Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
Assalamu’alaikum, yaa ahlil kubur….
Betapa hari ini aku begitu ingin berterima kasih kepadamu
Menyanjungmu dengan sederet rindu dan
pujian lumrahku untukmu
Hari ini aku melakukan perjalanan
sederhana, begitu banyak manusia di jalan, tempat perbelanjaan begitu ramai,
namun pandanganku tak ada yang mengenai sosokmu. Sampai akhirnya guratan
ketikanku mulai menghias malam-malam kerinduan, kosa kata yang kupendam beruai
berceceran.
Sudah setahun
lebih, Ayah. Dan aku begitu bersyukur atas kehadiranmu selama hidupku. Dan aku
begitu berterima kasih pada untai kasih yang sudah engkau curahkan kepadaku. Aku
menyayangimu dengan kadar saat engkau masih disisiku maupun saat engkau sedang
jauh sementara dariku. Semoga Tuhanku Yang Maha Pengasih, Allah swt merahmatimu
dengan beragam rahmat dan karunia-Nya, mengampunimu dan menjagamu disana.
Doa-doa
mulia ibu kerap kudengar pada malam-malam sepinya, dan dalam diam aku juga
mengamininya. Seperti doa-doa saudara-saudariku, semoga Allah merahmati mereka
dan mengantarkan kesejahteraan kepadamu disana.
Beberapa waktu
lalu, ayah. Ibu kesulitan membeli minyak untuk melanjutkan niat mulia yang
pernah ia perjuangkan bersamamu. Qadarallah, akhirnya minyak makan mulai
tersedia. Dan ia masih melakukannya seperti yang pernah ia lakukan ketika
bersamamu. Kerap kali aku bertanya pada ibu, “apakah aku akan bisa melanjutkan
seperti yang kalian lakukan?” dan ibu seperti biasa, responnya diawali senyuman
dan beberapa ujaran kebaikan “kalau rajin dan berusaha, Insya Allah adek juga
bisa”.
Akhir-akhir
ini, ayah. Tubuh ibu tidak baik-baik saja. Seolah penyangga sehatnya dulu,
yaitu dirimu telah tiada, maka mulai melemahlah tubuhnya juga. Aku kira, ayah. Jika
engkau tiada ibu akan lebih kuat dari sebelumnya karena tidak lagi mengurusmu. Ternyata
tidak, ibu justru sering sakit. Mungkin sebab engkau sudah tidak membersamainya
lagi.
Di keramaian,
aku kerap memuji pada Tuhanku. Ayahku begitu baik hatinya selama membesarkanku.
Menurunkanku keberaniannya, dan kebijaksanaan dari cerita-cerita lampaunya.
Menulis menjadi
aktifitas yang tidak lagi rutin aku lakukan, ayah. Apakah itu sebab karena
tidak ada lagi tempat tujuanku memamerkannya untuk engkau bacakan ya? Apa karena
aku tidak bisa lagi mencari-carimu untuk aku lihat ekspresimu setelah membacanya?
Selain engkau membawa serta kekuatan tubuh ibu, apa engkau juga membawa serta semangat
menulisku, ayah? Tidak ayah, aku hanya menduga karena emosi yang tidak stabil
semata. Maafkan bercandaanku yang tidak bisa engkau balas lagi, maafkan aku
Kemarin aku
juga berpergian, ayah. Aku berpamitan dari jauh sambil mentap pusaramu. Aku izin
pergi, ayah. Dan betapa indah pula pemandangan yang kusaksikan disana. Lautan yang
begitu safir membiru, jernih dan ikan-ikan berenang membersamaiku. Saat itu,
lagi-lagi aku mengingatmu, ayah. Pada setiap hal yang membuatku takjub rasanya
ingin kusalurkan juga ketakjubanku itu kepadamu. Hingga kerap kemudian aku
tersadar, tidak lagi sebebas dulu jika ingin bercerita padamu. Aku berdoa
kepada Tuhanku Yang Maha Mulia, semoga Ia hadirkan pula keindahan pemandangan
yang kusaksikan agar engkau juga bisa memandangnya dari alam sana.
Aku juga
bertemu beberapa teman baru, ayah. Memberikan pandangan baru dan pelajaran
bagiku. Sudah hampir lima ratus kata aku mengetik setelah sekian lama vakum,
ayah. Semoga cinta dan sayangku mengalir kepadamu, semoga Allah hadirkan rasa
senang dan sejahtera selalu dalam kuburmu, semoga tempat bernaungmu penuh
cahaya dan lapang. Aku mencintaimu dan memanggil namamu dalam cintaku. Dan biarpun
tulisan ini agak sedikit telat terurai, walau tanganku tidak lagi menyentuh
kulit untuk menyalami tanganmu, aku ingin meminta maaf kepadamu atas segala
khilafku. Selamat merayakan hari lebaran qurban juga disana, ayah. Semoga Allah
mengumpulkanmu dengan kerabat-kerabat yang engkau cintai disana. Wassalamu’alaikum,
yaa ahlil kubur…..
Comments