Hari ini aku tidak kemana-mana...
aku
masih di bumi, berjalan ditempat biasa, membaca yang biasa, melalui pemandangan
yang biasa, bertemu sapa dengan yang biasa-biasa. Tidak ada yang menghidupkan
hati. Sampai.... sore menjelang.
Ada
kehidupan disana... oksigen senja yang kuhirup... ada hal yang menggerakkan
sehingga aku merasa berjalan di bumi.
Aku
tidak tahu dengan jelas berapa umur gadis mungil yang sedang belari-lari kecil
di lapangan, memegang telunjuk kakeknya. Berlari bersama sang kakek. Jauh 10
meter dibelakang gadis kecil itu, sang nenek berlari mengejar cucunya.
Jantungku kembali berdetak melihat pemandangan itu.
Seperti
biasa, lapangan selalu ramai dengan manusia-manusia. Ada yang berlari, bermain
bola, melatih fisik, dan lainnya. Aku hanya memutari lapangan, saat bosan aku
berhenti memutar dan bermain raket sebentar. Kemudian lanjut lagi berjalan
santai, memutari lapangan. Aku suka melihat pergerakan disekitar. Kadang hatiku
mati, lingkunganku hidup. Sore ini, hatiku tidak begitu mati. Ada yang mulai
berdetak “ata, hatimu sudah hidup. Kau sudah mulai mencintai suasana
disekitarmu. Kau sudah mulai bisa membaca gadis kecil itu dengan telunjuk
kakeknya”. Ya... aku hanya tersenyum, kemudian melanjutkan berjalan. Memutari
lapangan. Entah ini kali yang keberapa? Aku masih memutarinya, berjalan,
sesekali berlari.
Jantungku
kembali berdetak...
Ada
tiga bocah laki-laki, yang satu agak sedikit terlihat aneh, mungkin dia autis.
Tingkahnya memancing mataku. Aku memperhatikan bocah lelaki itu, motoriknya
sedikit berbeda dengan dua temannya, lirikan matanya juga berbeda. Namun....
dia adalah yang paling ceria diatara teman-temannya. Anak lelaki itu memimpin
permainan lomba lari, dia ditengah. Dia belari, teman-temannya juga ikut
berlari. Dia berlari dengan gaya yang sedikit miring, teman-temannya juga
berlari dengan gaya yang sedikit miring. Seolah lapangan hanya milik mereka,
gembira sekali. Sampai-sampai aku pun dibuatnya tersenyum. Sampai-sapai aku pun
iseng ikut menyejajarkan langkah, berlari mengikuti tiga bocah laki-laki itu,
seolah ikut lomba lari bersama mereka.
“dug...
jantungku hidup kembali”.
Tiga
anak kecil itu tersenyum melihatku, mereka tidak keberatan aku bergabung
bersama mereka. Oh tuhan... dalam kepala mereka tidak ada matematika, tidak ada
beban dunia yang memberatkan, bahkan anak laki-laki yang satu itu, yang
terlihat kekurangan diatara dua temannya, dialah yang paling bahagia dan
membuat dua temannya ikut terlihat ceria. Oh tuhan... bocah laki-laki itu pun
juga membuatku bahagia.
Ada
bola yang terbang ke arah tiga bocah lelaki itu....
Aku
yang berlari dibelakang mereka agak sedikit terkesiap, takut bola itu mengenai
mereka. Bocah laki-laki yang satu itu masih tidak tahu ada bola yang mengarah
ke mereka.
Bola
itu melambung....
Melewati
mereka bertiga.
Lega
pikirku. Mereka tidak apa-apa.
“dek,
kau ambilkan bola itu sebentar”
“iya
bang”. Teman anak lelaki yang ceria itu mengambil bola yang jatuh tadi,
sedangkan satu temannya lagi menjelaskan ke si anak lelaki yang ceria tadi
“sebentar, nanti kita berlari lagi”
Dug....
“jantungku hidup kembali”
Aku
tidak tahan melihat betapa dua teman dari anak lelaki yang terlihat kekurangan
itu begitu perhatian kepadanya. Begitu tidak keberatan menjelaskan hal yang
simpel kepada si bocah ceria.
Ahh...
Sore
itu... jantungku hidup, mataku tidak buta, telingaku berfungsi, hatiku merasa.
Aku
terus berlari melewati mereka bertiga... aku menyembunyikan senyum karena detak
jantungku. Aku tidak mati di sore itu. Aku pulang dengan mengingat gadis mungil
yang memegang telunjuk kakeknya, aku pulang dengan mengingat tiga bocah lelaki
yang berlari-lari ceria. Sampai sekarang aku masih mengingatnya.
Kita
hidup di dunia dengan berbagai macam flm disekitar
Hanya
saja kita kurang peka memandang dan merasa
Kita
merasa mati dalam keramaian. Orang-orang hidup disekitar
Hanya
kita yang seperti zombi berjalan.
Semoga
besok jantung ini kembali berdetak. Aaamiin
Comments