Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

KORA-KORA

 Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum wr, wb. Tulisan ke-14 dari 30haribercerita.

Aku mengantuk sekali, sungguh.

Aku pun berfikir, akan menulis tentang apa? Apakah tentang tadi saat menaiki kora-kora di pasar malam Krueng Geukueh bersama Rika dan Asyfi? Aku melihat banyak remaja disana, pergi bersama teman-temannya menikmati malam minggu. Di masaku saat seusia mereka, aku tidak punya kesempatan itu. Kesempatan menghabiskan malam minggu diluar rumah bersama teman. Ya, aku tidak punya. Di usiaku yang sekarang, dimana kepercayaan dan kedewasaan menyempurna, aku mulai mendapati kesempatan tersebut. Kau tahu? Aku justru senang sekarang sebab dulu saat remaja aku tidak keluar menghabiskan malam minggu bersama teman. Mungkin jika aku keluar disaat remaja, aku masih tabu dalam membedakan mana yang benar dan salah. Seperti saat kulihat mereka pergi duduk berdua diatas kora-kora dengan non mahramnya. Batinku menggema, tapi aku juga hanya manusia yang belum sempurna, masih juga berbuat dosa. Jadi saat melihat remaja tersebut, aku hanya diam. Ah tidak teman. Siapa bilang aku hanya diam? Kora-kora yang kami naiki, diayunkan sangat kencang. Bayangkan kami bertiga sengaja sejak awal sudah mengincar tempat duduk di ujung kora-kora. Memulai dengan bismillah amantu billah, wal hasil aku tidak sanggup menahan diri tidak berteriak “kenapa kencang sekali, pantatku sampai terangkat dari kursi. Seakan aku akan terbang”. Sungguh aku lelah mengenggam terlalu erat pegangan tangan didepan. Ya tuhan, kapan kora-kora ini akan berhenti. Aku kelelahan memosisikan tubuh agar tetap berada di kursi, dan dua temanku lelah tertawa sebab mendengar isi teriakanku. Sesekali kuberanikan diri juga untuk melihat pemandangan sekitar saat ayunan kora-kora menuju kearah atas. Wah berani juga diri ini, pikirku. Dan begitu ayunan kora-kora mulai memuncak, pantatku agak sedikit terangkat, dan aku mulai berteriak kembali. Aku tidak terlalu malu teman, sebab selalu menggunakan masker. Jadi siapa yang peduli, tidak ada yang mengenaliku kecuali dua orang temanku.

 

Selamat malam, sekian cerita ringan di hari ini. Wassalam…

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]

Comments

Alpha Woman said…
Udah dibaca berkali-kali tetap bikin masih bikin aku ketawa, dan tak terasa skrg sudah dipenghujung tahun, sementara saat menaiki kora-kora itu diawal tahun.
Hmmm
Alpha Woman said…
Kita naik kora-kora diawal tahun 2023, dan skrg udah dipenghujung tahun 2023.
Waktu baca ini, langsung keinget lg memori malam itu.
Betapa bahagianya kita bertiga waktu itu, hmm rindunya..
Akankah bisa seperti itu lagi?

We never know

Popular Posts