Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Berdamai Dengan Kehilangan

 Hehe…. Assalamu’alaikum wr wb….

Ta’awuz

Basmaallah

Apa kabar taby?

Kembali kemari sama dengan mengembalikan apa yang sudah ku tinggalkan, pada waktu lampau.

Hehehe… sudah Maret 2021. Kau tahu apa taby? Aku mulai semakin kesulitan menunjukkan ekspresi ketakutan ataupun kesedihanku. Atau aku begitu pandai menyembunyikan sesuatu? Celakanya, air mataku begitu beku. Aku bahkan takut takut kepada diriku sendiri. Aku takut merasa dicintai dan kemudian ditinggal menghilang. Apa kau juga tidak bisa hidup kembali taby? Atau sahabatku? Tidak bisakah ia tersenyum kepadaku lagi? Ia terbujur kaku dan matanya tak terbuka lagi. Jadi taby, kau pun begitu? Tapi sudah lah, tidak mengapa. Aku sudah berdamai dengan yang tidak bisa aku kendalikan/control. Menyadari bahwa diri ini hanyalah seorang makhluk. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Kembali kemari berarti sama dengan menyembuhkan luka-lukaku, sama dengan berbagi kebodohanku kepadamu. Kembali menulis disini, berarti berbagi setengah isi maupun setengah kosong pikiranku. Selamat datang dan membaca.

Maka…. Kehilangan adalah judul besar bagi tahun lalu. Melepaskan adalah latihan yang menuntutku untuk tidak terlalu kuat menggenggam sesuatu.

Aku sudah menjadi seorang sarjana, orang-orang mulai bertanya “apa yang berikutnya akan aku lakukan?” aku bingung. Tapi biar lah, aku begitu bersyukur, dengan apapun itu. Aku hanya mengejar dan membawa pulang apa yang menjadi hakku, aku tidak ingin mengotori tanganku lasak karena menginginkan yang bukan milikku. Maka hatiku tenang setiap waktu. Sungguh. Aku benar-benar manaruh harap kepada Tuhanku, memintaNya menjaga apapun dan siapapun yang kusayangi. Hidup atau pun mati, dimanapun posisi, jagalah mereka dan jagalah aku yaa Ilahii Rabbii.

Hari ini aku ingin berbagi sesuatu, mungkin bagi beberapa orang ini terasa tabu, atau asing. Tapi sungguh, aku meginginkan, memiliki hati yang damai. Qalbun saliim. Aku berusaha meninggalkan apa yang mengeraskan hatiku, yang mengotorinya, yang dapat menjadikan penyakit padanya. Aku ingin menjadi manusia yang mampu menaklukkan hatiku sendiri. Yaa, walaupun aku paham. Allah lah yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengendalikan dan membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya. Tapi, sudah tugasku juga bukan untuk mawas diri dan tidak membiarkan hawa nafsu menguasaiku?

Aku sibuk melatih diri meninggalkan social media untuk sementara waktu. Melatih diri untuk duduk/tidur dibawah, menahan diri dari ocehan dan basa-basi yang tidak terlalu perlu, ya bercanda tetep dong wkwkwk. Aku manusia loh. Bukan yang gimana-gimana gitu juga kelles. Pffftt!

Di sela-sela tersebut, aku menggali diriku lebih jauh lagi. Bertanya, apa yang memang benar-benar aku sukai? Mengapa aku harus memperlakukan orang-orang demikian? Apa yang aku cari ketika keluar dari rumah? Mengapa aku begitu menyukai hal itu? Jujur terhadap diri sendiri. Tidak berpura-pura agar semua manusia perduli. Menjadi apa adanya, adalah caraku menghargai diri ini. Kadang, aku begitu keras kepala, acuh tak acuh, tak perduli, dan asal capluk. Kadang, aku begitu sensitive, perasa, iba, dan mudah tertawa. Lihat lah, bahkan aku juga merasa bingung dengan kepribadianku wkwk. Tapi ini luar biasa! Kau tahu apa? Dengan mengetahui apa yang diri kita mau, maka aku juga menyadari bahwa hubungan sosialku semakin baik, aku tahu bagaimana caranya bereaksi dengan lawan bicaraku, aku menjadi semakin peka dalam memperlakukan seseorang. Aku murni membangun ketertarikanku akan sesuatu guna memenuhi kedamaian hatiku. Dan wallahi. Ketika membangun Hablum Minannas karena mengarap ridha-Nya, maka apapun yang terjadi, aku berubah mulai menjadi manusia yang tidak mudah merasa kecewa atau marah-marah. Aku merasa semakin santuy dan sabar dalam menghadapi sesuatu. Eh? Apa iya maemunah? Ckckck. Tapi gimana dong. Aku masih juga kadang-kadang kesal dengan keponakan yang membawa keluar barangku dari kamar tanpa seizinku. yahh... anak-anak. hmm.... baiklah.

Tak ku pungkiri, aku manusia biasa. Wajar, adakalanya sesekali kesedihan menyusupiku. Tapi lihat lah taby, ada satu ayat yang begitu menghibur hatiku. Membacanya berkali-kali mendamaikan geram gelisahku. Aku bukan ahli tafsir. Tapi aku rasa, makna dari ayat ini cukup jelas jika diresapi oleh setiap individu.

Qs. Al-Jasiyah ayat 15.

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.”

Membaca ayat tersebut, membuatku menyadari. Apa-apa yang aku kerjakan, katakan, itu semua akan kembali kepada diriku. Boleh lah, contoh, aku membantu kedua orang tuaku. Toh sebenarnya ketika membantu orang tua, sejatinya aku sedang membantu diriku sendiri juga bukan? Medoakan teman-teman, sama dengan mendoakan diri sendiri juga bukan? Bahkan bergunjing sekalipun, ketika kita sedang membicarakan keburukan orang lain, maka secara tidak langsung sejatinya kita juga sedang menunjukkan sisi buruk kita sendiri ya? Apa-apa yang ditanam, itulah yang kita petik. Wallahualam.

Oleh karena itu, seharusnya tidak ada penyesalan ketika kita sudah melakukan kebaikan terhadap orang lain, meskipun orang tersebut tidak melakukan hal yang sama untuk kita. Ada Allah yang menilai, yang mengetahui, yang akan mengembalikan kebaikan kita dalam bentuk lain secara tidak disangka-sangka. Saat itulah latihan tabah dan wujud ikhlas kita semakin diasah. Semakin ikhlas, semakin besar rasa nikmat yang akan kita rasakan saat Allah hadiahkan kita dengan rahmat-Nya. Aaamiin. Jadi, jangan menyesal ya karena sudah berusaha berbuat baik dan tetap pada perintah-Nya! Justru takut lah karena terlalu sering berburuk sangka. Toh, ketika kita berburuk sangka sejatinya kita juga lah yang akan diburuk sangkakan oleh orang lain. Jadi kalau ada pilihan untuk ribet ke hal-hal baik, ya ngapain repotin diri buat ribet ke hal-hal buruk coba? Iya kan?

Nyerocos apa sih? Bodoamat deh ckckck

Ku tutup tulisan kali ini dengan salah satu postingan dari Instagram

“He has defined the meaning of Love, that is why she does not worry about the name written next to hers.

He has given her strength from trials she never thought she would overcome.

He has built the wings she carries when she asked Him to teach her how to fly.

He has gifted her the ability to trust in Him to take care of her life.

She prays to be closer to Him.

She prays for Him to guide her.

She relies on Him only, because she knows there is nobody in this world that can mend her heart.”

-Silent perception

Comments

Popular Posts