Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
SENYUMAN :)
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum wr, wb.
Whooam…. Malam sabtu ini, sebenarnya aku ingin menonton video
dan mengisi isian di akun Merdeka Mengajar, namun malas sekali rasanya. Belakangan,
guru dituntut untuk membuat aksi nyata, dengan makna mempublikasikannya sebagai
bukti dan di upload pada aplikasi tersebut. Ya Tuhanku, bantu aku dalam
menggerakkan jasadku memenuhi kegiatan tersebut. Mudahkanlah…. Ya ampun, bagaimana
ya. Ya begitulah teman :) motivasiku adalah jajan tambahan, ayolah.
Jiwa seniku begitu casual, polos. Sedangkan harapan
orang-orang sekitar harus semarak dan berwarna. Aku tidak suka, tapi bagaimana
ya. Aduh, harus menghias kelas juga. Bagaimana ya. Apa benar harus ku tempel
warna pelangi? Sedang aku menyukai kepolosan. Aku tidak tega menodai dinding
dan memalu paku. Tapi kalau memang harus, bolehkah dengan caraku? Yang dimana
caraku itu pun juga belum kutemukan akan ku apakan kelasku kemudian. Apa ini,
apa yang ku tulis :)
Di sekolah, aku biasa dikenal sebagai guru yang terlihat
santai. Padahal habis-habisan aku menggenjot diriku, memotivasi diri dalam
kepala bertubi-tubi, untuk kemudian bergerak dan berkontribusi dalam menyelesaikan
tugas tepat waktu, walau pada akhirnya, aku menyelesaikan tugasku dengan
kebiasaan yang dinamakan “the power of kepepet”. Sungguh, jangan ditiru. Aku ingin
berubah. Ya Tuhan, bantu aku juga dalam hal ini. tolong amiinkan teman-teman. Aku
juga butuh do’a dari kalian yang jauh disana, karena tidak bisa mengengkolku dari
sini. Hehe…
Cucian sudah kusiapkan dalam keranjang untuk ku realisasikan
juga malam ini, kemudian… ada saja hasrat distraksi dan melambat-lambatkan
diri. Sungguh godaan syaithan dan duniawi begitu mengecoh diri.
Bagaimana dengan esok pagi? Apa aku akan memasak? Kau yakin dengan dirimu? Aku juga meragukan yang satu ini.
Walau minggu efektif di sekolahku
adalah 5 hari, senin-jumat, tapi besok pagi sabtu aku juga sudah punya agenda. Padahal aku ingin sekali berleha-leha di rumah. Kadang aku bertanya kepada diriku,
apakah aku keluar besok akan begitu berguna? Atau hanya habis minyak honda dan
tenaga? Aku amat pelit terhadap energiku. Padahal tinggal bilang saja, “malas”.
Kukira, berdasarkan asumsi ini pula sebab mengapa hilal jodoh tak terlalu jelas
dipandang mata. Buram sekali ya :) tapi sungguh, aku setia sekali orangnya.
ckck
Dengan memiliki sifat seperti ini, aku memutuskan untuk tidak
cemburu akan pencapaian orang lain. Karena aku sadar, usaha orang lain lebih
cekatan dibanding usahaku dalam meraih sesuatu. Ini pesimis atau gimana yak? Wallahualam.
Oke kamu hebat teman! Semangat ya! Biar saja aku yang jadi pemandu suara dari
sini. Aku akan dengan caraku menembus prestasi entah apa lah itu. Aku pun tidak
yakin, maafkan aku teman. Jangan geram atau putus asa kepadaku, ya. Aku sayang
kepada kalian.
Malam ini aku ingin menyampaikan, kenapa harus bersikap
ramah, menunjukkan ceria kepada manusia? Apa landasannya?
Kali ini isi ceramah Habib umar bin hafidz yang ku tonton:
Bahkan senyumanmu akan tercatat dalam buku amalanmu kelak. Di
waktu apa kamu tersenyum dan sebab apa dengan niat apa? Semua tertulis. Diatas
senyum adalah tawa. Dan senyuman jika dihadapan saudaramu yang muslim agar ia
senang adalah sedekah. Senyuman dihadapan orang beriman adalah sedekah. Berkata
Sayyiduna Jarir bin Abdillah RA, “tidaklah aku melihat Rasulullah sejak aku
masuk islam melainkan tersenyum dihadapanku”. Berkata Sebagian sahabat: “tidak
aku lihat seseorang yang lebih banyak tersenyum diwajah para sahabatnya
melebihi Rasulullah”. Bandingkan ini dengan orang yang jika ia ingin taat
beragama pertama yang dilakukan adalah cemberut diwajah orang-orang, cemberut,
tidak kamu lihat ada senyuman darinya, tidak kamu lihat keceriaan padanya. Hei
fulan… ini bukanlah agama, bukan begini agama. Muhammad penghulu para rasul tersenyum
diwajah para sahabatnya. Tersenyumlah! Biarkan orang-orang melihat gigi-gigimu
sedikit. Biarkan orang-orang melihat keceriaan di wajahmu. Janganlah seseorang
dari kalian meremehkan kebaikan sedikitpun walaupun itu bertemu saudaranya
dengan wajah ceria. Begitulah Pendidikan para ulama dan orang-prang beriman. Dengan
kuatnya rasa takut dan khusyuk mereka kepada Allah, tapi jika mereka saling
bertemu mereka tersenyum.
Dari nasehat tersebut, walau amalan begitu pas-pasan, yang
pas-pasan itu juga kadang belum sempurna, apa salahnya jika kita mengiringinya
dengan senyuman dan keceriaan wajah ketika berjumpa sesama. Iya kan teman? Barangkali
dengan amalan senyuman itulah yang dapat menyelamatkan kita… wallahualam
Mati lampu lagi disini. Kuakhiri saja, wassalam teman….
Ya mantap. Alasan mager semakin berganda. Faghfirli ya Rabbi.
Comments