Bismillahirrahmaanirrahiim...
Assalamu'alaikum vroh... ckckck sok gaholl banget sih.
Anyong
?
Hai para pembaca tersayang dimanapun kalian berada, sedang apa dan bagaimana
keadaannya? R u feeling good? I hope so. Anggap aja aku lagi ngobrol bareng
kalian, bedanya ini via tulisan. Duh, gak enakan banget. Kemarin aku baru
keluar dari RS, terus pupku gak lancar. Susah ngedennya. Dan aku gak suka makan
pepaya. Wkwkwk
Before
going to the main topic, aku punya satu quote yang semoga ngena dikalian.
Some people will only like you if
you fit inside their box. Don’t be afraid to shove that box up their ass.
Beberapa orang hanya akan menyukai
kamu jika kamu muat di dalam kotak mereka. Jangan takut untuk mendorong kotak
itu ke pantat mereka.
Aku
gak berharap kalian ngerti banget dengan quote diatas wekk.. wkwkwk, wong aku
aja nge translatenya juga pakai google. Kalau kamu gak ngerti, aku gak tahu
lagi harus kasih pengertian yang kudu gimana. Lol
Intinya
(terserah tafsiran kalian ajah), gapapa kalau kadang kamu gak sesuai sama
harapan beberapa temen disekitar kamu buat ngasih kebahagiaan dikehidupan
mereka, dikeseharian mereka. Ingat, kamu manusia. Bukan malaikat. Ada masa-masa
dimana kamu gak bisa nge fit their life with ur actions. Ada masanya kamu musti
nge fit ur own box. Ada masanya kamu sepak aja boxnya temen-temen kamu yang gak
bisa ngertiin posisi kamu lagi gimana, sedang apa. Box palelu dude. Omegadd dunia
dan seisinya bikin sedih sometimes. But hold on! Yang sabar yang bakalan dapat
reward, gitu kan aturan mainnya? Okay. But remember, I’m here not to fit all
people’s box for their happiness. Nge fit my own box aja sampe mules dan
ketahan boker. I hate it.
Okheh,
masalahnya di topik tulisan kali ini, aku rada kesel. Karena box yang harus diisi
kali ini adalah bukan versi kita. Jadi gabisa semaunya kita. Gabisa seenak
jidatnya kita. Posisi kita disini bukanlah sebagai pengendali box sendiri. Tapi
sebagai manusia yang kepingin muat di box yang diciptakan oleh penciptanya terhadap box manusia lain. Gak
bisa sembarangan.
“Jadilah
seperti yang dirindukan, bukan seperti yang merindukan” yups.
(btw
aku lagi nulis ini sambilan duduk depan pintu dapur. Gak tahu kenapa ya, lagi
kepingin aja gitu deket pintu dapur, deket wc. You know lah kan? Ada sistem
yang lagi error ditubuh. Kudu gawat darurat langsung capcus kalau kumat. Makaseh
pengertiannya pembaca sayang. Iuhh mau muntah *sayang.)
Sebagai
manusia kita adalah makhluk paling egois dimuka bumi. Penelitian ini
berdasarkan pengamatan dan perasaan subjektif penulis sendiri which is itu
akuh. Anggap aja aku egois. Kamu juga. Pokoknya begitu. Apalagi perempuan, gak
boleh disalahin. Bahaya kamunya. What? I disagree dude. Okay. Okay. Ya kalau
salah ya salah. Gak usah sok ngada-ngadain pembelaan. Eh dasar penulis curhat. Wkwkwk
Aku
kasih sebuah cerita deh
Hiduplah seorang yang kaya raya,
memiliki rumah besar, mobil mewah, naik haji berkali-kali, beribadah kuat
sekali. Orang tersebut tinggal disekitar orang-orang fakir, anak-anak yatim dan
miskin. Orang kaya tersebut sibuk saja beribadah sendiri, tidak peduli dengan
keadaan sekitarnya. Beliau mengejar cinta Allah versi beliau sendiri. Naik haji
dan umrah berkali-kali, shalat malam tiada henti. But wait?
Ketika
beliau beribadah, mengejar cinta Allah, itu adalah versi beliau sendiri. Tapi apakah
Allah ridha dengan ibadah beliau yang lupa dengan keadaan disekitarnya? Beliau
tidak menghiraukan memberi makan anak-anak yatim dan orang-orang miskin, beliau
sibuk saja mengejar cinta Allah versi beliau sendiri. Yang padahal, Allah juga
menyukai orang-orang yang menyayangi anak yatim dan memberi makan orang miskin.
Kadang,
kita mengejar sesuatu sesuai dengan apa yang kita sukai. Namun apakah yang kita
kejar tersebut juga menyukai cara kita mengejarnya?
In
another case, kita mengaku merindukan Rasululllah saw, namun apa yang sudah
kita lakukan? Apakah sesuai dengan yang dikehendaki rasulullah? Jangan-jangan
apa yang kita lakukan hanyalah apa yang kita sukai saja, tapi rasulullah tidak
menyukainya. Wallahualam.
Kita
mengaku merindukan orang yang kita suka, tapi jangan-jangan cara kita
merindukannya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan terhadap kita. Justru kita
membuat kecewa orang yang kita rindukan. Adakalanya yang kita anggap benar
belum tentu benar dimata orang yang ingin kita benarkan alasan kenapa kita
berbuat demikian. Oleh karena itu, untuk sedikit meredakan rasa egois yang ada
didalam diri, lunakkanlah hati sebentar saja. Merenungi kembali “jadilah
seperti yang dirindukan, bukan seperti yang merindukan”.
Lah
kalau memang kita mengaku sebagai hamba yang beriman, jadilah hamba yang bertaqwa dan
tidak egois dalam beribadah. Bukan menganggap diri paling benar dan orang lain paling
salah.
Lah
kalau memang kita mengaku umat yang merindukan rasulullah, jadilah umat beliau
yang mengikuti sunnah dan teladan-teladan seperti yang beliau ajarkan. Bukan teladan
yang seperti versi kita.
Lah
kalau memang kita mengaku sebagai orang yang merindukan manusia yang kita
sukai, fit their box with what they want. But remember “bukan berarti kamu
harus menjadi seperti babu.” Kalau gitu ceritanya sih kick aja the boxnya I don’t
care anymore :’v (keliatankan egoisnya sayahhh T.T hhuhu)
Well,
kadang yang kita anggap benar dan bisa menyenangkan hati orang lain ternyata
justru membuat mereka menjadi sedih. Oleh karena itu, pentingnya membangun komunikasi
dalam memutuskan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan orang tersebut. Jangan sembarangan mengadili, jangan juga sembarangan bersikap. Jangan baik didepan namun berkoar-koar dibelakang. Try to be wise, bijaksana.
Memang yak, perkara bijaksanan gabisa sembarangan orang bisa mewujudkannya. Cuma orang-orang tertentu aja. But I will be so glad kalau orang disekitar kita mampu bersikap bijak dalam menghadapi sesuatu. And I will be more glad kalau aku sendiri, kita, bisa menjadi bagian dari "orang-orang yang dianggap bijaksana"
Good
night my box ! see u later sayang (iuhh muntah *sayang)
Wassalam~
Comments