Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

TEMAN?

 

Bismillah,

Halo taby, Selamat tahun 2022.

Sekilas ada hal menarik yang aku baca dari sebuah postingan snap wa teman. Emma nama gadis usia 6 tahun itu, kalau tidak salah. Ia ditanya “apa itu cinta?” dan menjawab “cinta adalah saat aku kehilangan gigi seriku namun masih tetap berani tersenyum tanpa takut teman-teman akan pergi meninggalkanku”. Deep sekali. Dimana biarpun orang-orang sudah tahu kekuranganmu namun kamu masih tetap berusaha menampilkan versi terbaik dirimu tanpa takut ditinggalkan oleh orang-orang terdekat, orang-orang yang kamu sayang. Dan hal ini, dimana adanya? Dimana cinta seperti ini ada? Itulah keluarga. Itulah orang-orang yang tulus yang kamu jumpai dan jaga. Yang menerimamu.

 

Ada orang yang kalau jumpa sama kita, dia menganggapnya kita itu bukan teman, melainkan saingan. Jadi apa-apa yang dia lakukan seolah menunjukan dia lebih hebat dari kita. Ia mendekat karena hanya ingin membuktikan dia juga memiliki kemampuan yang sama seperti kita. Padahal kita ga pernah nuntut hal itu, ga pernah nuntut pembuktian kalau teman kita itu harus bisa segala-galanya, harus terlihat wah. kita hanya butuh teman, kita hanya butuh penerimaan, sama seperti kita ketika bisa menerima dia bukan karena hanya hebatnya saja. Tapi karena ia adalah manusia. Semoga teman juga bisa menerima kita. Bersebab demikian, kita tulus berkenalan dengan siapa saja, tulus memelihara hubungan baik, senang ketika berjumpa, bukan justru menghindar karena merasa bersalah dengan alasan tidak jelas.

 

Ada orang-orang yang meragukan kebaikan sebab dilingkungannya ia tidak pernah mendapatkan perlakuan ketulusan. Ia ragu dan selalu waspada. “ini manusia kalau baik banget, pasti ada sesuatu yang diincar”. Akhirnya, ia selalu mempertanyakan kebaikan seseorang, tidak percaya diri memberi umpan balik, sebab dimasa lampau ternyata ia juga pernah dikecewakan. Pernah dibaik-baiki untuk kemudian ditinggal kembali. Jadi sekarang, orang-orang seperti itu justru membangun pertahanan diri dan tidak semua orang bisa kembali menjadi begitu dekat dengannya. Prioritasnya ketika bersua sudah berbeda

 

Ada orang-orang yang juga ingin menampilkan sisi menawannya saja, ingin begitu terlihat wah agar bisa diterima ketika berteman. Karena ia takut tidak diakui dalam komunitas pertemanannya, ia takut dikucilkan jika tidak hebat. Ia memojokkan orang lain ketika merasa tersudutkan agar tidak disalahkan. Ia mulai mencoba mencerca lawan bicaranya agar terlihat benar. Orang-orang seperti ini jarang sekali meminta maaf karena merasa bersalah, mereka biasanya meminta maaf hanya didepan orang-orang yang tidak ingin mereka disalahpahami sebagai manusia jahat, bukan justru meminta maaf langsung kepada yang bersangkutan. Orang-orang seperti ini akan selalu mencoba menjadi pusat perhatian hingga akhirnya ia lelah dan kemudian juga menghindar sendiri.

 

Dan kita, berpotensi menjadi satu diantara sekian “jenis teman” di sudut pandang beda-beda. Ada orang yang akan melihat kita begitu baik, begitu perhatian, atau justru terkesan sombong, acuh tak acuh, terlihat egois, atau sangat loyal.

Aku tahu, semua orang pernah memiliki luka, tidak sempurna. Jadi cobalah engkau ingat, kalau ada orang yang masih tetap berbaik sangka padamu, boleh jadi karena mereka memang manusia-manusia baik yang sedang engkau temui. Lantas kamu tidak perlu malu untuk terlihat konyol bersama mereka, toh mereka tahu kamu tidak sempurna namun masih menerimamu, tidak menghardikmu atau menuntutmu untuk hal yang tidak kamu sukai. Yang justru seharusnya mereka menjauhimu, tapi lihatlah. Ternyata mereka masih menganggapmu ada sebagai teman.

 

Untuk diriku, terima kasih karena tidak meninggalkan diri sendiri. Terima kasih karena masih pandai memaafkan, meminta maaf, dan mengintropeksi diri. Semoga kamu dibersamakan dengan orang-orang yang tidak membuatmu takut untuk tersenyum karena sariawan, tidak membuatmu menutup diri hanya karena jerawat di dahi. Semoga kamu dikelilingi orang-orang yang kamu cintai, dan juga mencintaimu. Semoga kamu menjadi teman bagi pembacamu :)

Comments

Popular Posts