Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
CEMEUKAM
Assalamu’alaikum, cinta. Maksudku, teman-teman…
Tulisan ke-21 dari
30haribercerita adalah tentang Ceumeukam.
Sekitar tiga hari belakangan lah
ya, aku kesulitan menyempurnakan duduk tahyat akhir disebabkan jempol kaki
kananku cemeukam. Pertanyannya adalah mengapa bisa terjadi cemeukam?
Cemeukamku terjadi dikarenakan
posisi tumbuhnya kuku akibat tidak terpotong seperti biasanya. Aku yakin kalian
tahu rasa sakit akibat cemeukam itu seperti apa, tapi syukurlah, siang kemarin
daging tersebut membusuk dengan sendirinya, mengeluarkan nanah, dan sudah tidak
sakit lagi. Cemeukamku mereda bersabar waktu.
Selama daging tersebut masih
bengkak, aku tidak mengganggunya/mencongkelnya, ya tentu saja tidak. Wong daging
lagi menderita kok direcoki macam-macam. Biarkan ia menyembuhkan dirinya dan
mengeluarkan yang membuat dia kesakitan selama ini.
Kadang perasaan kalau sedang
sakit-sakitnya, atau sedang terjangkit-jangkitnya juga memang harus dibiarkan saja
terlebih dahulu, jangan diganggu dan direcoki, biarkan ia netral dan
tereksfoliasi. Saat tenang, yang membusuk akan keluar, dan perasaan menjadi
murni kembali. Asik, cemeukam dapat menjadi sebuah hikmah pelajaran.
Tentang cemeukam, hanya menjadi
pengantar saja pada tulisan kali ini. Mari kita renungkan tentang apa yang
sudah terjadi, kesempatan dan rezeki apa yang sudah kita nikmati. Apakah benar seseorang
mendapati sesuatu karena ia gigih? Karena pintar? Boleh jadi. Atau karena
kebetulan? Sebab saat beberapa momen pujian yang dikatakan “pintar” oleh
orang-orang, sejatinya yang dirasakan adalah “kebetulan Allah menutupi aib
diri, dan kebetulan momen yang sedang terjadi menjadikan diri seolah terlihat
pintar. Padahal ya tidak tahu juga sebenarnya. Entah perkara apa lah itu.”
Hingga pada suatu kesempatan aku
menyadari, dalam hakikat benar-benar sadar diri bukan sebatas sadar teori, “kebetulan”
sekalipun itu ternyata “bukanlah kebetulan”, melainkan sudah scenario-Nya. Jadi
sebagaimana insekyurnya kita, atau kadang kita merasa tidak pantas terhadap
sesuatu rezeki karena mengira yang kita dapat itu “kebetulan” saja, ternyata
adalah cara yang kurang tepat untuk memosisikan diri sebagai hamba yang rendah
diri. Seharusnya ya berterima kasih saja. Tidak perlu sampai menganggap diri
tidak layak/pantas hanya karena bersebab “kebetulan” semata.
Bangkitlah kamu! Yang kamu
dapati, bahasa yang kamu utarakan, hal-hal kecil yang berhasil kamu lakukan
dihadapan orang-orang, itu semua ternyata bukan kebetulan. Tapi sebab Allah
telah mengizinkan hal-hal tersebut terjadi kepadamu. Dari sini semoga kamu
mengerti, cemeukam juga bukanlah kebetulan, tapi memang sudah dijadwalkan bahwa
sebenarnya ya pada 3 hari ini ditakdirkan cemeukam. Terlepas dari hal apapun
yang menjadi penyebabnya.
Utang budi itu bukan dengan
manusia, tapi dengan pengatur skenarionya. Jadi apapun kebaikan/keburukan yang
terjadi, yang dulunya kamu anggap kebetulan, ternyata adalah ketentuan dari-Nya.
Jadi kalau kamu merasa tidak enakan, maka tunjukanlah ketidak enakanmu itu
seharusnya kepada Pemilik scenario. Berterima kasihlah ketika nikmat yang sedang didapat, atau meminta pertolonganlah saat sempit sedang dirasa. Dengan meyakini hal ini,
dapat memudahkan kamu menerima, memaklumi kejadian-kejadian yang terjadi
kepadamu dan sekitarmu.
Cemeukam sudah sembuh, perasaan
juga sudah sembuh. Hati sudah kembali netral. Apa-apa yang terjadi semoga selalu
dalam sikap yang tenang, sebab sebenar-benarnya sadar diri, bukan sebatas sadar
teori.
Semoga kamu selalu dalam
keberkahan-Nya. Wassalam :)
- Get link
- X
- Other Apps
Comments