Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaaaatuh !
Apa
kabar jiwa-jiwa jomblo sejak embrio? Jiwa-jiwa yang menjaga diri dari racun
hati, jiwa-jiwa yang tetap sabar mengenai ketetapan ilahi. Jiwa-jiwa yang
percaya penuh dan menyerahkan diri kepadaNya. Jiwa-jiwa yang berusaha tetap pada koridor.
Well,
mungkin sudah saatnya aku ngomong mengenai perihal ini. Perihal topik yang aku
anggap lumayan sensitif dalam pemikiran untuk ku utarakan. Ini topik yang
beberapa orang menganggapnya tabu dan mengelehkan. Tapi bagiku, ini menjadi
pertimbangan. Aku harus mulai terbuka. okay.
Yah,
sebenarnya aku adalah salah satu penghuni bumi yang amat sensistif dalam
berinteraksi dengan lawan jenis. Terbilang pemalu, walaupun orang-orang melihatku
santai-santai saja dan keren dalam membangun komunikasi dengan lawan jenis. (Alah mak. sok kali pula anakmu)
Nope.
It takes a long time for me for making interaction with the guy. Buat kalian
yang gak tahu sejarah perkembangan hubungan kemanusiaanku, sebenarnya aku
berani ngomong lancar dan gak terlalu gaggap sama lawan jenis itu dimulai sejak
kuliah. Kudet banget ya? Wkwkwk. Ember. Kalau di medsos aku biasanya bisa
nimbrung sok gahool gak jelas pas chattingan, tapi beda banget kalau in real
life. (maapkan kekuranganku wahai diriku)
Bukan
Cuma itu aja, aku juga sensitive sama cara lawan bicara ketika mereka kasih
respon terhadapku. Terutama dari cowo. kalau cewe yahh palingan aku anggap biasa-biasa aje.
Entah
kenapa, aku amat sangat merasa terhina, seola-olah dilecehkan, biar pun hanya
via verbal ketika cowo bilang gabungan kata-kata kayak “hai sayang” “kamu imut deh” “kamu manis” dan
sebagainya.
I
don’t know. Maybe for several girls, they would be so happy sampe senyam senyum
sendiri karena dikatain imut lah, manis, sayang, dan sebagainya. Tapi berkebalikan
banget sama aku. Aku kalau dikatain begitu, justru bisa tiba-tiba stuck with my
self, merasa dilecehkan, merasa dianggap rendah, segampang itu cowo bisa bilang
begituan ke aku, aku merasa harga diriku rusak. In the end, aku kadang bisa
sampe nangis sendirian mojok dikamar. menyalahkan diriku sendiri. (ini kelainan gak sih?)
Maap yaa. Lebay. But however, it was me. seorang gadis yang tidak suka digombali oleh sembarangan cowo. apalagi yang belum siapa-siapa. emang elu siape?
Beda
banget kalau misalkan ayah atau abang kandung yang bilang begituan, justru aku
merasa terpuji. Tapi kalau sembarang cowo bisa bilang hal-hal yang kayak tadi semudah itu,
justru beda ceritanya. Aku merasa begitu rendahan. Nah, mulai deh. Aku merasa
terganggu, ansos untuk beberapa waktu.
Sebenernya
aku suka bnaget menjalin komunikasi sama semua jenis makhluk pribumi. Tapi kalau untuk
tipe pribumi yang lancang sembarangan dan gak beradap, wajar kalau aku block. Dilain
sisi aku merasa bersalah karena memutus silaturahmi, sedangkan aku sendiri juga
merasa dizalimi. Oleh karena itu yaa Allah, aku mencintai makhlukMu, dan aku
juga menjaga diriku dari kezaliman bahasa dan tatakrama makhlukMu. Maafkan aku
yaa Allah karena egois sebentar terhadap diriku. (ceileh, yang baca pasti mikir aku lebay atau aneh banget. But let it be, walaupun
ini terkesan sepele bagi beberapa orang, tapi ini justru menjadi sesuatu yang
valid untuk aku pertimbangkan dengan siapa aku harus keep communicating).
Well,
bukan berarti aku merasa begitu suci. Nope. It was not like that. It’s about
privacy. It’s about kesopanan, bkan sopan sopian (itu nama orang -.-). It’s about seberapa beradapnya kamu pas ngomong
sama cewe? Toh ibumu juga cewe kan? Ada aturannya kan? gak bisa asal ceplos sembarangan fergusooooooo !
Jujur
aja nih yaa, aku juga sering bercanda sama senior maupun junior dari berbagai kalangan,
aku juga suka ngeyel. But I know, aku punya batasan dalam interaksi. Batasan
buat ngeluarin kata-kata yang bagaimana dan gak membuat mereka justru menjauh. I
hope.
Okay,
next case. Seberapa lebaynya kamu sampai-sampai membuat orang lain merasa
ilfil? Geli sama kamu?
Yeahhh.
Sepuitis-puitisnya gueh nih yeeee. Gueh dalam kehidupan juga gak semenyedihkan
metafora bahasa sehingga membuat orang lain yang baca dan denger juga geli dalam dunia nyata.
Yahh.
Aku puitis, tapi keseharianku tetep berlangsung realistis. Tulisan-tulisanku
juga ku usahakan terbaca agar terkesan manis, namun jangan sampai meninggalkan
noda keilfilan padanya. semoga yang baca paham yaa rabb 😭
Kalau
ngomong dalam bahasa sehari-hari nih yeee. Ya biasa-biasa aje kelles. Kagak usah
alay lebay. Ayam aja juga gak sampe ngerusak harkat martabat dirinya didalam interaksi. Nah elu? Siape? Agh. Lupa. Ayam kagak bisa ngegombal. Makanya aku suka Ayam wkwkwkwk.
Ditulisan
kali ini mungkin rada-rada nge gas kali ya? Maaf yaa. Bhueheheh. Selamat beraktifitas
dan beristirahat deh ! see u dengan kepribadian yang lebih baik lagi untuk kita
semuaa. Terutama kepribadianku 😥
Maksih
udah baca, mohon maaf lahir dan batin ^^ sayang kalian banyak-banyak secara tidak membabi buta 🤗👊🏽
Comments
����