A’udzubillahiminasyaithaanirrajiim.
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Hai
everyones? Hay taby !
Whatsupp?
Aku
tidak bisa membuat kalian terlalu mengerti dengan apa yang akan aku tulis kali
ini. Tapi berhubung karena aku perempuan, aku lebih ingin mengandalkan feelingku. Ini cerita mengenai kemampuan memperhatikan tatapan. Something that disturbing my head about people that i’ve ever met. Baik di flm,
maupun cerita-cerita. Pftt.
Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik dengan
dongeng kali ini. Jangan terlalu serius menanggapinya. Ambil ibrahnya,
pelajaran dan hikmah yang baik-baik. Semoga menambah rasa syukur karena
mengenal banyak jenis makhluk Allah.
Bagaimana
ya menurut kalian cara untuk mengetahui seseorang kepada kita itu seperti apa
dihadapan orang lain? Bagaimana ya kita mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi
sehingga tanpa angin tanpa hujan beberapa manusia membuat interaksinya menjadi
berubah terhadap kita? Apa yang sudah meraka ungkapkan mengenai kita? Apakah ini
termasuk bersuudhan atau kritis terhadap sekitar (maksudku rasa peka)? Yahh. Ngerti
gak sih kalian maksud pertanyaanku?
Well,
gak tahu sih. Ini bener atau salah. Tapi sejauh aku mengamati, cara untuk kita
bisa tahu bagaimana seseorang membicarakan kita kepada orang lain ialah dengan
cara memperhatikan ketika dia sedang membicarakan orang lain dihadapan kita.
Aku
punya kasus yang beginian. Awalnya kayak nonton flm sih, but it happened. Baiklah, mari disimak dongengnya yoo.
Jadi
ada, anggaplah si cebong cerita dia suka kukang, tapi kukang gasuka dia, kukang
sukanya sama bekantan. Terus si cebong jadi cemburu sama bekantan. Nah, si
bekantan gatahu apa-apa dia. Si cebong cerita kalau dia sebenarnya agak kesel
juga ke si bekantan karena dia disukai oleh kukang. Seolah-olah bekantan
gimanaaa gitu. Dan bersyukurlah, si kukang ga ngerti apa-apa dia. wkwkwk
Okheh,
disini aku nanggepinnya jadi punya feeling negatif ke bekantan dengan cara
ceritanya cebong. But hold on. Kita gak boleh langsung menilai orang lain
sebelum kenal mereka secara benar. Okay, aku cuman denger aja dulu cerita si
cebong. Well... “a good speaker is also a good listener.”
Next
day, aku jumpa sama bekantan dalam kesehariannya. Aku lihat interaksi dia sama
kukang biasa aja tuh. Terus, aku juga gak nge expect apa-apa sih dari ceritanya
si cebong mengenai apa yang akan terjadi berikutnya ke bekantan. Bukan urusanku.
But,
hold on.
Karena
cerita si cebong awalnya, mau gak mau aku jadi keterusan merhatiin bekantan. Kenapa
kukang bisa suka sama bekantan dan gak suka sama cebong? Dan apa yang membuat
cebong tertarik sama kukang? (penelitian macam apa ini?)
Well,
dengan cara aku merhatiin, aku sadar satu hal. Cara aku natap si bekantan mulai
beda dari hari-hari sebelumnya. Astaghfirullah. What’s going on dude? Kenapa
aku jadi malah begini?
Okay
next.
Seiring
waktu berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu. Yang aku lihat, yang
aku perhatiin, cerita si cebong gak kontekstual sama yang happeningnya. Gak sesuai.
Cebong pas cerita lebih ngutamain perasaannya dia sendiri ketimbang melihat
garis putih diatas backround hitam. Aku rasa cebong agak lebay. Suudhan gak sih
gue ngejudge cebong begini? Wallahualam. Faghfirlii ya rab wkwkk. Entar cebong bangkit dari selokan kos. Bisa berabe.
And
then, by the time goes again, aku merasa seperti sedang diposisinya bekantan. Tapi
bukan karena disukai oleh lebah, cacing, cicak, atau lain-lain. Belakangan aku
merasa tatapan orang-orang jadi berbeda ke aku.
But,
trust me. Aku bisa lihat orang dari pandangan mereka. Sikap mereka berubah bisa
aku perhatiin dari tatapan mata mereka. Semacam ada laser gitu mau keluar untuk
lelehin kaca gelas. Kekuatan rahasiaku mulai terungkap. wkwkwk
Aku
gatahu apa yang sebenarnya terjadi dibelakangku.
Selama
ini aku ya yowes yowes saja lah dengan semua manusia. Kadang aku merasa,
identitasku diambil manusia lain (yahh, kegeeran banget akunya wkwkwk) tapi aku
gak marah, cuman kesel bentar, terus normal lagi deh. Kadang aku
dideketin bentar sama orang karena lagi ada perlunya. Okay, aku biasa aja. Toh kehadiranku
dimuka bumi juga seharusnya bisa bermanfaat juga kan buat orang-orang sekitar? Eh
giliran dimanfaatin mulu, akunya jadi kesel. Take it easy. Let it be.
Kadang
ada manusia kaya cebong yang kalau didepan baik banget sama bekantan. Ketawa ketiwi.
Eh dibelakang bekantan jadi gimana gitu. Tahi bener sih. Astaghfirullah. Ngucap
dah guehh. Parah bett wkwkwk.
Tapi
aku kasihan sama orang-orang yang gak bisa untuk ngefilter cerita. Nyaring informasi
biar bisa jadi lebih jernih. Jangan mudah terpengaruh dengan anggapan (gosip/ghibah) orang
lain.
In
the end, biarin aja lah. Siapa aku yang bisa menasehati kalian? Aku yang manis
ini menjadi males buat ngasih perhatian ke manusia lain setelah menyaksikan
keanehan spesies ini. Suke suke manusia sajoo. Setidaknya, biarkan yang
bersih-bersih tersimpan didalam benakmu, buanglah kororan-kotoran ditelingamu. Congkel
lah sesekali ia agar tidak menumpuk dan menyakitimu. Supaya kita semua tidak
bau tungkik.
Honestly,
yang ngebuat aku merasa terganggu itu cuma satu.
Aku
gak suka ngelihat, ngerasain pandangan yang awalnya ramah ke aku terus berubah
mendadak jadi aneh. It worst!
Dicuekin,
it’s okay. Karena aku juga pernah wkwkkw sering nyuekin orang.
Tapi
kalau diliatin dengan tatapan ingin menghindar dan merendahkan, it makes me
sad.
Oleh
karena itu, menunduk terasa lebih nikmat. Menatap binatang terasa lebih
menyenangkan, berbicara kepada pohon lebih menenangkan.
Oleh
karena itu, jangan pernah membalas cerita atau menceritakan kejelekan orang,
karena ditatap dengan rasa jengkel itu gak enak banget rasanya.
Setidaknya,
kita mengamalkan:
“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar
terhadap gangguan dari mereka itu lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul
dengan manusia dan tidak sabar dengan gangguan mereka”. Hr. Tirmidzi dan Ibnu
Majah.
“Maafkanlah,
niscaya kamu akan dimaafkan oleh Allah.” Hr. Ath-Thabrani.
Oleh
karena itu, aku masih berinteraksi baik dengan cebong. At least, sekarang aku
bisa lebih pandai membawa diri. Berjabat tanganlah dengan temanmu, tapi
peluklah musuhmu. (nasehat dipenghujung video sebuah yutup yang diucapin dedy corbuzier.
I like it.
Sekian
cerpen kali ini. semoga bermanfaat.
See
you ! wassalam.
Comments