Bismillahirrahmaanirrahim. Assalamu’alaikum gaess
apa kabar? Yeay! Welcome july! Dimana bagi aku pribadi, yaaaaa... Apaan sii? Entah
deh.
Well, july Justru makin ribet sayyy (for me). Tugas melintir,
final kejar tayang. Amboi. Sejujurnya sekarang aku tu seharusnya bukan ngetik
beginian. Tapi nyalin resume jurnal untuk dikumpulkan besok. Bomat dah.
Okay, karena aku udah lambatin ngerjain tugas demi
ini (I mean, melarikan diri dari tugas dan mengkambing hitamkan untuk nulis
sesuatu di blog), jadi setidaknya isi tulisanku kali ini bisa lebih sempro
faedahnya. Terutama untuk diriku sendiri. I hope sih begituh.
Btw, tulisan berikut ini cuman persepsiku sajo yoo. Ini
pendapat ambo sajo. Kalau ada yang salah, monggo dikoreksi. Kolom komentar terbuka
untuk readers sekalian. Ohhiya, aku suka sama orang yang suka membaca dan open
minded bisa ngasih sesuatu yang baru sehingga membuat aku terkagum-kagum. Untuk
tipe manusia yang seperti itu, I wanna say I love you. Assseek wkwkwk.
Tahu gak sih? Buat aku pribadi, ibadah itu kayak
investasi emas. Atau investasi berupa saham, mungkin? Ditanam sekarang, untuk dipetik
keuntungannya dimasa depan. Tapi buatku kali ini, anggap aja kayak investasi
emas.
Pernah lihat gak? Orang beli emas, tapi bukan untuk
dipamerin ke orang banyak? Gak riya. Yaa, dia beli emas untuk dipakai karena
kepuasan pribadi dirinya sendiri, sekaligus investasi dimasa depan. Bisa jadi dia pakai cuman pas lagi di rumah doang, tanpa memamerkan "eh emasku harganya segini loh, dari toko ini bla bla bla", bukan dipakai karena untuk terlihat kaya
dipandangan manusia.
Nah, gitu juga perihal ibadah. Buat aku pribadi, ini
semacam investasi emas. Kita invest, beli emas, tapi tujuannya itu bukan untuk
diperlihatkan ke orang lain. Kita ibadah, doing something religius kind,
belajar, banyak membaca, tapi bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain bahwa
kita ini shalih/ah sekali.
Ibadah, itu justru untuk vitamin kepuasan ruhani. Pemenuh
kadar nutrisi bagi jiwa yang sepi, yang galau. Karena aku sadar, siapapun kita, dari jurusan apapun kita (gak musti
jurusan agama yakk), dari kampung sekalipun, dari apa kek, belajar agama,
membaca Qur’an, mengetahui hadist, sejarah, itu adalah suatu kebutuhan jiwa. Dimana
ada pleasant feeling atau rasa puas tersendiri (perasaan yang menyenangkan),
rasa tenang, nyaman dan tawadhu’ dalam menjalani rutinitas dunia dan samakin yakin
serta merasa dekat dengan Allah swt. (Yaa Allah, aku mau curhat, bla bla bla. Terus entah
gimana jadi tenang deh, gak gelisah lagi.)
Iya, beribadah ini merupakan investasi jiwa
ruhani dan action di dunia yang bakalan menghasilkan ketika di akhirat nanti.
And for me, it’s something personal, karena kalian gabakalan bisa takar berapa
kadar iman dan ibadah yang sudah dilakukan oleh si fulan fulanah? Cuma kalian
sendiri yang tahu kadar takaran ibadah kalian, apa aja, dan ngapain aja, dan
itu pun bukan hal yang seharusnya musti (dipublish) diketahui oleh banyak
orang. Toh itu hubungan interaksi antara kamu sama Allah. Ataupun
ketika kamu akan bersedekah, masa harus update di status dulu biar orang pada
tahu?
Hallo? Kamu sehat? Allahamdulillah sehat. Aku seneng, jangan kayak aku
yang jatuh sakit karena kamu. Eh kok jadi lari kemana-mana sih pembahasannya.
Dasar aku.
Well ketika kamu baca Qur’an, itu kamu baca bukan
karena ada orang yang dengerin suara bagus kamu, terus kamunya berharap dipuji. Bukan. Tapi ya karena kamu
sendiri. Dan ketika kamu baca itu, siapa tahu kan? Kamu dapat bonus, ada orang
yang termotivasi untuk belajar membaca qur’an agar bacaannya menjadi bagus
seperti bacaan kamu. Atau menjadi lebih takjub dan tiba-tiba kalau mualaf yang dengerin nih yee, dia mendadaks jadi masuk islam. Keren. (semoga kalian kritis baca dibagian yang ini 😂🔫)
But who knows? For several people, ibadah justru
dijadikan seperti orang yang memakai emas dan dipamerin kemana-mana. Supaya lebih
terlihat religius? Tujuannya itu? Okay. Aku lupa nyikat wc tadi. Wkwkwk
Aku punya pertanyaan sebagai penutup tulisan ini, problematika
ruhani dalam berhusnudhan terhadap sesama makhluk milenial.
Apakah orang yang tidak menampakkan updatan status
berupa murattal Qur’an, quoetes nasehat islami, dan lebih sering nampakin
dengerin musik, berarti dia adalah orang yang tidak pernah dekat dengan bacaan-bacaan
islami dan apakah berarti dia juga tidak pernah membaca qur’an?
Apakah orang yang tidak suka pakai peci dan sarung berarti
dia tidak sering shalat di masjid?
Apakah orang yang hormonnya sedikit, sehingga tidak
mau tumbuh lebat janggut maupun kumisnya berarti dia tidak ingin mengamalkan
sunnah rasulullah?
Itu adalah pertanyaan yang kuajukan untuk diriku
sendiri. Jawabannya hanya aku yang tahu dengan diriku, dan kalian yang tahu
dengan diri kalian yang membaca ini. Thankyou for reading!
“Just because you don’t share it on social media,
doesn’t mean you’re not up to big things. Live it and stay low key. Privacy is
everything.”
Wassalam :)
*iya, aku juga suka kebab, burger, pizza, jus apel, guava, jeruk, apaan coba kan wkwkwkwk
Comments