirlah tulisan ini sebagai tulisan ke-27 dari 30 hari bercerita. Wassalam :)
- Get link
- X
- Other Apps
Comments