Assalamu’alaikum brotha and sistah sekalian? Eakkk
Disaat tulisan ini aku post, berarti sudah masuk ke
hari jumat. So, happy Friday yo! Don’t forget to read Al-Kahfi. (terserah elu
sih mau baca atau kagak wkwkwk)
Well, sebelum lanjut ke hal yang pingin aku bahas,
aku mau cerita dulu beberapa kejadian yang terjadi kemarin di hari sabtu. Eh khamis maksudku. 😅
*hello gaess. Aku jatuh didepan kelas tadi, saat
buru-buru mengejar dosen (pak ade) buat ngumpulin kuis dadakan. Pas keluar pintu
kelas, lari, berasa kayak licin aja gitu lantainya. Aku berusaha keras
menyeimbangkan badan, yaelahh. Tetep aja jatuh. Dan temen-temen pada ngetawain.
Wkwkkw. Sakit fantatkuhh. Gedebukk. (selama kuliah, sudah dua kali aku jatuh
didepan kelas. Kalau yang tadi kelasnya di lab dan gak didepan dosennya, nah
yang semester kemarin aku jatuhnya didepan kelas juga dan ada dosennya. Di tarbiyah
B lantai 3 ruang 13. Hapal guehh. Sejarah memalukan. Maunya aku buat prasasti
kejatuhannya sekalian Hahaha)
*helllo gaess. Sorenya, ketika ngabuburit buat nyari
jajanan buka puasa, aku mampir ke penjual minuman. Minuman yang dijualnya kayak
coke gitu. Semacam soda. Dimenunya ada blue ocean, deep blue fantcy ocean,
fresh orange, aghh gatahu. Pokoknya gitu-gitu. Sambil nungguin minumannya
dibuat, penjual minumannya ngajakin aku ngobrol. Abang-abang gituh, lumayan lah
wkwkwk. Eh ternyata kita kuliah di kampus yang sama, dia anak dakwah, setahun
lebih tua dariku. Terus dia ulurin tangannya “yaudah kita kenalan, namanya
siapa?” aku cuman jawab “namaku Fadhilah Ata” sambil lihat ke tangan dia. Aku gak
balas jabat tangan dia. Maap yakk. Serius maap. Bukan maksud aku sombong wahai
abang ganteng penjual minuman soda. Memang aku gagap begitu wkwkwk. Aku gak
terbiasa jabat tangan kosong. Biasanya aku dikasih uang wkwkwk. Sumpeh. Hampir error
gueh wkwkwk. Pokoknya dia easy going deh. Aman, kayaknya dia juga ngerti kenapa
aku gak balas jabat tangan dia. Alhamdulillah deh. Thank you.
Well, kembali ke kos. Tiga malam yang lalu aku ikut
duduk bareng temen-temen di kos, ngedengerin mereka lagi bahas mengenai “membaca
manusia”. Ada satu kakak kos yang pinter ngebaca manusia. Feeling dia dan
persepsi dia terhadap manusia itu kuat. I mean, she is peka terhadap interaksi
manusia.
But kemudian, I asked her one question “kakak pernah
mengalami suatu trauma yang mendalam dulu?”
Dan kemudian, intinya, beliau menjawab beliau pernah
dibully.
See?
My theory is right.
Tahu gak kenapa aku tanya pertanyaan itu?
Karena seseorang yang bisa peka terhadap manusia
lain, seseorang yang bisa motivate manusia lain dengan gaya bicara dia, mereka
pasti pernah punya pengalaman menyakitkan dimasa lalu. Dan kemudian mereka bisa
bangkit kembali.
Beliau dulu pernah di bully. Dikatain jelek lah,
hitam, dan sebagainya.
Kemarin, aku juga sempat nonton video
mengenai “insecurity” alias kegelisahan terhadap diri sendiri (semacam minder). Sebenernya, setiap kita itu pasti punya keresahan
mengenai diri kita sendiri. Keresahan mengenai kekurangan diri, keresahan
mengenai sesuatu yang jika orang lain tahu maka kita akan merasa tidak nyaman.
Misal nih ya, kita sebenarnya bodoh, terus kita
minder karena hal tersebut. Kita menganggap bahwa diri kita tidak berharga. Padahal
sejatinya, diluar sana orang-orang justru ingin menjadi seperti kita, berada
diposisi kita. Cuman kitanya aja yang kurang bersyukur dan gak sadar akan hal
itu. (Bahwasanya kita punya potensi alias nilai plus yang orang lain gak punya)
Misal nih ya, kita jelek, hitam, jerawatan, gendut. Terus
kita malu sama diri kita sendiri. What’s the point? Gak penting sebenernya
keresahan itu. Kecantikan sesungguhnya itu berasal dari rasa percaya diri dan
kebaikan dari kelakuan sehari-hari (apa tu bahasanya? Inner beauty yak?)
Berapa banyak orang diluar sana yang sebenernya
kepingin berisi, gemuk kayak kita karena mereka kurus. Kepingin kulit gelap
kayak kita karena punya zat yang bisa mencegah kanker dari pancaran sinar
matahari. Jerawat? It’s normal. Itu tanda bahwa hormon yang kita punya lebih
aktif dan bekerja secara lancar dibanding hormon teme-temen lain.
Atau kadang kita dikatain kurus? padahal diluar sana juga ada orang yang kepingin kayak kita. Karena mereka merasa gemuk. Manusia emang makhluk ribet dengan hawa nafsunya wkwkkw
Kakak yang aku ceritain ini, beliau bisa survive
dari masa-masa kritis, yakni masa ketika beliau dibully habis-habisan secara
jahat dan keji oleh manusia-manusia yang sudah menganggap dirinya begitu
sempurna. Beliau bahkan sempat berada di momen dimana beliau takut melihat diri sendiri didepan kaca.
“dan kakak sekarang tahu dek, orang-orang yang
ngebully kakak ternyata kehidupannya tidak lebih baik daripada kakak”
Kami para gengs lantai atas penghuni kos secara
seksama mendengarkan cerita beliau. It motivated us to be more aware with
people around, adakalanya bahasa kita amat sangat meyakitkan orang lain tanpa
kita sadari. Bercanda tapi sebenarnya menyakiti orang yang kita bercandai. Adakalanya kita lupa beryukur dan merasa minder dengan apa yang
kita miliki. “maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Well aku juga dapet nasehat dari beliau buat
sering-sering melayat ke tempat orang meninggal. wkwkwk
“kenapa kak?”
“supaya kita menjadi lebih sadar. Bahwasanya, apa
yang kita miliki sekarang, yang kita kejar, yang kita minderkan, sejatinya juga
tidak berpengaruh untuk kehidupan kita nanti selanjutnya. Apapun itu, keminderan itu, kekayaan
itu, kepintarankah itu bukanlah apa-apa kalau tidak berguna bagi kehidupan kita berikutnya nanti. Hanya amal, dan imanlah yang menolong kita.”
Jadi, kenapa sekarang justru kita minder karena
pandangan dunia? Toh itu juga tidak akan mempengaruhi bahwa kita tidak
akan didatangi oleh kematian? kita juga tetep bakalan mati. Dan keminderan itu gak akan menolong kita. Jadi kenapa merasa insecure dan minder karena perkara yang gak penting?
Jadi, mengapa kita justru tidak khawatir mengenai
perkara yang akan menyelamatkan kita ketika nanti mati? Kenapa kita minder karena
ucapan orang lain? Kenapa tidak minder karena lupa mengaji? menyepelekan aurat? bersentuh-sentuhan secara sengaja dengan non muhrim? (Akhirnya aku mulai berfikir. otakku mulai kugunakan kembali)
Kakak kosku kemudian bangkit dan mulai mencintai dirinya
sendiri, menyadari hakikat apa yang sebenarnya perlu dibawa dan digenggam
hingga matipun akan tetap menemani. Beliau kembali percaya diri. Tidak perduli lagi dengan ejekan teman-temannya. Beliau berbenah dan mulai menebar kebaikan, memotivasi orang-orang disekitar, melakukan hal-hal yang baik dan berguna.
That was a good motivation for loving our self and
increasing our iman. Trust to Allah. Setidaknya kedepan, kalau kita mulai merasa
minder, semoga dengan membaca tulisan ini kita akan bisa lebih bersyukur dan
percaya diri kembali. Bersyukur dengan apapun yang sudah Allah anugerahi. Mengoptimalkan segala kekurangan dan kelebihan diri untuk hal-hal yang mampun memberi manfaat. Bukan malah murung, atau bahkan sampai bunuh diri.
Note: jangan sombong. Berhusnudhan lah, dan menebarkan cinta kepada setiap makhluk Allah. (aduh, betapa lebaynya akuhh)
Semangat selalu kak !
Well, di postingan berikutnya aku kepingin ngebahas mengenai
“jadilah seperti yang dirindukan, bukan seperti yang merindukan”.
Good night! Pinggangku masih sakit gegara gedebuk
tadi. Wkkwk
Wassalam.
Comments