Search This Blog
Poem makes me happy. Writing is a reflection for me. Semua yang ada di blog ini adalah setengah isi setengah kosong dari pikiran. Correct me if I'm wrong :)
Featured
Apakah Karena Privilege???
Slamelekomm… aku iseng nyobain berapa kali mampu sit up
dalam satu menit wkwkk. Lumayan, bisa 20 kali. Suatu seni menghargai diri
sendiri ckck
Di salah satu momen, ada hal yang gak aku ngerti. Kenapa sih
dia gak sepahaman sama aku? Kenapa sih dia jawabnya lain? Cara dia ngomong kok
gitu? Cara dia respon sesuatu kok gak sama kayak aku? Cara dia bersikap ataupun
sudut pandang dia dalam menghadapi sesuatu kok gak sama sih? Apa aku atau dia
yang gak bener?
Well, kita ga bisa mengeneralisasikan semua orang harus
merespon sesuatu dengan respon yang sama seperti harapan kita. Baik. Aku terima. Bener.
Ada orang yang budeg na’udzubillah. Udah dinasehatin, dijelasin
tapi gak mau ngerti. Ada orang yang dianya langsung oke dan pengertian. Ada juga
model orang yang ngebantah, gak peka, dan egois.
Belakangan aku baru menyadari sesuatu. Ini ku sadari ketika memiliki pengalaman mengajar anak-anak di balai. Ya baru-baru ini lah, sekitar sebulanan. Ntah sampai kapan aku akan betah bertahan? Mari do’akan semoga aku istiqamah yaa. Jiwa guru macam apa yang sebenarnya ku miliki? Ya begitulah. Wallahualam. Santuy gaes. Songong.
Jadi begini. Kadang, apa yang kita baca belum tentu dibaca
sama orang lain
Apa yang kita tonton, belum tentu ditonton sama orang lain
(btw hari ini aku nontonin cerita home birthnya dena haura istrinya hawariyyun,
dance celebritynya IU, sama kembali searching kepoin home birth itu apa dan
gimana sih wkwkwk plus otw ngedrakor. Pengangguran yang berfaedah hahah)
Apa yang kita makan, belum tentu juga dimakan sama orang
lain
Dan kita sebagai manusia, terbentuk dari apa yang kita
konsumsi/baca/tonton. Dan itu merupakan bagian dari suatu privilege (memiliki hak istimewa). Allah ngasih kesempatan itu ke
manusia. Hak istimewa mengenai apa yang kita lakukan sehari-hari, takdir dengan
siapa ortu kita, lingkungan, pertemanan, termasuk pakaian kita dan sebagainya.
Jadi, coba renungi. Kita terbentuk menjadi jenis manusia dengan Privilege yang seperti apa? Dan yang paling penting, apakah kita sudah merasa bersyukur? yap. Poinnya Syukur dan Qanaah. Eh? Heheh
Oke. Lanjut. Jadi sewaktu kita berusaha berbagi/mengkomunikasikan sesuatu dengan cara pandang yang kita peroleh ke orang lain, itu kadang susah masuknya. Kenapa? Karena celah mereka untuk menangkap informasi yang kita sampaikan, ada yang belum didapet. Missing. Belum sampai cahaya kepada apa yang ingin kita cahayakan. Semacam masih ada sekat. Dan celakanya, mereka malu bertanya. Malu mengkomunikasikan apa yang tidak diketahuinya. Atau di kasus lain, ada yang langsung dapet, paham. Dan ini berlaku kepada sebagian orang yang dapet privilege dengan tujuan yang sama, atau kepada sebagian orang lagi yang memang mencari, ingin membersamai dan mau mendengar, berusaha memahami bahkan berani bertanya. Tjakepp.
Menyampaikan sesuatu kepada mereka, membahagiakan hati rasanya. Ada usaha
saling pengertian disana. Komunikasi timbal balik dalam menyampaikan informasi
juga lancar. Ntah iya gitu? wkwk
Privilege itu
adalah suatu karunia. Sekecil apapun itu. Mendengar, berusaha memahami, itu
termasuk bagian dari privilege yang gak semua orang ternyata punya sikap-sikap
demikian. I guess sih begitu yaa. Wallahualam, barangkali aku salah. Tapi ya,
heheh. Ini opiniku saja dulu.
Jadi, ehm. Lanjut lagi.
Tantangan bagi kita yang punya privilege itu adalah, ‘membuka
sekat dan memasukkan cahaya kepada mereka yang susah sekali diberi pengertiannya’ ntah analogi apa yang aku gunakan
kali ini :)
Atau, bahasa lainnya itu ‘mainnya kurang jauh’. Kenapa? Karena
bagi sebagian orang, belum dapat privilege seperti yang kita dapatkan. Maka wajar.
Cukup merasa tertantang rasanya jika akan menyampaikan sesuatu kepada siapapun. Was
was, apakah nanti mereka akan mengerti apa yang kita katakan? Apakah bahasa kita ketinggian saat menjelaskan? Apakah terkesan sombong dalam pandangan
orang-orang? Sungguh menggelisahkan hmmm.
Dah.
Btw ngomongin perkara cahaya, ada satu cerita yang menarik
perhatian. Yakni cerita Imam Syafi’i yang mengeluhkan lemahnya hafalan beliau
kepada gurunya. Hehehe.
Ayoo dong Kepo! Bahkan kepo pun termasuk salah satu keistimewaan. Jangan gosip doang yang dikepoin. Pfft
Capek nulis, selamat beristirahat. Semoga bahagia,
sejahtera, dan selalu dalam lindungan Allah swt :)
Aku juga tidak mengerti kali ini telah menulis apa. Lupain aja gapapa. Apa sih...
Comments