Bismillahirrahmaanirrahiim. Segala puji bagi Allah
yang masih menganugerahkan nafas dan kesempatan memohon ampunan bagi kita
semua. Alhamdulillah.
Hai taby? Apa kabar? Maaf belakangan memang bener-bener
jarang banget aku menulis lagi disni. Seperti biasa, aku masih saja bergulat
dengan diri sendiri, melawan batin, nafsu, dan godaan. Entah mengapa, aku
selalu dapat dikalahkan oleh sisi jahat yang ada pada diriku. Tidak jarang aku
kesal dengan diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri
untuk melakukan kebaikan yang sudah memang benar-benar jelas ganjarannya? Mengapa
tubuhku condong kepada kelalaian? Hatiku berperang dengan perbuatanku. Aku merasa
kalah dengan diriku. Aku merasa tidak berdaya.
Suatu waktu, aku berfikir mengenai orang-orang
disekitar, baik yang sudah lama aku kenal, maupun orang-orang yang baru saja aku ketahui
namanya. Yaa, aku tahu dan berusaha mengerti bahwa setiap individu dihadapkan
dengan cobaan bagi setiap diri. Kadang aku merasa kadar cobaanku begitu
simple dibadingkan dengan orang lain, tapi mengapa aku masih saja tidak bisa mengendalikan
diri sendiri? Aku tetap saja kalah melawan perbuatanku yang lalai?
Ada orang yang dihadapkan dengan ujian diluar
dirinya, ada yang dihadapkan dengan konflik terhadap dirinya. Untuk contoh yang
sedang dihadapkan dengan konflik pribadi dalam diri, maka itu adalah aku. Suka sekali
menunda-nunda tugas, atau menganggap enteng sesuatu yang padahal belum tentu
mampu aku kerjakan, atau susah istiqamah sesudah memulai. Aku kalah karena
sering tidak menyelesaikan dengan sungguh-sungguh apa yang sudah aku mulai. Maka
inilah aku dengan kekurangan sikap dan lalai tegas terhadap diri sendiri.
Kadang, aku heran dengan beberapa teman yang
kelakuannya buruk tapi kenapa dia selalu saja mendapat kemudahan dalam
melakukan dan menyelesaikan sesuatu? Sedangkan aku? Aku tidak melakukan
keburukan seperti yang mereka kerjakan tapi mengapa tidak ada hal yang patut
aku banggakan? (mungkin secara visual kita terlihat tidak mengalami kegundahan
dan kekurangan, namun hakikinya yang merasa dirinya lengkap dan kurang hanyalah
pribadi itu sendiri dan Allah swt. Maka benar ungkapan yang sering aku dengar,
bahwasanya sebenar-benarnya jati diri dan karakter adalah saat kita sedang
sendirian dan tidak ada orang yang melihat kita. Apakah disaat sendiri itu kita
melakukan kesia-siaan? Atau justru memperbayak kebaikan? Allahu Akbar).
Ternyata, teman-teman yang kelakuannya buruk itu
disisi lain memiliki hal yang kadar kebaikannya lebih berkah dibanding kebenaran
yang kita kira bahwasanya kita sudah hebat dengan kebenaran tersebut. Nah apakah itu? Aku
memperhatikan teman-temanku tersebut tidak pernah berusaha mencampuri dan
berburuk sangka terhadap orang lain. Karena mereka sendiri menyadari akan
keburukan yang sebenarnya mereka lakukan sehingga mereka tidak merasa seolah-olah
begitu suci dan berhak menghakimi orang lain. Teman-temanku tidak mengghibahi
keburukan orang lain didepan orang lain, tetap tawadhu’ dan justru merutuki
diri dan berbenah dibandingkan sibuk menambah keburukan dengan keburukan.
Aku takjub dengan mereka. Oleh karena itu aku mulai
sering bertanya “memangnya aku siapa?” oleh karena itu aku juga mengapresiasi
mereka. Semoga kita selalu dimudahkan dalam keadaan berbenah, memohon ampunan
kepada Allah akan setiap detik yang terlalaikan. Faghfirlana yaa Allah. Aamiin.
Next ditulisan berikutnya aku mau curhat dengan
sensitifitas yang aku rasakan terhadap interaksi dari laki-laki. Dimana aku
tidak menyukai suatu sikap yang mungkin mereka gak sadar ketika melakukan hal
itu. Biarpun secara verbal.
Hehehe, makasih kalau udah sempetin mampir baca
tulisan random disini. Semoga ada sesuatu yang bisa diambil. Gak ada kueh
disini. Ngarepp !
Comments