Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
NILAI 40
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum wr wb…
Haloha teman? Kali ini kusuguhkan yang amat sangat ringan. Berbagi riwayat kesalahan. Begitulah hehe
Saat memeriksa PR Matematika murid-murid hari ini, ada salah
satu diantara mereka yang bersedih. Sebab dengan segala upaya yang telah
diusahakannya, ia mendapatkan nilai 40. Aku tau, dia sudah berusaha.
Berkaca kepada pengalamanku belasan tahun lampau saat sedih
mendapatkan nilai jelek, ayah menunjukkan rapor SD nya kepadaku. “wah, ayah juga
punya nilai merah. 2? 4?” Aku tidak jadi merasa begitu sedih. Sebab beliau
berkata “nilai 1 ini adalah tongkat bagi Ayah saat sudah tua, nilai 2 aku lupa
apa, nilai 3 adalah seperti pesawat yang membawa ayah ketika sudah bekerja,
nilai 4 adalah kursi jabatan yang pernah ayah duduki” Aku ingat persis momen
ini terjadi di teras belakang rumah. Dengan sarung dan singlet putih ciri khas
beliau.
Maka aku mengulang kembali perkataan ayah kepada muridku yang
bersedih tadi. “jangan sedih, ibu tau kamu sudah jujur. Tidak masalah, nilai 40
ini bisa jadi bekalmu menjadi orang yang duduk di kursi penting”, ungkapku
kepadanya. Kutambahkan lagi dihadapan murid-murid yang lain “anak-anak, nilai
itu merupakan kuantitas, kuantitas itu biasanya hanya tertera pada selembar
kertas. Namun yang ada pada diri kalian dan kalian bawa kemana-mana itu namanya
kualitas. Kalian sungguh-sungguh mengerjakan soal walau masih salah, itu wajar.
Ibu tidak marah karena kalian sudah mencoba. Tidak ada yang langsung begitu
sempurna, ibu pun menjadi guru juga tidak langsung sempurna dalam mengajar. Tidak
apa-apa, kita belajar bersama. Jangan sedih ya. Dari salah tersebut akhirnya
kita menjadi tau, dan kita memperbaikinya. Itulah kualitas yang ada pada kita. Tahu
dimana salahnya, tahu dimana memperbaikinya. Bukan hanya kuantitas ponten ibu
semata.” Hebat sekali pikirku nasehat yang kulancarkan. Yah padahal muridku
tidak tahu saja, aku, gurunya, juga sering sekali mendapat nilai jeblok dahulu.
Bahkan nilai nol juga pernah.
Apa kata ibuku saat aku membawa nilai nol kerumah? “ibu kira
kamu kenapa-kenapa dijalan makanya menangis tersedu-sedu pulang, ternyata dapat
nol. Tidak apa-apa, kita rebus saja nanti” aku yang berderai air mata, tidak
jadi sesenggukan lagi, justru berganti menjadi tawa. Ibuku juga lucu sekali
jawabannya.
Perkara nilai jelek tersebut masih berlanjut sampai aku ke
bangku kuliah. Semester pertama, yang awalnya begitu bersemangat menggebu-gebu
eh pas terima nilai langsung ada salah satu mata kuliah yang akunya mendapat nilai
D. mengetahui hal itu, aku tidak lagi banyak bicara. Melainkan langsung pulang
menuju kosan dan menutup gorden serta mengunci pintu kamar. Aku bersembunyi dan
menangis sendiri dibalik selimut. Setelah sedikit tenang, aku menelpon ibu di
kampung, “aku tidak mau lanjut kuliah lagi.” Lantas apa respon ibu diseberang? “tidak
apa-apa, kita masih bisa mengulanginya. Tidak ada yang marah atau menekan adek
dengan nilai jelek tersebut. Ibu tahu adek sudah berusaha.” Bersebab nasehat
tersebut, aku menjadi kebal saat kemudian kembali lagi mendapat 4 nilai D dan 6
nilai C. ya, tinggal diperbaiki. Apa pula yang harus kutangisi lagi kan? Maka jadilah
aku sebagai sosok yang kalau pun nilaiku jelek, atau kalaupun aku mempelajari
hal baru namun tidak sesempurna teman-temanku, ya sudah. Aku selow yang penting
aku sudah tahu rasanya mengerjakan hal tersebut.
Personalitiku kelihatannya seperti pintar, tapi ketahuilah
bahwasanya aku tidak sepintar yang dibayangkan. Aku pernah menabrakkan mobil
ayah ke beton samping pagar, tidak sengaja (kurang waspada) memasukkan air
kedalam salah satu colokan listrik saat sedang membersihkan dinding kamar mandi
hingga dari colokan tersebut mengeluarkan api dan otomatis mematikan arus listrik
diseluruh rumah. Kukira rumah hampir terbakar, sampai abangku berkata “apa adek
tidak belajar hukum fisika? Bahwasanya air dan listrik bisa jadi konslet”. Ya aku kan tidak sengaja hehe. Lantas
karena hal-hal tadi, apa aku berhenti menyetir saat memang sudah penting untuk
kukendarai? Tidak. Apa aku berhenti membersihkan dinding kamar mandi yang
berdekatan dengan colokan listrik mesin cuci? Tidak. Tapi karena hal itu, kesalahan-kesalahan
itu, yang kemudian aku jadi tahu kan harus bagaimana.
Begitu juga saat membuat buku, kau pikir aku tidak melakukan
kesalahan? Sebab masih banyak tiponyalah makanya tidak aku gembar-gemborkan
sekali. Cukup kukonsumsi sendiri dan beberapa orang saja ckck.
Jadi demikianlah teman. Tidak ada orang yang tidak berbuat
salah dan langsung begitu sempurna. Hal-hal seperti itulah yang ingin
kusalurkan pada murid-muridku. Ibu gurunya tidak marah karena mereka masih belum
sempurna mengerjakan Latihan/Pr. Tapi ibu gurunya kesal karena saat sedang
memberi penjelasan yah malah mereka sibuk bicara juga di tempat duduknya. Jadi kalau
kita sama-sama bicara, siapa yang akan mendengarkan nak? Ibu benci sekali berteriak-teriak
menjelaskan. Tolong sayangi ibu ya. Ya ampun kan :’)
Kuakhiri tulisan ke-24 dari 30haribercerita hari ini. Terima kasih sudah membaca ya. Terima kasih sudah sehat disana, dan melanjutkan aktifitas sebaik-baik usaha yang kalian bisa.
Comments