Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Berdamai Dengan Kehilangan
Hehe…. Assalamu’alaikum wr wb….
Ta’awuz
Basmaallah
Apa
kabar taby?
Kembali
kemari sama dengan mengembalikan apa yang sudah ku tinggalkan, pada waktu
lampau.
Hehehe…
sudah Maret 2021. Kau tahu apa taby? Aku mulai semakin kesulitan menunjukkan ekspresi
ketakutan ataupun kesedihanku. Atau aku begitu pandai menyembunyikan sesuatu? Celakanya,
air mataku begitu beku. Aku bahkan takut takut kepada diriku sendiri. Aku takut
merasa dicintai dan kemudian ditinggal menghilang. Apa kau juga tidak bisa
hidup kembali taby? Atau sahabatku? Tidak bisakah ia tersenyum kepadaku lagi?
Ia terbujur kaku dan matanya tak terbuka lagi. Jadi taby, kau pun begitu? Tapi sudah
lah, tidak mengapa. Aku sudah berdamai dengan yang tidak bisa aku kendalikan/control.
Menyadari bahwa diri ini hanyalah seorang makhluk. Laa haula walaa quwwata illa
billah.
Kembali
kemari berarti sama dengan menyembuhkan luka-lukaku, sama dengan berbagi
kebodohanku kepadamu. Kembali menulis disini, berarti berbagi setengah isi
maupun setengah kosong pikiranku. Selamat datang dan membaca.
Maka….
Kehilangan adalah judul besar bagi tahun lalu. Melepaskan adalah latihan yang
menuntutku untuk tidak terlalu kuat menggenggam sesuatu.
Aku
sudah menjadi seorang sarjana, orang-orang mulai bertanya “apa yang berikutnya
akan aku lakukan?” aku bingung. Tapi biar lah, aku begitu bersyukur, dengan
apapun itu. Aku hanya mengejar dan membawa pulang apa yang menjadi hakku, aku
tidak ingin mengotori tanganku lasak karena menginginkan yang bukan milikku. Maka
hatiku tenang setiap waktu. Sungguh. Aku benar-benar manaruh harap kepada
Tuhanku, memintaNya menjaga apapun dan siapapun yang kusayangi. Hidup atau pun
mati, dimanapun posisi, jagalah mereka dan jagalah aku yaa Ilahii Rabbii.
Hari
ini aku ingin berbagi sesuatu, mungkin bagi beberapa orang ini terasa tabu,
atau asing. Tapi sungguh, aku meginginkan, memiliki hati yang damai. Qalbun
saliim. Aku berusaha meninggalkan apa yang mengeraskan hatiku, yang
mengotorinya, yang dapat menjadikan penyakit padanya. Aku ingin menjadi manusia
yang mampu menaklukkan hatiku sendiri. Yaa, walaupun aku paham. Allah lah yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengendalikan dan membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya.
Tapi, sudah tugasku juga bukan untuk mawas diri dan tidak membiarkan hawa nafsu
menguasaiku?
Aku
sibuk melatih diri meninggalkan social media untuk sementara waktu. Melatih diri
untuk duduk/tidur dibawah, menahan diri dari ocehan dan basa-basi yang tidak
terlalu perlu, ya bercanda tetep dong wkwkwk. Aku manusia loh. Bukan yang
gimana-gimana gitu juga kelles. Pffftt!
Di
sela-sela tersebut, aku menggali diriku lebih jauh lagi. Bertanya, apa yang
memang benar-benar aku sukai? Mengapa aku harus memperlakukan orang-orang
demikian? Apa yang aku cari ketika keluar dari rumah? Mengapa aku begitu
menyukai hal itu? Jujur terhadap diri sendiri. Tidak berpura-pura agar semua
manusia perduli. Menjadi apa adanya, adalah caraku menghargai diri ini. Kadang,
aku begitu keras kepala, acuh tak acuh, tak perduli, dan asal capluk. Kadang,
aku begitu sensitive, perasa, iba, dan mudah tertawa. Lihat lah, bahkan aku
juga merasa bingung dengan kepribadianku wkwk. Tapi ini luar biasa! Kau tahu
apa? Dengan mengetahui apa yang diri kita mau, maka aku juga menyadari bahwa
hubungan sosialku semakin baik, aku tahu bagaimana caranya bereaksi dengan
lawan bicaraku, aku menjadi semakin peka dalam memperlakukan seseorang. Aku murni
membangun ketertarikanku akan sesuatu guna memenuhi kedamaian hatiku. Dan wallahi.
Ketika membangun Hablum Minannas karena mengarap ridha-Nya, maka apapun yang
terjadi, aku berubah mulai menjadi manusia yang tidak mudah merasa kecewa atau
marah-marah. Aku merasa semakin santuy dan sabar dalam menghadapi sesuatu. Eh? Apa
iya maemunah? Ckckck. Tapi gimana dong. Aku masih juga kadang-kadang kesal dengan keponakan yang membawa keluar barangku dari kamar tanpa seizinku. yahh... anak-anak. hmm.... baiklah.
Tak
ku pungkiri, aku manusia biasa. Wajar, adakalanya sesekali kesedihan
menyusupiku. Tapi lihat lah taby, ada satu ayat yang begitu menghibur hatiku. Membacanya
berkali-kali mendamaikan geram gelisahku. Aku bukan ahli tafsir. Tapi aku rasa,
makna dari ayat ini cukup jelas jika diresapi oleh setiap individu.
Qs.
Al-Jasiyah ayat 15.
“Barangsiapa
mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa
mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada
Tuhanmu kamu dikembalikan.”
Membaca
ayat tersebut, membuatku menyadari. Apa-apa yang aku kerjakan, katakan, itu
semua akan kembali kepada diriku. Boleh lah, contoh, aku membantu kedua orang
tuaku. Toh sebenarnya ketika membantu orang tua, sejatinya aku sedang membantu
diriku sendiri juga bukan? Medoakan teman-teman, sama dengan mendoakan diri
sendiri juga bukan? Bahkan bergunjing sekalipun, ketika kita sedang membicarakan
keburukan orang lain, maka secara tidak langsung sejatinya kita juga sedang menunjukkan
sisi buruk kita sendiri ya? Apa-apa yang ditanam, itulah yang kita petik. Wallahualam.
Oleh
karena itu, seharusnya tidak ada penyesalan ketika kita sudah melakukan
kebaikan terhadap orang lain, meskipun orang tersebut tidak melakukan hal yang
sama untuk kita. Ada Allah yang menilai, yang mengetahui, yang akan
mengembalikan kebaikan kita dalam bentuk lain secara tidak disangka-sangka. Saat
itulah latihan tabah dan wujud ikhlas kita semakin diasah. Semakin ikhlas,
semakin besar rasa nikmat yang akan kita rasakan saat Allah hadiahkan kita
dengan rahmat-Nya. Aaamiin. Jadi, jangan menyesal ya karena sudah berusaha berbuat
baik dan tetap pada perintah-Nya! Justru takut lah karena terlalu sering
berburuk sangka. Toh, ketika kita berburuk sangka sejatinya kita juga lah yang
akan diburuk sangkakan oleh orang lain. Jadi kalau ada pilihan untuk ribet ke
hal-hal baik, ya ngapain repotin diri buat ribet ke hal-hal buruk coba? Iya
kan?
Nyerocos
apa sih? Bodoamat deh ckckck
Ku
tutup tulisan kali ini dengan salah satu postingan dari Instagram
“He has defined the meaning of
Love, that is why she does not worry about the name written next to hers.
He has given her strength from
trials she never thought she would overcome.
He has built the wings she carries
when she asked Him to teach her how to fly.
He has gifted her the ability to
trust in Him to take care of her life.
She prays to be closer to Him.
She prays for Him to guide her.
She relies on Him only, because she
knows there is nobody in this world that can mend her heart.”
-Silent perception
- Get link
- X
- Other Apps
Comments