Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

INSECURITY?


Assalamu’alaikum brotha and sistah sekalian? Eakkk

Disaat tulisan ini aku post, berarti sudah masuk ke hari jumat. So, happy Friday yo! Don’t forget to read Al-Kahfi. (terserah elu sih mau baca atau kagak wkwkwk)

Well, sebelum lanjut ke hal yang pingin aku bahas, aku mau cerita dulu beberapa kejadian yang terjadi kemarin di hari sabtu. Eh khamis maksudku. 😅

*hello gaess. Aku jatuh didepan kelas tadi, saat buru-buru mengejar dosen (pak ade) buat ngumpulin kuis dadakan. Pas keluar pintu kelas, lari, berasa kayak licin aja gitu lantainya. Aku berusaha keras menyeimbangkan badan, yaelahh. Tetep aja jatuh. Dan temen-temen pada ngetawain. Wkwkkw. Sakit fantatkuhh. Gedebukk. (selama kuliah, sudah dua kali aku jatuh didepan kelas. Kalau yang tadi kelasnya di lab dan gak didepan dosennya, nah yang semester kemarin aku jatuhnya didepan kelas juga dan ada dosennya. Di tarbiyah B lantai 3 ruang 13. Hapal guehh. Sejarah memalukan. Maunya aku buat prasasti kejatuhannya sekalian Hahaha)

*helllo gaess. Sorenya, ketika ngabuburit buat nyari jajanan buka puasa, aku mampir ke penjual minuman. Minuman yang dijualnya kayak coke gitu. Semacam soda. Dimenunya ada blue ocean, deep blue fantcy ocean, fresh orange, aghh gatahu. Pokoknya gitu-gitu. Sambil nungguin minumannya dibuat, penjual minumannya ngajakin aku ngobrol. Abang-abang gituh, lumayan lah wkwkwk. Eh ternyata kita kuliah di kampus yang sama, dia anak dakwah, setahun lebih tua dariku. Terus dia ulurin tangannya “yaudah kita kenalan, namanya siapa?” aku cuman jawab “namaku Fadhilah Ata” sambil lihat ke tangan dia. Aku gak balas jabat tangan dia. Maap yakk. Serius maap. Bukan maksud aku sombong wahai abang ganteng penjual minuman soda. Memang aku gagap begitu wkwkwk. Aku gak terbiasa jabat tangan kosong. Biasanya aku dikasih uang wkwkwk. Sumpeh. Hampir error gueh wkwkwk. Pokoknya dia easy going deh. Aman, kayaknya dia juga ngerti kenapa aku gak balas jabat tangan dia. Alhamdulillah deh. Thank you.

Well, kembali ke kos. Tiga malam yang lalu aku ikut duduk bareng temen-temen di kos, ngedengerin mereka lagi bahas mengenai “membaca manusia”. Ada satu kakak kos yang pinter ngebaca manusia. Feeling dia dan persepsi dia terhadap manusia itu kuat. I mean, she is peka terhadap interaksi manusia.

But kemudian, I asked her one question “kakak pernah mengalami suatu trauma yang mendalam dulu?”

Dan kemudian, intinya, beliau menjawab beliau pernah dibully.

See?
My theory is right.

Tahu gak kenapa aku tanya pertanyaan itu?
Karena seseorang yang bisa peka terhadap manusia lain, seseorang yang bisa motivate manusia lain dengan gaya bicara dia, mereka pasti pernah punya pengalaman menyakitkan dimasa lalu. Dan kemudian mereka bisa bangkit kembali.

Beliau dulu pernah di bully. Dikatain jelek lah, hitam, dan sebagainya.

Kemarin, aku juga sempat nonton video mengenai “insecurity” alias kegelisahan terhadap diri sendiri (semacam minder). Sebenernya, setiap kita itu pasti punya keresahan mengenai diri kita sendiri. Keresahan mengenai kekurangan diri, keresahan mengenai sesuatu yang jika orang lain tahu maka kita akan merasa tidak nyaman.

Misal nih ya, kita sebenarnya bodoh, terus kita minder karena hal tersebut. Kita menganggap bahwa diri kita tidak berharga. Padahal sejatinya, diluar sana orang-orang justru ingin menjadi seperti kita, berada diposisi kita. Cuman kitanya aja yang kurang bersyukur dan gak sadar akan hal itu. (Bahwasanya kita punya potensi alias nilai plus yang orang lain gak punya)

Misal nih ya, kita jelek, hitam, jerawatan, gendut. Terus kita malu sama diri kita sendiri. What’s the point? Gak penting sebenernya keresahan itu. Kecantikan sesungguhnya itu berasal dari rasa percaya diri dan kebaikan dari kelakuan sehari-hari (apa tu bahasanya? Inner beauty yak?)

Berapa banyak orang diluar sana yang sebenernya kepingin berisi, gemuk kayak kita karena mereka kurus. Kepingin kulit gelap kayak kita karena punya zat yang bisa mencegah kanker dari pancaran sinar matahari. Jerawat? It’s normal. Itu tanda bahwa hormon yang kita punya lebih aktif dan bekerja secara lancar dibanding hormon teme-temen lain.

Atau kadang kita dikatain kurus? padahal diluar sana juga ada orang yang kepingin kayak kita. Karena mereka merasa gemuk. Manusia emang makhluk ribet dengan hawa nafsunya wkwkkw

Kakak yang aku ceritain ini, beliau bisa survive dari masa-masa kritis, yakni masa ketika beliau dibully habis-habisan secara jahat dan keji oleh manusia-manusia yang sudah menganggap dirinya begitu sempurna. Beliau bahkan sempat berada di momen dimana beliau takut melihat diri sendiri didepan kaca.

“dan kakak sekarang tahu dek, orang-orang yang ngebully kakak ternyata kehidupannya tidak lebih baik daripada kakak”

Kami para gengs lantai atas penghuni kos secara seksama mendengarkan cerita beliau. It motivated us to be more aware with people around, adakalanya bahasa kita amat sangat meyakitkan orang lain tanpa kita sadari. Bercanda tapi sebenarnya menyakiti orang yang kita bercandai. Adakalanya kita lupa beryukur dan merasa minder dengan apa yang kita miliki. “maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Well aku juga dapet nasehat dari beliau buat sering-sering melayat ke tempat orang meninggal. wkwkwk

“kenapa kak?”

“supaya kita menjadi lebih sadar. Bahwasanya, apa yang kita miliki sekarang, yang kita kejar, yang kita minderkan, sejatinya juga tidak berpengaruh untuk kehidupan kita nanti selanjutnya. Apapun itu, keminderan itu, kekayaan itu, kepintarankah itu bukanlah apa-apa kalau tidak berguna bagi kehidupan kita berikutnya nanti. Hanya amal, dan imanlah yang menolong kita.”

Jadi, kenapa sekarang justru kita minder karena pandangan dunia? Toh itu juga tidak akan mempengaruhi bahwa kita tidak akan didatangi oleh kematian? kita juga tetep bakalan mati. Dan keminderan itu gak akan menolong kita. Jadi kenapa merasa insecure dan minder karena perkara yang gak penting?

Jadi, mengapa kita justru tidak khawatir mengenai perkara yang akan menyelamatkan kita ketika nanti mati? Kenapa kita minder karena ucapan orang lain? Kenapa tidak minder karena lupa mengaji? menyepelekan aurat? bersentuh-sentuhan secara sengaja dengan non muhrim? (Akhirnya aku mulai berfikir. otakku mulai kugunakan kembali)

Kakak kosku kemudian bangkit dan mulai mencintai dirinya sendiri, menyadari hakikat apa yang sebenarnya perlu dibawa dan digenggam hingga matipun akan tetap menemani. Beliau kembali percaya diri. Tidak perduli lagi dengan ejekan teman-temannya. Beliau berbenah dan mulai menebar kebaikan, memotivasi orang-orang disekitar, melakukan hal-hal yang baik dan berguna. 

That was a good motivation for loving our self and increasing our iman. Trust to Allah. Setidaknya kedepan, kalau kita mulai merasa minder, semoga dengan membaca tulisan ini kita akan bisa lebih bersyukur dan percaya diri kembali. Bersyukur dengan apapun yang sudah Allah anugerahi. Mengoptimalkan segala kekurangan dan kelebihan diri untuk hal-hal yang mampun memberi manfaat. Bukan malah murung, atau bahkan sampai bunuh diri.

Note: jangan sombong. Berhusnudhan lah, dan menebarkan cinta kepada setiap makhluk Allah. (aduh, betapa lebaynya akuhh)

Semangat selalu kak !

Well, di postingan berikutnya aku kepingin ngebahas mengenai “jadilah seperti yang dirindukan, bukan seperti yang merindukan”.

Good night! Pinggangku masih sakit gegara gedebuk tadi. Wkkwk
Wassalam.

Comments

Melya Rahmi said…
Alhamdulillah masih ada orang yang bisa menjadi diri sendiri. Walaupun banyak teman-teman nya dlu yang ejek dy dan skrg tak lebih baik dari dianya. Ingat sejatinya orang yang selalu berbibadah namun dy melakukan sesuatu hal yg tak layak namun hanya kecil bisa jadi dimata Allah itu sangat tak mulia. Maka trus perbaiki diri tanpa melihat orang-orang yang menyakiti berhasil atau tidak. Karena itu berarti kita masih menyimpan sesikit dendam kepada mereka. Tapi doakan lah mereka agar lebih mulia akhlaknya dan perbuatan nya disisi Allah
Taby_015 said…
yups. thankyou kak melyaaaa :)

Popular Posts