Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Seni Menjadi Penderita Yang Baik

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum wr. Wb. Tulisan ke-23 dari 30haribercerita.

Alkisah pernah ada seorang petani bernama Jie yang tinggal di sebuah desa kecil di pengunungan. Jie adalah seorang pekerja keras yang menghabiskan hari-harinya merawat tanaman dan ternaknya. Dia puas dengan kehidupannya yang sederhana dan menemukan kegembiaraan dalam kesenangan kecil yang dibawanya.

Suatu hari, badai besar melanda desa, menghancurkan tanaman Jie dan menyebabkan semua ternaknya lari. Jie sangat terpukul, dia telah kehilangan semua yang telah dia kerjakan dengan sangat keras dan sekarang tidak memiliki apa-apa. Dia menjadi sangat frustrasi dan mulai menangis. Seorang guru Tao dan muridnya sedang melakukan perjalanan melalui desa dan melihat Jie. Mereka mendatanginya dan bertanya apa yang telah terjadi. Setelah menceritakan kisahnya, Jie bertanya kepada Guru, “menurutmu apakah aku akan pulih dari kehilangan ini?” Sang Guru menjawab “mungkin”. Kemudian sang Guru mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan perjalanannya bersama murid tersebut. Jie terus menangis dan mengutuk badai. Murid itu tetap diam selama sisa perjalanan, tetapi sang guru tahu bahwa dia sangat kesal.

Keesokan harinya, sang guru berkata kepada muridnya, “ayo kita pergi dan mengunjungi Jie untuk melihat bagaimana keadaannya sekarang.” Ketika mereka mendekati rumah Jie, mereka mendengar penduduk desa berkumpul di sekitar rumahnya, dan memujinya, dan mengatakan betapa beruntungnya dia karena sapi-sapinya telah kembali, membawa serta lima ekor sapi lagi. Mereka melihat Jie masih kesal. Jie melihat guru dan murid mendatanginya, kemudian  bertanya “saya senang sapi saya kembali, tetapi semua tanaman saya hancur, dan saya tidak bisa memberi makan mereka. Menurut anda apakah hidup saya akan sebaik dulu? Masa lalu?” Sang Guru dengan tenang menjawab “mungkin”, dan pergi. Murid itu cukup bingung, memikirkan mengapa sang Guru tidak memberi tahu Jie bahwa semuanya akan baik-baik saja untuk memberinya harapan dan motivasi, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Keesokan harinya, siswa tersebut memutuskan untuk pergi dan berbicara dengan Jie dan mengatakan kepadanya bahwa hidupnya akan baik-baik saja. Saat dia mendekati desa, dia mendengar bahwa beberapa penduduk desa sangat tertekan dan membicarakan tentang hal mengerikan yang terjadi pada malam sebelumnya di desa tersebut. Dia mendengar bahwa sekelompok bandit datang ke desa pada malam sebelumnya, dan merampok rumah dan pertanian penduduk desa. Murid itu berpikir dalam hati “ini pasti membuat hidup Jie semakin sulit.” Saat dia melanjutkan perjalanan menuju rumah Jie, dia mendengar orang-orang berbicara tentang betapa beruntungnya Jie karena para perampok melihat ladangnya yang hancur dan mengira dia tidak punya apa-apa, jadi mereka tidak mencuri apapun darinya.

Kita sering memiliki kecenderungan untuk melabeli kejadian-kejadian dalam hidup kita sebagai baik atau buruk, seperti halnya Jie dalam cerita. Tapi kenyataannya adalah kita harus mempercayai aliran alami kehidupan (sebagaimana semesta ingin berjalan/apapun kejadian) dan melepaskan keinginan-keinginan untuk mempersempit pengalaman kita ke kategori yang kaku.

Seperti yang dikatakan Lao Tzu: “Dunia diatur dengan membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Itu tidak bisa diatur dengan ikut campur.” Dia percaya bahwa keterikatan dan keinginan kita adalah akar penyebab penderitaan dan dengan melepaskan keterikatan ini, kita dapat menemukan kedamaian dan kepuasan.

Melepaskan bukan berarti tentang menyerah pada impian atau keinginan kita, melainkan tentang menemukan keseimbangan dan penerimaan pada saat ini. dengan melepaskan keterikatan kita, kita dapat menemukan kebebasan dan menjalani kehidupan yang penuh sukacita dan tujuan.

Kamu mungkin bertanya “tapi bagaimana bila penderitaan tidak disebabkan oleh keinginan dan keterikatan kita sendiri, melainkan oleh keadaan eksternal diluar kendali kita?” Dalam kasus ini, kita diajarkan untuk menerima apa yang tidak dapat kita ubah dan menemukan makna dalam penderitaan kita. Ini mungkin sulit, tetapi ini tentang menemukan cara bagaimana menderita dengan baik. Ini tentang menumbuhkan ketahanan dan menemukan cara untuk mengubah penderitan menjadi pertumbuhan dan pembelajaran.

Jadi lain kali jika kamu dihadapkan pada situasi yang sulit, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan bagaimana kamu bereaksi terhadap situasi tersebut dan ingatkan dirimu tentang kekuatan perubahan dari melepaskan, dan mempercayai aliran alami hidupmu.

Guru Lao Tzu mengatakan “dunia dimenangkan oleh mereka yang melepaskannya.”

Intinya, bersyukur dan bersabarlah engkau. Tidak membatin, mengikat hal-hal yang bersifat fana sepenuhnya dalam hati, maka kau akan menjadi sebebas-bebasnya manusia yang memiliki jiwa yang damai saat berjalan di muka bumi.

Wassalam….

Comments

Popular Posts