Bismillahirrahmaanirrahiim…
Assalamu’alaikum
wr wb gaes, lol.
Hay
taby? Apa kabar?
sudah
sebulan kita tidak berjumpa ya? Memang ada yang baca? Makacii. Untuk kamu.
Jadi
selama sebulan ini, aku sedang bertapa, kemudian keluar, kemudian berusaha
mencari suasana baru, berjumpa orang-orang baru, dan merasakan hal-hal baru.
Biasanya
aku hanya mempelajari teori mengenai “toleransi”, menghargai perebedaan tanpa
pernah berjumpa dengan perbedaan. sehinngga aku menjadi manusia yang gak ngeh
maksudnya menghargai perbedaan itu berarti aku harus bersikap seperti apa ya? Apa aku harus ikutan juga sama persis seperti mereka? Nope.
Ketika
kita bersama dengan orang-orang segolongan kita, maka kita hanya akan mampu
memahami sebatas golongan itu saja. Tidak dengan golongan lain. Seolah-olah
golongan lain itu salah, hanya pola pikir dan tindakan kita lah yang benar.
Ketika
kita terbiasa dengan orang-orang yang setuju dengan pendapat kita, memuji-muji
kita, maka boleh jadi itu merupakan racun. Keluar lah sebentar dari zona itu. Sebentar.
Dengan
makhluk-makhluk baru ini, aku mendapati bahwa seberapa jahatnya hatiku selama
ini. Sebarapa sok sucinya aku selama ini. Seberapa dangkalnya rasa sayangku
kepada saudara-saudaraku sendiri. Mengapa aku menjauhi yang seharusnya aku
dekati? Mengapa aku berburuk sangka sebelum bertanya yang sebenarnya dialami? Oleh
karena itu, disini level teori husnudhan juga ku tingkatkan kembali.
Dalam
sebulan ini aku juga sudah merasakan bagaimana mengenal dua kelompok berbeda
dalam satu waktu. Mengenal aktualisasi keegoisan ke level yang baru. Aktualisasi kepentingan
dan ingin dianggap oleh society. Aktualisasi kesalahpahaman dan rasa gengsi.
Karena
beberapa hal, aku juga kembali mencari eksistensi dan kemampuanku. Sebenarnya semua
yang aku kerjakan, aku lakukan karena apa? Orientasinya apa? Go back to the right
way kan? Okay. Good.
Lihatlah…
Ada
berapa banyak warna dominan dalam pribadi? Ya. Kita semua memiliki warna
dominan masing-masing. Prinsip.
Lihat
lah ketika aku menyelam kedalam lautan berwarna jingga. Apakah warna hitamku
akan berubah menjadi jingga semuanya? Aku tidak mau menjadi jingga secara
keseluruhan. Biarkan hitamku tetap mendominan dengan prinsip keukeuh yang ku
pegang. Biar lah aku mengambil beberapa jingga untuk disematkan dalam pikiran.
Yaitu jingga-jingga kebaikan.
Hei?
Warna hitam juga bukan berarti keburukan kan? Please lah yaw. Gelap itu elegan.
wkwkwk
Ketika
aku mencapai level memahami seseorang, menghargainya, maka bukan berarti aku
akan jatuh kepadanya.
Ketika
aku tenggelam dalam lingkungannya, maka bukan berarti aku mati dan mengikuti
apa saja yang sesuai dengan lingkungan itu.
Kadang,
aku juga belajar mengeraskan hatiku
Agar
aku tahu, bagaimana berada diposisi sebagai manusia yang keras hatinya?
Hina
sekali aku saat menyadari betapa sabarnya hati dalam mengolah racun kehidupan.
Lantas
jika aku mampu mengobati hatiku dan percaya akan sesama saudara seimanku,
mengapa aku harus menjauh dari mereka? Bukankah seharusnya aku yang mendekati
mereka?
Belakangan aku juga baru mengetahui bahwa aspek aktualisasi ibadahnya seseorang itu berbeda-beda. Ada yang
sudah sempurna secara lahiriah, ada juga yang secara batiniyyah. Aspek sosial, hablum minannas juga termasuk.
Oleh
karena itu, ku ingatkan kembali diri ini. Lahiriyahnya seseorang itu dipandang
keji, namun siapa tahu bathiniyyahnya begitu suci? Begitu pula sebaliknya.
Siapa yang bisa menyangka fulanah yang rajin bersosialisasi justru memperoleh keberkahan yang lebih ketimbang fulanah yang bertapa dan mengasingkan diri seperti diriku ini?
Lihat
lah aku dengan kesombongan selama ini.
Betapa
penuh berkahnya mereka yang mengasihi seluruh penghuni bumi ketimbang yang
merasa bersih dan kemudian memalingkan wajah menjauhi diri, tidak lagi
tersenyum, mengutuk mereka seagai orang-orang yang penuh dosa.
Jadi,
kita adalah sebagai hamba. Kemudian mereka juga tercipta sebagai hamba. Jadi siapa
kita yang berhak mengutuk sesama hamba?
Faghfirlana
yaa rabbi.
Ku selami kembali, makna menghargai tanpa tenggelam terlalu dalam. aku tetap kembali pada karakter dan jati diri. Pertahanan hati dan aturan sejati. Terima kasih kepada penghuni bumi yang sudah menerima kehadiranku. eakkk. lebay assoyy. :'v
Sampai
jumpa oktober. Terima kasih atas pelajaran bulan ini. Sampai jumpa di tulisan
berikutnya yaa!
“aku
ingin hidup damai dan menyemai cinta kepada semuanya”
oh tertanda dari aku yang lebay dan alay :p
Comments