Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
DUA BUNGKUS INDOMIE
Bismillahirrahmanirrahiim…
Assalamu’alaikum, pie
kabare? Apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah swt.
Sedang apa? Aku sedang
makan dua bungkus indomie yang dimasak kuah dengan tambahan bawah putih yang
banyak. Aku menyukai bawang putih, terutama malam ini. Bagaimana dengan kalian?
Bawang putih
mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sudah almarhumah, ia begitu baik
hatinya.
Selain itu, memasak mie juga
mengingatkanku kepada Ayah. Tidak hanya mie, apapun kerandoman masakan yang
kumasak, beliau selalu ikut mencicipinya, atau terkadang justru sengaja
bolak-balik ke dapur melihatku. Tenang, aku tidak begitu pandai memasak. Ini bukan
maksud ingin rendah diri dan tidak sombong, namun faktanya memang demikian. Untuk
apa aku berbohong? Untuk apa aku ingin terlihat begitu sempurna? Aku manusia
biasa.
Aku tidak bisa menulis
sambil makan, apalagi sambil menonton. Susah. Aku tidak semulti-tasking
perempuan pada umumnya. Maaf. Tapi percayalah, sekarang aku sedang mencoba
makan sambil nonton plus sambil menulis.
Aku menonton vlog Jerome yang
berkunjung ke rumah Erika. Aku bisa makan sambil menonton, namun tidak mungkin
juga sambil mengetik. Aku bisa mengunyah sambil mengetik, namun susah fokus
mengikuti alur video. Hebat sekali orang-orang yang bisa mengerjakan banyak hal
dalam satu waktu. Aku haus….
Mantap sekali, masih ada
air kelapa muda yang kubeli tadi pagi. Mamak menyimpannya di kulkas. Ya, memang
ini jatahku. Jadi tidak ada yang menyentuhnya.
Lantas, apa yang
membawaku kembali mengetik disini?
Tadi pagi, kembali membuka
blog ini, mencari pelipur yang pernah kutorehkan. Aku mencari tulisan “bekal
dari Ayah” yang memuat 7 S.
Setelah membacanya, aku
bersyukur sebab pernah menulisnya. Jadi ayah, aku tidak lupa. Toh juga, bekalmu
sungguh ringan. Toh aku, tanpa membawa tas sekalipun aku dapat menentengnya
kemana-mana.
Apa yang aku lakukan
sebenarnya? Kemana aku telah melangkah? Dengan siapa aku berjumpa? Mengapa aku
berbicara hari ini? Apakah aku lelah? Atau adakah yang sedang mencari
perhatianku? Benarkah aku memang perduli terhadap sesuatu? Apakah aku hanya
sedang melakukan pencitraan? Siapa yang sebenarnya begitu perduli?
Tulisanku… mengalir saja,
apa adanya. Seadanya dan sesederhananya harapanku. Jadi, apa keinginanku yang
sesungguhnya? Agh, kukatakan dalam benakku, aku ingin kembali bertemu denganmu.
Aku ingin bahagia ditempat terbaik di sisi tuhanku. Sesederhana itulah. Atau jika
mampu, aku ingin menghadiahkan niat tawafku mengelilingi kakbah untukmu. Apa mungkin
nanti aku bisa memenuhi keinginan itu? Karena untuk membeli paket data saja,
pas pasan rasanya.
Apa rencanaku untuk esok
hari? Mungkin aku akan mulai beraktifitas saat siang. Atau haruskah aku keluar
dari rumah pagi-pagi? Walau hanya sekedar ingin menyentuh permukaan pasir dan
ombak laut yang mencicipi bibir pantai. Akankah aku melakukannya esok? Karena…
hal itu semakin membuat luka rinduku membiru. Pantai bangka yang menjadi saksi
bisu terhadap perubahan waktu, usia, senjaku, dan bahkan kehilanganku. Lagi dan
lagi, aku terpuruk dalam kalut yang kuciptakan sendiri. Tidak berguna.
Mengutip salah satu
tulisanku di tahun 2016, di secarik kertas post it yang ku sisipkan didalam
Al-Qur’an pink harian. 5 tahun yang lalu, aku pernah mengalami kecewa terberat
untuk pertama kalinya, kehilangan ambisi untuk melakukan sesuatu, aku merasa
gagal, dan bodoh. Aku tidak lulus SBMPTN masa itu. Ya, anggaplah demikian, aku
yang lebay seolah dunia akan berakhir hanya karena tidak lulus SBMPTN. Di
secarik kertas hijau itu aku menulis “28 juni 2016, pengumuman SBMPTN.
Jangan pernah berpura-pura. Apa adanya. Kalau baik, ya baik. Tidak suka ya
tidak suka. Lebih bagus lagi kalau ternyata kita memang benar-benar baik.”
Tulisan tersebut hadir
saat aku benar-benar ingin jujur terhadap keadaan, pilihan, dan penerimaan akan
segala ketidak baikan maupun kebaikan yang telah terjadi kepada diriku di saat
itu. Ya, kertas itu berdiam diri selama lima tahun didalam Al-Qur’an dan
menjadi pengingat saat-saat waktu terpuruk. Jadi karena sedang haid, bagaimana aku
membukanya sekarang? wkwk
Wahai diri ini, jujurlah
kepada dirimu sendiri, kalau baik ya baik, kalau kamu senang ya akui, kalau
suka ya suka, jangan bohong. Kalau sedih ya sedih, jangan bohong. Jangan
pura-pura happy, sedih atau apapun itu untuk sekedar ‘mencari’ perhatian. Cukup
apa adanya. Akan lebih bagus, kalau memang kamu benar-benar berusaha menjadi
lebih baik, bersyukur, qanaah, dan kemudian benar-benar merasakan ketenangan
jiwa, kebahagiaan didalam diri.
Aku harus mengakui, aku
sedih. Ya, jadi kemudian apa?
Segala hal temporary.
Fana. Kecuali sang Maha Pencipta, yakni Allah swt.
Bukankah manusiawi kalau
kita bersedih? Benar. Toh kita hanya sekedar manusia, memiliki hati, air mata,
dan rasa ingin dilindungi. Ingin dihibur meskipun tanpa mengemis hiburan, dan
ingin dicintai meski tanpa harus berkata “tolong cintai/tolong sukai aku”.
Belakangan, dunia juga sedang tidak baik-baik saja. Lantas, mengapa aku harus terlihat begitu baik-baik saja? Narasi tulisan ini hadir karena aku ingin menyampaikan “keadaan sekitar sedang tidak baik-baik saja.”
berbaik sangka lah...
Baik, sekian tulisan kali
ini. Apapun itu, setidaknya aku menulis malam ini. Terima kasih banyak yaa :)
Comments