Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

CEMEUKAM

 Assalamu’alaikum, cinta. Maksudku, teman-teman…

Tulisan ke-21 dari 30haribercerita adalah tentang Ceumeukam.

Sekitar tiga hari belakangan lah ya, aku kesulitan menyempurnakan duduk tahyat akhir disebabkan jempol kaki kananku cemeukam. Pertanyannya adalah mengapa bisa terjadi cemeukam?

Cemeukamku terjadi dikarenakan posisi tumbuhnya kuku akibat tidak terpotong seperti biasanya. Aku yakin kalian tahu rasa sakit akibat cemeukam itu seperti apa, tapi syukurlah, siang kemarin daging tersebut membusuk dengan sendirinya, mengeluarkan nanah, dan sudah tidak sakit lagi. Cemeukamku mereda bersabar waktu.

Selama daging tersebut masih bengkak, aku tidak mengganggunya/mencongkelnya, ya tentu saja tidak. Wong daging lagi menderita kok direcoki macam-macam. Biarkan ia menyembuhkan dirinya dan mengeluarkan yang membuat dia kesakitan selama ini.

Kadang perasaan kalau sedang sakit-sakitnya, atau sedang terjangkit-jangkitnya juga memang harus dibiarkan saja terlebih dahulu, jangan diganggu dan direcoki, biarkan ia netral dan tereksfoliasi. Saat tenang, yang membusuk akan keluar, dan perasaan menjadi murni kembali. Asik, cemeukam dapat menjadi sebuah hikmah pelajaran.

Tentang cemeukam, hanya menjadi pengantar saja pada tulisan kali ini. Mari kita renungkan tentang apa yang sudah terjadi, kesempatan dan rezeki apa yang sudah kita nikmati. Apakah benar seseorang mendapati sesuatu karena ia gigih? Karena pintar? Boleh jadi. Atau karena kebetulan? Sebab saat beberapa momen pujian yang dikatakan “pintar” oleh orang-orang, sejatinya yang dirasakan adalah “kebetulan Allah menutupi aib diri, dan kebetulan momen yang sedang terjadi menjadikan diri seolah terlihat pintar. Padahal ya tidak tahu juga sebenarnya. Entah perkara apa lah itu.”

Hingga pada suatu kesempatan aku menyadari, dalam hakikat benar-benar sadar diri bukan sebatas sadar teori, “kebetulan” sekalipun itu ternyata “bukanlah kebetulan”, melainkan sudah scenario-Nya. Jadi sebagaimana insekyurnya kita, atau kadang kita merasa tidak pantas terhadap sesuatu rezeki karena mengira yang kita dapat itu “kebetulan” saja, ternyata adalah cara yang kurang tepat untuk memosisikan diri sebagai hamba yang rendah diri. Seharusnya ya berterima kasih saja. Tidak perlu sampai menganggap diri tidak layak/pantas hanya karena bersebab “kebetulan” semata.

Bangkitlah kamu! Yang kamu dapati, bahasa yang kamu utarakan, hal-hal kecil yang berhasil kamu lakukan dihadapan orang-orang, itu semua ternyata bukan kebetulan. Tapi sebab Allah telah mengizinkan hal-hal tersebut terjadi kepadamu. Dari sini semoga kamu mengerti, cemeukam juga bukanlah kebetulan, tapi memang sudah dijadwalkan bahwa sebenarnya ya pada 3 hari ini ditakdirkan cemeukam. Terlepas dari hal apapun yang menjadi penyebabnya.

Utang budi itu bukan dengan manusia, tapi dengan pengatur skenarionya. Jadi apapun kebaikan/keburukan yang terjadi, yang dulunya kamu anggap kebetulan, ternyata adalah ketentuan dari-Nya. Jadi kalau kamu merasa tidak enakan, maka tunjukanlah ketidak enakanmu itu seharusnya kepada Pemilik scenario. Berterima kasihlah ketika nikmat yang sedang didapat, atau meminta pertolonganlah saat sempit sedang dirasa. Dengan meyakini hal ini, dapat memudahkan kamu menerima, memaklumi kejadian-kejadian yang terjadi kepadamu dan sekitarmu.

Cemeukam sudah sembuh, perasaan juga sudah sembuh. Hati sudah kembali netral. Apa-apa yang terjadi semoga selalu dalam sikap yang tenang, sebab sebenar-benarnya sadar diri, bukan sebatas sadar teori.

Semoga kamu selalu dalam keberkahan-Nya. Wassalam :)

Comments

Popular Posts