Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Sejauh Usiaku Memaknai Sesuatu
Haloha! Are you waiting for my today’s writing? Ckck
Engga ya. Yaudah, it’s not a big problem.
Assalamu’alaikum wr, wb taby…
Kalau engkau sedang menangis, apa yang akan ibumu katakan kepadamu?
Jika ibuku, maka beliau akan mengatakan “percayalah takdirmu, wahai anakku…” atau
“inilah yang dinamakan kehidupan”
Akan seperti apa kita 5 menit kedepan? Berfikir dengan
kapasitas seorang manusia, lumrah menerka apa saja. Tapi segala ketentuan
adalah milik-Nya. Jadi? Tidak tahu kan akan seperti apa pastinya?
Terkadang kudapati, Orang-orang hanya bisa berpendapat sesuai
keinginannya, bukan berdasarkan perhatian yang mendalam terhadap kebutuhan dan
apa yang sedang dirasakan oleh orang yang sedang diberi pendapat dihadapannya.
Terkadang kupahami, Orang-orang mengatakan akan mendukung,
walau pada akhirnya yang berjuang untuk diri kita sendiri adalah diri kita
sendiri. Orang-orang mampu mengatakan gulali kemanisan, tapi pada akhirnya
mereka akan sibuk juga dengan kegiatannya masing-masing dan membiarkan kita
berjuang sendirian dengan cara kita.
Kuyakini, Kebahagiaan dan hiburan adalah milikmu dari dalam
hatimu, bukan dari harapanmu terhadap tingkah/respon orang lain kepadamu. Berdasarkan
mindset ini, kau akan bisa mengendalikan gelasmu sendiri tanpa perlu takut
tumpah atau terecoki tangan asing. Kau bisa bebas kapan ingin meminum air dari
gelasmu, bukan karena bantuan tangan orang lain kau minum, atau suruhan orang
lain kau minum, melainkan karena hausmu dan keinginan dirimu sendiri. Tentunya atas
dasar Kehendak-Nya kepadamu.
Ingatlah, ada banyak tokoh dalam dunia dan yang akan kau
jumpai satu per satu. Kau bukan penguasa dari setiap tokoh yang kau jumpai,
melainkan kau ambil saja makna dan belajar dari cara mereka memperlakukanmu
atau perbaiki dari salahmu memperlakukan mereka. Namun yang harus kau pegang
adalah satu, jangan menaruh harapan pada tokoh duniawi. Percayalah, cukup kau
taruh harapanmu pada pemilik dan pencipta tokoh-tokoh itu semata.
Saat kau mampu membaca gelagat, jaga lisanmu dari siapa yang
sedang engkau temui, jangan hiasi bicaramu dengan mencaci saudaramu. Karena seperti
lazimnya orang berbicara mengenai seseorang kepadamu, begitu pula ia akan
membicarakan tentang dirimu kepada orang lain.
Orang-orang tidak mudah berubah, mereka hanya dibekali
kesadaran memperbaiki diri, namun bukan berarti mereka tidak lagi pernah salah
dan tidak akan mengulangi. Karakter adalah kebiasaan sejak dini yang terbentuk,
tidak bisa dibuat-buat. Seiring waktu, cerminan diri akan berwujud. Maka jika
ingin karaktermu baik, kau tempa dirimu bukan saat sebelum lima menit kau ingin
berjumpa dengan seseorang yang kau segani. Tapi sejak baru belajar berjalan lah
kau bentuk seperti apa dirimu sebenarnya. Sadar atau tidak sadar. Dituntun maupun
tanpa penuntun.
Selama masih hidup, kau masih berkesempatan memperbaiki. Mulailah
dari hal-hal sederhana dan hargai kebaikan-kebaikan kecil yang terjadi pada
setiap hembusan nafasmu. Berterima kasihlah kepada-Nya, dan kau akan merasa
lebih peka memaknai apa saja.
Orang-orang berhak salah paham kepadamu, tapi reaksimu untuk membuang
waktu getol-getolan menyelesaikan kesalahpahaman orang lain terhadapmu bukanlah
kewajibanmu. Biarkan! Biarkan mereka sibuk dengan pikiran mereka, selama itu
bukan pikiranmu. Toh apakah kamu juga menyalahpahami dirimu sendiri? Maka kalau
demikian, urusilah pikiranmu, daripada lelah mengurusi pikiran orang lain. Biarkan
mereka lelah dengan pikiran mereka sendiri terhadapmu.
Jalani hidupmu dengan bercermin pada cerita Lukmanul Hakim
yang mengajak anaknya jalan disertai seekor keledai. Maka kau akan sampai :)
Tulisan ke-19 dari 30haribercerita malam ini isinya adalah kerandoman
opini sejauh usiaku memaknai sesuatu.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments