Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Ayah Dulu Pernah Mengatakan
Ayah dan Puzzle Kehidupan
Assalamu’alaikum Taby, apa kabar? Nanti aku akan lebih banyak bercerita kembali.
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, Yang maha memulihkan kerinduan dan menjaga kecintaan. Yang menjaga kesucian dan kedamaian pikiran.
Tulisan ini ku persembahkan untuk ruh yang sudah tidak terlihat pada pandangan, dan untuk kelegaan uraian kerinduan, yang kedalamannya tidak terukur waktu.
Tulisan ini merupakan hasil perenungan di beberapa kesempatan, semoga memberi kelegaan bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca tersayang sekalian.
Ayah dulu pernah mengatakan, beliau tidak takut mati.“orang beriman seharusnya tidak takut mati”. Aku terpana mendengarnya, “ayah serius tidak takut?”
Perjumpaan mana lagi yang paling dirindukan oleh seorang hamba selain menghadap Rabbnya? Yang telah menciptakan dan memberikan rezeki selama ini kepada Ayah.
“umur ayah tidak lama lagi” katanya
“aku mohon, hiduplah seribu tahun lagi” balasku
Ia hanya tersenyum.
Ayah, aku sudah selesai kuliah, aku akan pulang.
Ayah, aku wisuda hari ini, tolong fotokan aku
Ayah, anak ayah tidak memakai toganya. Tidak apa-apa ya? Biarkan aku merayakannya disini bersamamu.
Ayah, biarkan aku membawamu ke laut hari ini. Matahari terbit disana indah sekali. Aku akan menunjukkannya kepadamu.
Pagi itu, setelah subuh ia memakai celananya, berwarna biru. Celana itu sudah lama tidak dikenakan, bahkan pinggangnya kedodoran.
“ayah, lihatlah… itu mataharinya. Cantik bukan?”
Ia kesusahan berjalan, memilih duduk pada satu batang pohon usang didekat pantai. Kemudian seseorang mendekat, ohh itu teman ayah. Kemudian beliau membantu memegang tangan ayah dan mengajaknya berjalan dipinggir pantai menyentuh ombak. Aku tertawa dibelakang ayah, ku lihat ayah selalu memegang pinggang celananya, mulai melorot.
“ayah, tidak apa-apa. Biar aku saja yang memegangnya” aku mengikuti gerak ayah kemanapun temannya mengajaknya berjalan, aku sibuk menahan celana ayah agar tidak melorot.
Ayah, aku mendapat tawaran untuk mengajar mengaji
Ayah, hari ini aku melamar kerja di beberapa tempat
Ayah, aku diterima di sekolah ini. Apa tidak apa-apa?
Ayah, murid di balai malam ini bandel sekali. Aku kewalahan. Badanku kecil, suaraku perih.
Ayah, malam ini hujan, jadi ku biarkan saja mereka bermain hujan
Ayah tertawa, kadang di sudut matanya ku jumpai sesuatu yang berkilauan.
Apa kau tahu? Dulu, saat aku pulang sendirian mengendarai sepeda motor, saat aku mulai merasa mengantuk di jalan, maka aku berteriak “Ayahh…Ayahhhh” kemudian aku kembali bersemangat dan terjaga, hingga akhirnya sampai di rumah. Menjumpaimu. Dan kemudian menghujamimu dengan beberapa pertanyaan konyol.
Sekarang aku di rumah, dan engkau di tempat yang baru. Nanti sambutlah aku ketika aku menyusulmu.
Seperti yang pernah engkau katakan “orang beriman, tidak seharusnya takut mati”. Kalimat itu membuatku berfikir, sampai kemarin malam, sampai tadi sore, bahkan detik ini.
Aku bingung bagaimana memulai tulisan ini, tapi kata orang “jika tak pernah mengutarakannya, ya kau akan terjebak di situ-situ saja.” Setidaknya dengan menulis ini aku semakin mengetahui letak kekurangan daya pikirku, atau teori-teori anehku. Aku mohon, tolong koreksi aku, dengan segala kebaikan yang terpatri dalam dirimu wahai pembacaku.
Aku hanyalah bidak catur dari tuhanku. Aku digiring ke dunia, mengalami berbagai macam hal. Dunia tempatku berada sekarang dikilaskan “senda gurau semata” tempat menabung (investasi akhirat). Apapun yang kukerjakan disini, akan dipertanggung jawabkan nanti di dunia berikutnya. Satu-satunya pintu menujunya adalah kematian. Dan dunia tempat Ayahku berada sekarang adalah “masa transisi” sebagai tempat menanti alam akhirat, penghakiman, dan reward sesungguhnya. Syurga dan menghadap Allah swt. Ya, beliau sudah tiada. Terlebih dahulu mengetuk pintu. Dan aku, masih disini, bersama kalian.
Aku merasa, kita (manusia) digiring kedalam beberapa fase kehidupan. Dimana setiap fase tersebut menentukan kebaikan maupun keburukan ke fase berikutnya.
Fase pertama di lauh mahfudh, Berkumpul dengan segala ruh dari berbagai macam ketentuan, jadwal takdir untuk akhirnya diizinkan lahir ke muka bumi. Kemudian menuju ke fase dunia Rahim ibu, membuat janji di sana, akan melakukan apa di bumi, berapa lama, dan lain sebagainya. Di fase tersebut, kita makan dan minum melalui tali pusar ibu, kita berenang disana. Apakah aku tahu bagaimana rasanya? Ya, aku sudah lupa. Aku lupa bagaimana berenang di Rahim dan lupa bagaimana cara merasakan makanan disaat itu. Jangankan di Rahim, aku lupa dengan takdirku di lauh mahfudh. Hingga akhirnya aku terlahir ke dunia, melakukan sesuai janjiku yang aku lupakan itu, mengejar takdirku, beribadah kepada Tuhanku, berbakti kepada ayah dan ibu, dan sebagainya. Di fase ini, aku diuji untuk belajar berserah diri. Segala hal telah ditentukan untukku. Aku hanya perlu bertaqwa, apabila aku mampu, lulus, maka pintu ke fase berikutnya akan dimudahkan, jalan kematian akan diperlancar, dan semoga tergolong sebagai salah satu hamba yang Husnul Khatimah. Aamiin
“apakah sesudah mati, aku nanti di alam barzah juga akan lupa mengenai fase dunia senda gurau yang sekarang? Sama seperti aku lupa mengenai keadaanku di fase Rahim dan lauh mahfudh?”
“apa yang sedang ayah lakukan disana? Apa beliau masih mengingatku?”
Aku rasa, iya. Beliau masih mengingatku. Atau jika pun tidak, wallahu’alam. Aku meyakini, setidaknya ia sedang ditemani oleh apa yang pernah dilakukannya di fase dunia. Sahabat-sahabatnya yang rupawan sedang menemaninya, mereka adalah “shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang shaleh”. Mungkin itu sebabnya ia tidak takut mati. Ia menyiapkan sahabat-sahabat yang akan menemaninya sejak dini di muka bumi. Eh, apakah iya demikian wahai ayahku?
Suatu malam, aku bertanya kepada saudaraku. “jika manusia mengakui mencintai Rabbnya, dan satu-satunya jalan ketika ia mencintai dan ingin menuju Rabbnya adalah kematian, lantas mengapa beberapa orang masih ada yang takut mati? Mengapa jawabannya tidak seperti jawaban ayah “orang beriman seharusnya tidak takut mati”, mengapa?”
Apakah saudaraku akan memberikan jawaban yang menenangkan jiwaku? Sama seperti jawaban dari setiap pertanyaan konyolku kepada Ayah dulu? Aku rasa, Ayah selalu berhasil menemukan jawaban-jawaban hebat. Tapi bagaimana dengan saudaraku?
“jika kau tidak pernah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menjelaskan, dimana lagi akan kau temukan jawaban? Coba dengarkan ia. Barangkali kau dapati obat ketenangan disana. Biarkan ia juga bisa memahamimu”.
Saudaraku mulai mengibaratkan dengan sebuah cerita “seorang mahasiswa mengambil data secara asal-asalan, tidak akurat, kemudian ia membuat skripsi dengan data tersebut. Saat sidang, si mahasiswa mulai berkeringat dingin, merinding, ketakutan. Pertanyannya adalah apakah si mahasiswa itu sebenarnya takut karena “sidang skripsinya” atau ia takut karena “ketahuan berbohong mengenai hasil data skripsinya?”
Aku menjawab kepada saudaraku, “jika aku di posisi si mahasiswa, maka aku tidak takut mengenai sidangnya. Yang ku takutkan justru karena ketahuan berbohongnya”.
Begitulah.
Kadang, hakikatnya orang-orang bukan takut mati, melainkan mereka takut ketahuan berbohong selama berada di bumi. Hanya orang-orang yang beriman, yang mempersiapkan dirinya selama hidup di dunia dengan baik, yang benar-benar merindukan Allah dan mengikuti Rasulullah, nah makanya mereka tidak takut mati.
Setidaknya jawaban dari saudaraku kala itu lumayan masuk akal. Membawaku ke pemahaman berikutnya mengenai maksud dari perkataan ayah dulu.
Di lain kesempatan, aku kembali merenungi beberapa hal. Seoalah pengetahuan yang ku dapatkan sejak kecil seperti potongan-potongan yang belum tersusun, berupa puzzle yang bentuknya (tujuannya) baru aku pahami setelah bertahun-tahun.
Dulu, aku bingung. Kenapa kita dipaksa harus menghafal nok-nok dalam kitab arab? Apa fungsinya? (saat itu tidak ada orang yang menjelaskan, atau Ketika dijelaskan pun, masih belum paham urgensinya dimana). Perlahan aku paham. Di kemudian hari aku baru sadar, bahwa ia berfungsi sebagai aturan peletakan baris Bahasa arab.
Saat salah seorang sahabatku meninggal, ayah menghiburku dengan mengatakan “jangan khawatir, ia akan menyambutmu saat adek datang ke fase alam berikutnya juga”
Hari ini, aku juga terhibur mengingat perkataan ayah dulu. Setidaknya, nanti akan ada ayah juga yang menyambutku.
Perkataan ayah seperti potongan puzzle bagiku. Mengajakku memahami keadaan seiring waktu. Dari situ, aku juga kembali berdamai dengan keadaan.
Setidaknya, jika hari ini aku sedang berada pada situasi yang tidak aku pahami, perasaan yang belum ku mengerti, maka aku akan menyerap mereka semua terlebih dahulu, kan ku simpan rapi. Biar pun belum ada yang menjelaskan tujuan kejadiannya, barang kali semua hal yang kurasakan hari ini merupakan potongan-potongan puzzle yang akan berjumpa dengan potongan puzzle lain di masa depanku nanti, yang kemudian aku mengerti. Yang kemudian aku merasa lebih berisi dan pandai menghargai. Oleh karena itu, bersyukurlah!
Orang-orang yang ku jumpai hari ini, boleh jadi akan ku mengerti sebab pertemuanku dengan mereka di masa depan nanti. Apakah akan memiliki arti? Atau sebagai potongan puzzle lain yang masih perlu ku lengkapi? Wallahualam.
wassalam :)
- Get link
- X
- Other Apps
Comments