بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Memiliki ketertarikan menulis merupakan salah
satu hal yang berharga bagi sebagian orang, termasuk aku. Ternyata menulis
bukanlah skill yang ingin diperjuangkan oleh kebanyakan orang. Menulis itu
butuh latihan, tidak semudah menegak secangkir air bagi yang tidak merasakan
perihnya tenggorokan. Apa sih
Seiring menyadari demikian, menulis bukan lagi
sekedar hobi, namun juga apresiasi bagi pribadi. Apapun kata dunia mengenai
tulisanmu, original sekalipun, walau ia menuduhmu menjiplak sesuatu, biarkan
saja. Toh seharusnya kamu mengetahui nilaimu sendiri. Kamu bahagia ketika
menyampaikan sesuatu. Adakalanya alphabet tidak pernah bertambah, tetap A-Z.
semua orang ketika menulis juga menggunakan A-Z.
Seseorang pernah mengatakan setiap ide pasti
memiliki empunya, setiap empunya boleh jadi memiliki ide yang serupa dengan
yang lainnya. Yang membedakan mereka adalah apakah mereka betindak menyalurkan
ide tersebut kedalam bentuk tindakan? Atau hanya sekedar angan-angan, penuh
perandai-andaian. Kadangkala, yang membuatku malas menulis adalah “ideku ada,
namun ketika ingin ku salurkan aku merasa tidak percaya diri, merasa enggan.
Apa yang sebenarnya ku khawatirkan?” ibuku berkata “itulah sekedar
angan-angan”.
Menulis itu seperti berbicara melalui ketikan.
Kalau dulu katanya “mulutmu harimaumu” maka sekarang menjadi “tulisanmu
harimaumu”. Sejak dulu, aku percaya tulisan yang diketik melalui hati akan
sampai ke hati. Baik cerpen, ocehan singkat caption maupun puisi, semoga selama
ini penyampaian tulisanku dapat dengan mudah dipahami, maksud dan tujuanku
dapat mudah dimengerti. Aku berharap siapapun yang membaca isi blogku biarpun
kita tidak pernah berjumpa, jarak memisahkan, semoga tulisan-tulisanku bisa
menjadi perantara agar kita tetap merasa dekat dan semakin mengenal.
Ada saat dimana aku menjadi
begitu kaku, tidak asik diajak berbicara atau hanya diam mendengarkan pendapat
orang-orang. Dilain waktu, boleh jadi akulah yang begitu banyak mengoceh berisik aneh-aneh wkwk.
Aku masih suka menulis puisi, namun mulai jarang
merekam suara untuk membacanya. Ada yang hambar kurasakan, entah gejolak rasa
sayangku yang memudar kepada sekitar, atau justru kepada diriku sendiri? Atau
seseorang yang pergi dan tak pernah mendengar lagi bacaan-bacaan parauku?”
Bacaanku tidak sesempurna para penyair handal di panggung sana. Aku menoreh
untuk mengurai derita. Lapak mainku tak se-hura kebanyakan manusia. Lapakku
mungil dan sepi. Sepiku sepoi-sepoi seringan angin musim semi.
Baiklah, berhubung sekarang aku sedang kurang
sehat, aku ingin menyampaikan sesuatu. Tentu saja, ini bukan wasiat.
Seorang ahli tafsir Al-Qur’an abad ke-21,
menteri wakaf dan mantan ahli hukum muslim Mesir yakni syaikh Asy-Sya’rawi
mengutarakan:
المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ
و العَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ
و صَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أنْوَاعِ الرِّزْقِ
و رِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ
Beliau membagi rezeki dalam beberapa tingkat.
Tingkatan rezeki yang paling rendah itu adalah harta, tingkatan rezeki yang
paling tinggi adalah kesehatan. Selama ini aku berdoa semoga dimudahkan
rezekiku secara materil. Setelah mendengar nasehat mengenai tingkatan rezeki
dalam sebuah video di ig, kemudian aku mulai meng-googling, kudapatilah bahwa
kalam demikian berasal dari seorang guru besar asal Mesir. Jadi ternyata selama
ini doaku kurang tepat. Kalau pun aku memiliki banyak harta, kemudian sakit,
hartaku juga akan habis kan untuk berobat? Kapan aku bisa hura-hura kalau
sakit? Seharusnya doaku yang paling urgent adalah “agar diberi kesehatan, kekuatan”.
Merenungi hal ini membuatku menertawakan kebodohan sendiri dengan doa dan
harapanku.
Tingkatan rezeki yang paling utama adalah
memiliki anak yang shalih, dan mendapatkan ridha Allah adalah tingkatan rezeki
yang sempurna. Kalau begitu, berarti urutan revisi doa berikutnya adalah
“meminta agar memperoleh ridha Allah dalam setiap aktifitas, kelak semoga
dianugerahi anak yang shalih dari bapak yang shalih (yang penting doa aja dulu
kan wkwk. Eh iya, dianugerahi anak-anak murid yang shalih juga termasuk kan? Aamin.), memperoleh kesehatan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan, dan
diberi kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian dengan harta yang halalan
thayyiban.
Dalam keadaan kurang sehat begini, aku juga
mendapati sebuah doa yang mulia, yakni doa nabi aiyub ketika ditimpa penyakit,
dalam Qs. Al-anbiya ayat 83.
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ
الرَّاحِمِينَ
yaa Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit
dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.
Dan bacaan berikutnya yang menyentuh batinku adalah
doa nabi Musa As dalam QS. Al-Qashas Ayat 24.
رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ
خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Ya tuhanku, sesungguhnya aku amat membutuhkan
setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku
Sekian tulisanku kali ini. Takut kepanjangan dan kalian bosan membaca, ku akhiri yaaa. Semoga semua dianugerahi rezeki berupa kesehatan yang berlimpah. Sampai jumpa di tulisan berikutnya :)
Eits. Ini bukan wasiat. Jangan macam-macam.
Wassalamu'alaikum....
Comments