Hai
tayo! Assalamu’alaikum? Whatsapp vrohhh :’V
Semoga
lisan kita selalu dilindungi, selalu tercurahkan kebaikan dalam bicara, selalu
berbaik kata dari hati. Tidak kasar, penuh kesabaran, penuh pemikiran dan
tatakrama. Aamiin.
Tulisan
kali ini we awali dengan do’a yang demikian.
kemudian
we lanjutkan dengan cerita, pengalaman pribadi, membekas sekali sampai ke lubuk
hati. Sedih sekali rasanya. *weyanglebay
Tidak
ada wanita yang suka mendengar kata-kata kasar dari lisan manapun, siapapun. Kata-kata
tidak senonoh dalam kondisi marah sekalipun. Hendaknya, lisan kita dilatih
untuk mengucapkan hal-hal yang baik, sekalipun hanya reflek tidak sengaja,
setidaknya yang keluar adalah kalimat-kalimat yang penuh hikmah, setidaknya
sesingkat-singkatnya yang keluar adalah kata-kata bersih, mengingat rabbnya,
atau beristighfar sahaja. At least, tidak menyakiti hati pemirsa dan
hewan-hewan yang melintas disekitarnya...
Aduh,
membekas sekali kalimatnya, terngiang-ngiang ditelinga, menggema sedih di jiwa.
Tidak
ada maksud ingin menyakiti siapapun dijalanan. Saat ingin menyeberang menuju
toko laundry, ada sepeda motor didepan, we tahu we menyeberang, melawan arah. Tapi
we lakukan itu karena ingin menuju ke toko laundry diseberang. We juga tahu ada
sepeda motor disana yang masih melaju, we tahu, oleh karena itu we memilih
berhati-hati, tidak terburu-buru.
Tapi...
entah apa yang sedang dilakukan pengendara tersebut. Mungkin beliau sedang tidak
fokus, beliau sibuk sahaja melihat kekiri. Telat menyadari keberadaan we yang
menyeberang menuju arah yang berlawanan dengan beliau. We tetap santai saja,
toh we tidak berniat ingin menabrak beliau. We hanya ingin menuju laundry
dengan kecepatan yang sudah we perhitungkan. Ternyata si pengendara itu
terkejut, tepatnya beliau dikejutkan oleh penumpang yang beliau bonceng
(istrinya kali yaa. Wallahualam). Istrinya yang panikan, berusaha mengingatkan
suaminya dengan cara yang panikan pula *perfectsekaleehhhh. Si pengendara menjadi
terkejut. We sih biasa saja, toh jaraknya juga masih jauh, dan we juga tidak
berniat mau menabrak mereka. Tujuan we bukan mereka. Sorry yooo.
But,
keterkejutan pengendara itu terlalu lebay menurut we. Kata-kata yang keluar
dari mulutnya kotor sekali. Masih terngiang-ngiang di benak we. Boleh lah
terkejut, tapi.... kasar sekali perkataan beliau tersebut.
Hakiki
murni, we yakin kita tidak akan bertabrakan. Tapi, keterkejutan beliau itu
ketelaluan. Memaki-maki we bersama kaka sepupu we yang we bonceng dibelakang.
Ampun
lah kan.
Seumur-umur,
we tidak pernah dimaki-maki demikian sama bapak we macam begituan. Guru-guru we
juga tidak pernah ngomong kasar begituan.
Bahh...
Biarpun
si pengendara itu cuman ngomong satu kalimat yang ringkas, dan sambil lalu,
tapi kalimat itu buat we kayak merasa hancur gitu. Bahh. *brokenheartlebayparahh
We
berharap, setidaknya we tidak berkata demikian. Dalam reflek yang
sebagaimanapun.
Bahkan
ditulisan ini sekalipun, we tidak berniat menuliskan “kalimat ringkas sekilas
yang kasar itu.”
Semoga
orang-orang yang menyayangi we tetap baik lisannya ketika berbicara, sabar
ketika marah, tidak berkata kasar dalam emosinya. Baik lidahnya dan baik pula
kontrol pribadinya. Aamiin.
Huhuuuuuu.
Btw,
we juga merasa bersalah. We memohon ampun, dan maaf kepada pengendara yang
panikan tidak jelas karena asik tengok ke kiri saja dan kemudian terkejut lebay
tersebut. We minta maaf telah mengejutkan saudara. We murni sedikitpun tidak
berniat mencelakai saudara. Kelak nanti kalau kita berjumpa dalam keadaan
berbeda, we harap itu perjumpaan yang baik sesama kita umat manusia lah kan. We
minta maaf. Huhuhuuuu.
We
merasa bersalah dan sedih juga lah kan dengan kalimat ringkas sekilas jalan
dari beliau itu. Xoxoxoxo...
Tertanda:
we yang terlalu sensitif.
Note:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا
يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا
يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat
yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab
satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada
seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan
Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia
terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا
يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat
yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu,
namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh
dari antara timur dan barat”. [HR Muslim, no. 2988].
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ
بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا
“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai
Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang
dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu
istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda
khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda:
“Ini”.
عَنْ عُقْبَةَ
بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ
عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
“Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulallah,
apakah sebab keselamatan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Kuasailah lidahmu, rumah yang luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. [HR.
Tirmidzi, no. 2406].
Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H)
berkata: “Ketahuilah, seharusnya setiap mukallaf (orang yang berakal dan
baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas
maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya,
maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa
menyeret kepada perkataan yang haram, atau makruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak
dilakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya.
Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Buraidah berkata:
“Aku melihat Ibnu ‘Abbas memegangi lidahnya sambil berkata, ‘Celaka engkau,
katakanlah kebaikan, engkau mendapatkan keberuntungan. Diamlah dari keburukan,
niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal’.”
Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata:
“Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun
jika aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku”.
Comments