Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Legend Penikmat Yang Berusaha Tabah dan Santai Terhadap Permasalahan Akademik Dunia :)



Yeah.
Whatsupppp taby. I miss you. I’m lying. Lol

Kali ini, aku mau menampar diri sendiri.
Stop looking into other people’s gardens and water your own damn flowers.-cristinabilomena (kalau tidak salah). 

“Berhenti melihat ke kebun orang lain dan sirami bunga sialan anda sendiri”.

Aku sadar. Kita setiap manusia diciptakan dengan takdir masing-masing. Kita berkembang dengan ciri dan karakter kita masing-masing. Kita satu sama lain tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam, spesies boleh sama, tapi jenis model rambut, karakter, pembawaan, pemikiran, berbeda. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga menjadikan takdirnya menjadi lebih baik. Orangtua mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya, menjadikan anak-anaknya lebih baik dibanding mereka. Nabi lut, nabi nuh, nabi muhammad, berusaha mengupayakan yang terbaik bagi umatnya. Namun bukan salah mereka para nabi jika bahkan ada istri, anak, atau paman yang masih durhaka. Ada garis takdir yang berbeda. Allah yang memutuskan. Wallahualam.

Kita manusia, dilimpahi rahmat oleh Allah yang luar biasa. Dikasih kesempatan mencoba alam dunia, bernafas, tertawa, sedih, merasakan beragam emosi. Dikasih bakat, dan pilihan takdir. Surga, neraka, bertaqwa, atau ingkar.

Kadang, kita terlalu naif oleh diri sendiri. Kita terjebak dengan sesuatu yang banyak terjadi. Kita merasa akan menjadi aneh jika berbeda sendiri. But, who cares at all? Hujan yang aku rasakan, akan berbeda dengan hujan yang kamu rasakan. Beberapa orang senang jika turun hujan, beberapa orang justru merasa kebasahan, atau kedinginan. So? Each of us is different. But our society force us to be the same.

Orang lain dapat nilai bagus, kamu tidak. Bukan brarti kamu lebih bodoh dari dia. Orang lain lulus sesuai tenggat waktu, kamu kelewatan waktu. Bukan berarti kamu akan mati. Orang lain tinggi postur tubuhnya, kamu pendek. Bukan berarti kamu mengidap penyakit tulang. No. You have your own destiny. You have your own character. Why you have to care too much about what will people say? They don’t care actually. They just see the different thing from the society. And it’s unique.

Kadang, kalau semua jenis bunga mekar dimusim yang sama dan layu dimusim yang sama, alam tidak akan indah disetiap bulannya. Lebah hanya akan bertahan hidup di satu musim saja, dan akan kelaparan disisa musim berikutnya.

Kamu adalah spesies bunga yang unik. Kalau kamu belum mekar sekarang, bukan berarti kamu tidak akan mekar kemudian. Teman-temanmu yang mekar, biarlah mereka mekar terlebih dahulu, menikmati masa mereka. Kelak nanti, akan ada masanya untukmu. Yang duluan mekar akan layu, posisi akan berganti. Itu hukum alam. Tumbuhan sadar akan hal itu. Kamu hanya perlu bersabar dan tabah menanti musim yang cocok. Semua sudah Allah atur dalam kadar dan waktuNya.

Aku akan menjadi legend sepertinya. Sudahlah, toh ada hikmah. Mekarku akan sedikit telat. Ketika yang lain sudah mulai melayu, akan tiba masaku. Bukankah aku harus tabah? (sok tabah)
 
Dalam hal perlombaan, kadang ada dua jenis hewan berbeda. Cheetah dan elang. Masing-masing cepat pada bagiannya. Cheetah cepat dalam berlari didarat, eleng cepat dalam terbang diudara. Kalau elang disuruh lari didarat berlomba dengan cheetah, elang akan kalah. Dan tidak mungkin bagi elang memaksa cheetah untuk terbang. Cheetah tidak punya sayap. Setidaknya mereka tinggal dibumi yang sama. Berbagi dan hidup damai. Tidak ada yang perlu dilombakan. Rezeki elang dan cheetah tidak akan hilang. Jadi apa yang harus diburu-burukan? Jadi apa yang harus dinyinyirkan? Who cares about that? Nature always finds a way. So don’t be sad, okay? 

Aku akan menikmati apa saja yang disajikan untukku didunia. Selama aku patuh pada perintahNya, apa yang harus aku sesalkan? Aku juga yakin. Setiap yang disajikan untukku adalah sesuai dengan kadar yang mampu aku tanggung. Menjadi berbeda selama tidak melakukan yang dilarangNya.

Bukankah bodoh juga merupakan rahmat? Sesuatu yang salah juga merupakan rahmat? Bukankah setiap zarrah didunia memilika tujuan eksistensinya tersendiri? Jadi kenapa kita harus mengklasifikasikan sesuatu berdasarkan hal yang banyak dielu-elukan?

Hidup pun hanya sementara. Jadi kenapa harus dikeluh kesahkan setiap saat?
Inilah aku. Manusia yang berkeluh kesah dan khawatiran. Lupa bersyukur dan tidak belajar dari alam. Tidakkah aku berfikir?

“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”(qs. Ar-rahman ayat 13)

“sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(qs. Ibrahim ayat 7)

“bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (qs. Luqman ayat 12)

“dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (qs. Al-Furqan ayat 62)

Okaydengs taby. Mau nilai C, D, Z. Kan kutelan, nikmati, dan perbaiki. Bukankah itu juga bagian dari alphabet? Bukankah hanya manusia saja yang suka memberi tingkatan terhadap sesuatu? Nama? Ukuran? Kan kunikmati. Bukankah kita hidup hanya sementara? Persinggahan semata? Akan kunikmati.

This is me, Fadhilah Ata. Legend penikmat yang berusaha tabah dan santai terhadap permasalahan akademik dunia :v

hahahaaaaa

Dasar pemalas.
Sok bijaksss.
Malas belajar.
salah sendiri wekkkk.

BODO AMATTT

:p

Comments

Popular Posts