Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
KONSISTEN ADALAH KUNCI
Malam ini tulisanku lebih cepat selesai, sebab sudah ku cicil sebagian saat memaksa diri sesudah mengedit video tadi menjelang sore. Video tersebut sudah ku edit sejak hampir setahun lalu, namun sekarang belum juga ku selesaikan. Ya Allah, aku mohon bantu aku dalam pergerakanku dan niatku untuk menyelesaikannya. Padahal tidak panjang durasinya, hanya laleku saja yang membahana. Aku geram juga dengan diriku sendiri. Maafkan aku, wahai aku. Slowly but consistently, tapi ini kayaknya udah terlampau seloww banget deh. Ah daripada tidak sama sekali.
Bismillahirrahmanirrahim… Assalamu’alaikum Cinta, eits. Oke,
teman, atau murid-murid sekalian.
Minggu pertama 2023 sudah kita lalui. Sampai hari ini tulisan
ke-8 dari 30hari bercerita masih sedang amat sangat ku upayakan. Menjadi
istiqamah adalah sebuah anugerah, konsisten dan berkegiatan/melakukan perbuatan
sesuai dengan perkataan adalah hal special ternyata. Maka sungguh luar biasa
bagi teman-temanku yang mampu konsisten di kesehariannya. Pertanda, mereka
jujur dengan dirinya, lingkungannya, dan Amanah. Wew. Kenapa konsisten itu
special? Karena di tengah jalan, pasti ada saja gangguan yang menjadikan niat
awal terganggu. Hanya orang-orang yang keren saja yang mampu terus
melaksanakannya sampai selesai. Jadi memang tidak baik ternyata menyepelekan orang-orang
yang konsisten, menyelaraskan keinginan, ucapan, dan aksi, tidak mudah ya. Aku
salut sekali kepada kalian yang konsisten. Kalian keren sekali. Aku tulus
memuji. okeh
Menyelesaikan suatu episode tontonan, itu prestasi
Menyelesaikan membaca sebuah buku, itu prestasi
Menyelesaikan beres-beres di kamar, itu prestasi
Membuat ibu tersenyum/tertawa, itu prestasi
Berhasil menghkhatamkan Al-Qur’an, itu prestasi.
Berhasil menyelesaikan suatu masakan, itu prestasi.
Berhasil menanam dan merawat tanaman, itu prestasi.
Berhasil selama satu semester bangun pagi tanpa tidur lagi,
itu prestasi.
Berhasil Shalat lima waktu tepat waktu, itu prestasi.
Menuntaskan janji temu, itu prestasi.
Rajin mandi, itu prestasi
Teratur memakai skincare atau menghabiskan satu lipstick baru
kemudian membeli yang lain, itu prestasi.
Menabung untuk bisa membeli produk impian, itu prestasi.
Berdagang dan sabar dalam transaksi jual beli, itu prestasi.
Walau hanya sebutir batu, atau segorengan sosis. Itu prestasi
Menjaga hasrat dari yang tidak seharusnya, itu juga prestasi
Hal-hal sederhana yang berkelanjutan dan dituntaskan, itulah
sejatinya prestasi walau tidak dilihat oleh orang. Menulis seperti ini pun
merupakan prestasi, karena mengupayakan diri dan tenaga, walau bisa memilih
untuk selonyoran, namun tetap berusaha untuk konsisten dengan mengetik,
tantangan untuk diri sendiri dalam 30haribercerita. Apakah akan mampu aku
selesaikan? Ayo dong. Yuk bisa yuk (memotivasi diri sendiri)
Yang aku alami, jika aku melakukan sesuatu dan kemudian
mengepost agar dilihat orang, mendapat like banyak, komentar positif. Selepas
itu, apabila orang tidak melirikku lagi, atau like maupun komen yang kuterima
tidak banyak, maka aku akan berhenti melakukannya. Itulah maksud penyakitku
yang berupa panas-panas tahi ayam. Belajar dari demikian aku mulai mencoba
menata kembali apa yang ingin aku lakukan dan selesaikan meskipun tidak dilihat
orang atau dipuji orang. Aku menahan diriku (ya walau yang kulakukan juga tidak
wah wah sekali. Lagi pula sebenarnya orang lain juga tidak peduli, hanya
overthinking unfaedah saja ini)
Intinya dalam mindsetku “aku ingin melakukan sesuatu karena
memang inginku (factor internal), terlepas dari segala hal-hal diluar kendaliku
yang berkomentar, aku tidak terlalu peduli. Karena bisa mengganggu apa yang
sedang kukerjakan. Kecuali, jika yang kukerjakan itu sudah selesai, nah gapapa
tuh. Mau dikritik sebagaimanapun, yowes. Silakan. Yang penting sudah selesai,
mau bagus kek. Mau jelek kek. Pokoknya sudah terjadi. Dan berikutnya jika
memang akan aku lakukan kembali, ya pelan-pelan diperbaiki seiring evaluasi
dari yang telah dialami. (sok sekali aku menulis begini. Faktanya dalam
realisasi, aku juga kesusahan setengah mati mengendalikan diri) tolong mudahkan
hambamu ini ya Allah. Hehe…
Jadi maksudku, sebagai pengingat bagi diri sendiri utamanya,
apabila engkau melihat orang lain sedang melakukan sesuatu, jangan kau cemooh
dan sepelekan apa yang sedang mereka lakukan. Boleh jadi apa yang mereka
lakukan lebih mulia daripada ide besarmu, hebat memang, namun tidak ada
realisasinya (nasehat ini sebenarnya untuk diriku sendiri. Maap). Alangkah
lebih baik kau husnudhankan saja, atau kalau memang bisa, kau dukung ia. Kalau
memang tidak juga mampu kau dukung dia dengan materi, maka doakan kebaikan
baginya. Setidaknya jangan kau tambah caci kepadanya.
Jika kau mampu melihat cacatnya manusia selain dirimu,
seharusnya kau mampu pula membaca cacatnya dirimu terlebih dahulu. Dan jika kau
mampu menutup aib saudaramu, maka janji Tuhanmu, aibmu juga akan ditutupi. Jadi
ayolah, kita belajar konsisten kepada diri sendiri sehingga tahu cara
menghargai apa yang sedang diusahakan orang lain dalam kesehariannya. Boleh
jadi yang temanmu lakukan sekarang, jika ia tidak ada lagi, maka kamu pun belum
tentu bisa mengganti posisinya. Belajarlah menghargai diri sendiri, untuk mampu
menghargai orang lain. Belajarlah mengetahui waktumu, agar kau juga bisa
menghargai keberadaan orang lain yang telah menyisihkan waktunya untukmu. Aku
benar-benar sedang memarahi diriku sendiri dengan mengetik tulisan ini. ya
ampun, aku menyiapkan diriku sebelum habis-habisan dikritik ibu. Jadi ketika
pun ibu mengkritikku, maka aku sudah siap siaga dan paham poin nasehatnya. Ya
walaupun nanti terulang lagi. Konsisten adalah kuncinya wkwkwkkw. Ngakak
sendiri
Dan terkadang, jika ada sesuatu yang memang belum mampu untuk
kau selesaikan, maka tidak ada salahnya memberi ruang bagi dirimu untuk
menerima kekuranganmu di waktu yang belum mampu itu. Tidak masalah, akan ada
waktunya nanti, bahkan secara tidak kau sadari, kau sudah mengatasinya. Kau lebih
baik dari dirimu yang lalu. Semangat ya!
Comments