Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Langit dan Bumi
Assalamu’alaikum, taby… biarpun engkau sudah lama tidak membersamai tulisan-tulisanku disini, aku tetap mencintaimu dan berterima kasih kepadamu… Dawaiku yang sudah tiada, damailah tanpa sentuhanku dan keabadian namamu masih ku sapa dalam blog ini. Hehe..
Aku baik-baik saja disini,
tertawa dan menangis, mengoleksi dan mencoba keberagaman perasaan, melatih hati
dan jiwa. Meronta sejenak untuk kemudian tenang pada masa yang Panjang. Sambil
menunggu apa yang memang menjadi milikku, kapan datang, dan menerima apa yang
seharusnya kuterima, dengan ketakwaan dan rasa cukup yang menentramkan jiwa
kehausan nan gersang ini.
Semoga bahagiamu diridhai Yang
Maha Pemberi Bahagia.
Langit dan Bumi, dua objek yang
biasanya mengibaratkan keberlawanan sifat, ketidak cocokan, keterbalikan antara
satu dan dua. Yang pada haknya, kita lupa. Langit dan bumi disatukan oleh
semesta. Keduanya berada pada pembendaharaan dan terpelihara dalam cara kerja semesta,
bagian dari galaksi bima sakti, membentuk kesatuan yang menjadi atap dan alas
untuk planet yang sedang kita tinggali.
Bayangkan Bumi tanpa satu
diantara keduanya? Apakah bumi masih menjadi bumi? Apa cerita bagi cucu kita
nanti, sebuh planet tanpa langit? Sebuah planet tanpa alas untuk berpijak?
Dimensi tempat melayang dan terbang? Bahkan cinta juga memiliki pijakan pada
bumi hati dan membuat melayang harapan meninggi untuk bisa meyentuhmu secara
jasad dan naluri.
Seperti yin dan yang yang juga
saling mengisi energi, aku mengira mungkin begitu juga bagi langit dan bumi.
Langit dan Bumi bagiku adalah suatu
keterpaduan, saling menerima dan memberi, melengkapi dan mengisi. Dimana
manusia akan berpijak? Dan dimana awan, bulan, bintang akan bersemanyam menunjukkan
kebermanfaatan serta keindahan?
Bagaimana awan mampu menampung
hujan jika bumi tidak duluan menyediakan perairan? Bagaimana kehangatan Mentari
mampu menguapkan air bagi awan untuk kemudian diteduhkan kembali ke tanah
gersang melalui rahmat hujan? Langit dan bumi bukanlah suatu ketidak cocokan.
“Dan Allah-lah yang mengirimkan
angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka kami arahkan awan itu ke suatu
negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu kami hidupkan bumi setelah mati
(kering). Seperti itulah kebangkitan itu”. (Qs. Fatir: 9)
Kalau bukan Allah yang
menggerakkan awan ke suatu tempat yang tandus sejak lama, lalu siapa lagi yang
begitu berkuasa mengendalikan kita? Tidak ada. Hanya Dia. Maka siapa yang
menggerakkan hatimu padaku jika bukan Dia? Tidak ada. Hanya Dia.
“orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri, duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata), “ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(Qs. Ali ‘imran:191)
Jadi wahai diri, mengapa suka
mencari alasan dan berdalih dari takdir tupoksi Tuhan? Mengapa menghindar
ketakutan lari dari bacaan kenyataan? Masing-masing pada kadar kendali kejadian
sesuai takdir yang dikendaki-Nya. Oleh sebab itu, berserah dirilah pada-Nya,
dan berprasangka baik pada ketetapan-Nya. Aku yakin, semoga diri ini selalu
teduh tenang dan ceria. Musim-musim kan berganti, semua pada kadar masanya.
Tenanglah wahai diri… tersenyumlah engkau pada hari ini… aku bahagia padamu.
Dan aku besyukur untukmu… terima kasih padamu yang mau bergerak menujuku.
Apapun, atau siapapun itu.
Apakah langit begitu mulia sebab
letaknya yang tinggi? Dan bumi begitu hina sebab posisinya di tempat rendah?
Bukankah keduanya bisa sama-sama saling bersahaja? Membentuk suatu keterpaduan,
saling menerima dan memberi, melengkapi dan mengisi. Menunjukkan
kebermanfaatan, estetika alam, kedamaian dan kesejahteraan.
“Barangsiapa menghendaki
kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah
akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan
mengangkatnya.” (Qs. Fatir:10)
Jadi… Siapa kita sebenarnya?
Langit dan Bumi? Atau… yang mengisi diantara keduanya?
- Get link
- X
- Other Apps
Comments