Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

NILAI 40

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum wr wb…

Haloha teman? Kali ini kusuguhkan yang amat sangat ringan. Berbagi riwayat kesalahan. Begitulah hehe 

Saat memeriksa PR Matematika murid-murid hari ini, ada salah satu diantara mereka yang bersedih. Sebab dengan segala upaya yang telah diusahakannya, ia mendapatkan nilai 40. Aku tau, dia sudah berusaha.

Berkaca kepada pengalamanku belasan tahun lampau saat sedih mendapatkan nilai jelek, ayah menunjukkan rapor SD nya kepadaku. “wah, ayah juga punya nilai merah. 2? 4?” Aku tidak jadi merasa begitu sedih. Sebab beliau berkata “nilai 1 ini adalah tongkat bagi Ayah saat sudah tua, nilai 2 aku lupa apa, nilai 3 adalah seperti pesawat yang membawa ayah ketika sudah bekerja, nilai 4 adalah kursi jabatan yang pernah ayah duduki” Aku ingat persis momen ini terjadi di teras belakang rumah. Dengan sarung dan singlet putih ciri khas beliau.

Maka aku mengulang kembali perkataan ayah kepada muridku yang bersedih tadi. “jangan sedih, ibu tau kamu sudah jujur. Tidak masalah, nilai 40 ini bisa jadi bekalmu menjadi orang yang duduk di kursi penting”, ungkapku kepadanya. Kutambahkan lagi dihadapan murid-murid yang lain “anak-anak, nilai itu merupakan kuantitas, kuantitas itu biasanya hanya tertera pada selembar kertas. Namun yang ada pada diri kalian dan kalian bawa kemana-mana itu namanya kualitas. Kalian sungguh-sungguh mengerjakan soal walau masih salah, itu wajar. Ibu tidak marah karena kalian sudah mencoba. Tidak ada yang langsung begitu sempurna, ibu pun menjadi guru juga tidak langsung sempurna dalam mengajar. Tidak apa-apa, kita belajar bersama. Jangan sedih ya. Dari salah tersebut akhirnya kita menjadi tau, dan kita memperbaikinya. Itulah kualitas yang ada pada kita. Tahu dimana salahnya, tahu dimana memperbaikinya. Bukan hanya kuantitas ponten ibu semata.” Hebat sekali pikirku nasehat yang kulancarkan. Yah padahal muridku tidak tahu saja, aku, gurunya, juga sering sekali mendapat nilai jeblok dahulu. Bahkan nilai nol juga pernah.

Apa kata ibuku saat aku membawa nilai nol kerumah? “ibu kira kamu kenapa-kenapa dijalan makanya menangis tersedu-sedu pulang, ternyata dapat nol. Tidak apa-apa, kita rebus saja nanti” aku yang berderai air mata, tidak jadi sesenggukan lagi, justru berganti menjadi tawa. Ibuku juga lucu sekali jawabannya.

Perkara nilai jelek tersebut masih berlanjut sampai aku ke bangku kuliah. Semester pertama, yang awalnya begitu bersemangat menggebu-gebu eh pas terima nilai langsung ada salah satu mata kuliah yang akunya mendapat nilai D. mengetahui hal itu, aku tidak lagi banyak bicara. Melainkan langsung pulang menuju kosan dan menutup gorden serta mengunci pintu kamar. Aku bersembunyi dan menangis sendiri dibalik selimut. Setelah sedikit tenang, aku menelpon ibu di kampung, “aku tidak mau lanjut kuliah lagi.” Lantas apa respon ibu diseberang? “tidak apa-apa, kita masih bisa mengulanginya. Tidak ada yang marah atau menekan adek dengan nilai jelek tersebut. Ibu tahu adek sudah berusaha.” Bersebab nasehat tersebut, aku menjadi kebal saat kemudian kembali lagi mendapat 4 nilai D dan 6 nilai C. ya, tinggal diperbaiki. Apa pula yang harus kutangisi lagi kan? Maka jadilah aku sebagai sosok yang kalau pun nilaiku jelek, atau kalaupun aku mempelajari hal baru namun tidak sesempurna teman-temanku, ya sudah. Aku selow yang penting aku sudah tahu rasanya mengerjakan hal tersebut.

Personalitiku kelihatannya seperti pintar, tapi ketahuilah bahwasanya aku tidak sepintar yang dibayangkan. Aku pernah menabrakkan mobil ayah ke beton samping pagar, tidak sengaja (kurang waspada) memasukkan air kedalam salah satu colokan listrik saat sedang membersihkan dinding kamar mandi hingga dari colokan tersebut mengeluarkan api dan otomatis mematikan arus listrik diseluruh rumah. Kukira rumah hampir terbakar, sampai abangku berkata “apa adek tidak belajar hukum fisika? Bahwasanya air dan listrik bisa jadi  konslet”. Ya aku kan tidak sengaja hehe. Lantas karena hal-hal tadi, apa aku berhenti menyetir saat memang sudah penting untuk kukendarai? Tidak. Apa aku berhenti membersihkan dinding kamar mandi yang berdekatan dengan colokan listrik mesin cuci? Tidak. Tapi karena hal itu, kesalahan-kesalahan itu, yang kemudian aku jadi tahu kan harus bagaimana.

Begitu juga saat membuat buku, kau pikir aku tidak melakukan kesalahan? Sebab masih banyak tiponyalah makanya tidak aku gembar-gemborkan sekali. Cukup kukonsumsi sendiri dan beberapa orang saja ckck.

Jadi demikianlah teman. Tidak ada orang yang tidak berbuat salah dan langsung begitu sempurna. Hal-hal seperti itulah yang ingin kusalurkan pada murid-muridku. Ibu gurunya tidak marah karena mereka masih belum sempurna mengerjakan Latihan/Pr. Tapi ibu gurunya kesal karena saat sedang memberi penjelasan yah malah mereka sibuk bicara juga di tempat duduknya. Jadi kalau kita sama-sama bicara, siapa yang akan mendengarkan nak? Ibu benci sekali berteriak-teriak menjelaskan. Tolong sayangi ibu ya. Ya ampun kan :’)

Kuakhiri tulisan ke-24 dari 30haribercerita hari ini. Terima kasih sudah membaca ya. Terima kasih sudah sehat disana, dan melanjutkan aktifitas sebaik-baik usaha yang kalian bisa.

Comments

Popular Posts