Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

DUA BUNGKUS INDOMIE

 

Bismillahirrahmanirrahiim…

Assalamu’alaikum, pie kabare? Apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah swt.

Sedang apa? Aku sedang makan dua bungkus indomie yang dimasak kuah dengan tambahan bawah putih yang banyak. Aku menyukai bawang putih, terutama malam ini. Bagaimana dengan kalian?

Bawang putih mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sudah almarhumah, ia begitu baik hatinya.

Selain itu, memasak mie juga mengingatkanku kepada Ayah. Tidak hanya mie, apapun kerandoman masakan yang kumasak, beliau selalu ikut mencicipinya, atau terkadang justru sengaja bolak-balik ke dapur melihatku. Tenang, aku tidak begitu pandai memasak. Ini bukan maksud ingin rendah diri dan tidak sombong, namun faktanya memang demikian. Untuk apa aku berbohong? Untuk apa aku ingin terlihat begitu sempurna? Aku manusia biasa.

Aku tidak bisa menulis sambil makan, apalagi sambil menonton. Susah. Aku tidak semulti-tasking perempuan pada umumnya. Maaf. Tapi percayalah, sekarang aku sedang mencoba makan sambil nonton plus sambil menulis.

Aku menonton vlog Jerome yang berkunjung ke rumah Erika. Aku bisa makan sambil menonton, namun tidak mungkin juga sambil mengetik. Aku bisa mengunyah sambil mengetik, namun susah fokus mengikuti alur video. Hebat sekali orang-orang yang bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Aku haus….

Mantap sekali, masih ada air kelapa muda yang kubeli tadi pagi. Mamak menyimpannya di kulkas. Ya, memang ini jatahku. Jadi tidak ada yang menyentuhnya.

Lantas, apa yang membawaku kembali mengetik disini?

Tadi pagi, kembali membuka blog ini, mencari pelipur yang pernah kutorehkan. Aku mencari tulisan “bekal dari Ayah” yang memuat 7 S.

Setelah membacanya, aku bersyukur sebab pernah menulisnya. Jadi ayah, aku tidak lupa. Toh juga, bekalmu sungguh ringan. Toh aku, tanpa membawa tas sekalipun aku dapat menentengnya kemana-mana.

Apa yang aku lakukan sebenarnya? Kemana aku telah melangkah? Dengan siapa aku berjumpa? Mengapa aku berbicara hari ini? Apakah aku lelah? Atau adakah yang sedang mencari perhatianku? Benarkah aku memang perduli terhadap sesuatu? Apakah aku hanya sedang melakukan pencitraan? Siapa yang sebenarnya begitu perduli?

Tulisanku… mengalir saja, apa adanya. Seadanya dan sesederhananya harapanku. Jadi, apa keinginanku yang sesungguhnya? Agh, kukatakan dalam benakku, aku ingin kembali bertemu denganmu. Aku ingin bahagia ditempat terbaik di sisi tuhanku. Sesederhana itulah. Atau jika mampu, aku ingin menghadiahkan niat tawafku mengelilingi kakbah untukmu. Apa mungkin nanti aku bisa memenuhi keinginan itu? Karena untuk membeli paket data saja, pas pasan rasanya.

Apa rencanaku untuk esok hari? Mungkin aku akan mulai beraktifitas saat siang. Atau haruskah aku keluar dari rumah pagi-pagi? Walau hanya sekedar ingin menyentuh permukaan pasir dan ombak laut yang mencicipi bibir pantai. Akankah aku melakukannya esok? Karena… hal itu semakin membuat luka rinduku membiru. Pantai bangka yang menjadi saksi bisu terhadap perubahan waktu, usia, senjaku, dan bahkan kehilanganku. Lagi dan lagi, aku terpuruk dalam kalut yang kuciptakan sendiri. Tidak berguna.

Mengutip salah satu tulisanku di tahun 2016, di secarik kertas post it yang ku sisipkan didalam Al-Qur’an pink harian. 5 tahun yang lalu, aku pernah mengalami kecewa terberat untuk pertama kalinya, kehilangan ambisi untuk melakukan sesuatu, aku merasa gagal, dan bodoh. Aku tidak lulus SBMPTN masa itu. Ya, anggaplah demikian, aku yang lebay seolah dunia akan berakhir hanya karena tidak lulus SBMPTN. Di secarik kertas hijau itu aku menulis “28 juni 2016, pengumuman SBMPTN. Jangan pernah berpura-pura. Apa adanya. Kalau baik, ya baik. Tidak suka ya tidak suka. Lebih bagus lagi kalau ternyata kita memang benar-benar baik.”

Tulisan tersebut hadir saat aku benar-benar ingin jujur terhadap keadaan, pilihan, dan penerimaan akan segala ketidak baikan maupun kebaikan yang telah terjadi kepada diriku di saat itu. Ya, kertas itu berdiam diri selama lima tahun didalam Al-Qur’an dan menjadi pengingat saat-saat waktu terpuruk. Jadi karena sedang haid, bagaimana aku membukanya sekarang? wkwk

Wahai diri ini, jujurlah kepada dirimu sendiri, kalau baik ya baik, kalau kamu senang ya akui, kalau suka ya suka, jangan bohong. Kalau sedih ya sedih, jangan bohong. Jangan pura-pura happy, sedih atau apapun itu untuk sekedar ‘mencari’ perhatian. Cukup apa adanya. Akan lebih bagus, kalau memang kamu benar-benar berusaha menjadi lebih baik, bersyukur, qanaah, dan kemudian benar-benar merasakan ketenangan jiwa, kebahagiaan didalam diri.

Aku harus mengakui, aku sedih. Ya, jadi kemudian apa?

Segala hal temporary. Fana. Kecuali sang Maha Pencipta, yakni Allah swt.

Bukankah manusiawi kalau kita bersedih? Benar. Toh kita hanya sekedar manusia, memiliki hati, air mata, dan rasa ingin dilindungi. Ingin dihibur meskipun tanpa mengemis hiburan, dan ingin dicintai meski tanpa harus berkata “tolong cintai/tolong sukai aku”.

Belakangan, dunia juga sedang tidak baik-baik saja. Lantas, mengapa aku harus terlihat begitu baik-baik saja? Narasi tulisan ini hadir karena aku ingin menyampaikan “keadaan sekitar sedang tidak baik-baik saja.”

berbaik sangka lah...

Baik, sekian tulisan kali ini. Apapun itu, setidaknya aku menulis malam ini. Terima kasih banyak yaa :)

Comments

Popular Posts