Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Assalamu’alaikum, yaa ahlil kubur….

Betapa hari ini aku begitu ingin berterima kasih kepadamu

Menyanjungmu dengan sederet rindu dan pujian lumrahku untukmu

Hari ini aku melakukan perjalanan sederhana, begitu banyak manusia di jalan, tempat perbelanjaan begitu ramai, namun pandanganku tak ada yang mengenai sosokmu. Sampai akhirnya guratan ketikanku mulai menghias malam-malam kerinduan, kosa kata yang kupendam beruai berceceran.

            Sudah setahun lebih, Ayah. Dan aku begitu bersyukur atas kehadiranmu selama hidupku. Dan aku begitu berterima kasih pada untai kasih yang sudah engkau curahkan kepadaku. Aku menyayangimu dengan kadar saat engkau masih disisiku maupun saat engkau sedang jauh sementara dariku. Semoga Tuhanku Yang Maha Pengasih, Allah swt merahmatimu dengan beragam rahmat dan karunia-Nya, mengampunimu dan menjagamu disana.

         Doa-doa mulia ibu kerap kudengar pada malam-malam sepinya, dan dalam diam aku juga mengamininya. Seperti doa-doa saudara-saudariku, semoga Allah merahmati mereka dan mengantarkan kesejahteraan kepadamu disana.

            Beberapa waktu lalu, ayah. Ibu kesulitan membeli minyak untuk melanjutkan niat mulia yang pernah ia perjuangkan bersamamu. Qadarallah, akhirnya minyak makan mulai tersedia. Dan ia masih melakukannya seperti yang pernah ia lakukan ketika bersamamu. Kerap kali aku bertanya pada ibu, “apakah aku akan bisa melanjutkan seperti yang kalian lakukan?” dan ibu seperti biasa, responnya diawali senyuman dan beberapa ujaran kebaikan “kalau rajin dan berusaha, Insya Allah adek juga bisa”.

           Akhir-akhir ini, ayah. Tubuh ibu tidak baik-baik saja. Seolah penyangga sehatnya dulu, yaitu dirimu telah tiada, maka mulai melemahlah tubuhnya juga. Aku kira, ayah. Jika engkau tiada ibu akan lebih kuat dari sebelumnya karena tidak lagi mengurusmu. Ternyata tidak, ibu justru sering sakit. Mungkin sebab engkau sudah tidak membersamainya lagi.

     Di keramaian, aku kerap memuji pada Tuhanku. Ayahku begitu baik hatinya selama membesarkanku. Menurunkanku keberaniannya, dan kebijaksanaan dari cerita-cerita lampaunya.

            Menulis menjadi aktifitas yang tidak lagi rutin aku lakukan, ayah. Apakah itu sebab karena tidak ada lagi tempat tujuanku memamerkannya untuk engkau bacakan ya? Apa karena aku tidak bisa lagi mencari-carimu untuk aku lihat ekspresimu setelah membacanya? Selain engkau membawa serta kekuatan tubuh ibu, apa engkau juga membawa serta semangat menulisku, ayah? Tidak ayah, aku hanya menduga karena emosi yang tidak stabil semata. Maafkan bercandaanku yang tidak bisa engkau balas lagi, maafkan aku

           Kemarin aku juga berpergian, ayah. Aku berpamitan dari jauh sambil mentap pusaramu. Aku izin pergi, ayah. Dan betapa indah pula pemandangan yang kusaksikan disana. Lautan yang begitu safir membiru, jernih dan ikan-ikan berenang membersamaiku. Saat itu, lagi-lagi aku mengingatmu, ayah. Pada setiap hal yang membuatku takjub rasanya ingin kusalurkan juga ketakjubanku itu kepadamu. Hingga kerap kemudian aku tersadar, tidak lagi sebebas dulu jika ingin bercerita padamu. Aku berdoa kepada Tuhanku Yang Maha Mulia, semoga Ia hadirkan pula keindahan pemandangan yang kusaksikan agar engkau juga bisa memandangnya dari alam sana.

          Aku juga bertemu beberapa teman baru, ayah. Memberikan pandangan baru dan pelajaran bagiku. Sudah hampir lima ratus kata aku mengetik setelah sekian lama vakum, ayah. Semoga cinta dan sayangku mengalir kepadamu, semoga Allah hadirkan rasa senang dan sejahtera selalu dalam kuburmu, semoga tempat bernaungmu penuh cahaya dan lapang. Aku mencintaimu dan memanggil namamu dalam cintaku. Dan biarpun tulisan ini agak sedikit telat terurai, walau tanganku tidak lagi menyentuh kulit untuk menyalami tanganmu, aku ingin meminta maaf kepadamu atas segala khilafku. Selamat merayakan hari lebaran qurban juga disana, ayah. Semoga Allah mengumpulkanmu dengan kerabat-kerabat yang engkau cintai disana. Wassalamu’alaikum, yaa ahlil kubur…..

Comments

Popular Posts