Yeah.
Whatsupppp taby. I miss you. I’m lying. Lol
Kali ini, aku mau menampar diri sendiri.
Stop looking into other people’s gardens and
water your own damn flowers.-cristinabilomena (kalau tidak salah).
“Berhenti melihat
ke kebun orang lain dan sirami bunga sialan anda sendiri”.
Aku sadar. Kita setiap manusia diciptakan dengan
takdir masing-masing. Kita berkembang dengan ciri dan karakter kita
masing-masing. Kita satu sama lain tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam,
spesies boleh sama, tapi jenis model rambut, karakter, pembawaan, pemikiran,
berbeda. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga menjadikan takdirnya menjadi
lebih baik. Orangtua mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya, menjadikan
anak-anaknya lebih baik dibanding mereka. Nabi lut, nabi nuh, nabi muhammad,
berusaha mengupayakan yang terbaik bagi umatnya. Namun bukan salah mereka para
nabi jika bahkan ada istri, anak, atau paman yang masih durhaka. Ada garis
takdir yang berbeda. Allah yang memutuskan. Wallahualam.
Kita manusia, dilimpahi rahmat oleh Allah yang luar
biasa. Dikasih kesempatan mencoba alam dunia, bernafas, tertawa, sedih,
merasakan beragam emosi. Dikasih bakat, dan pilihan takdir. Surga, neraka,
bertaqwa, atau ingkar.
Kadang, kita terlalu naif oleh diri sendiri. Kita terjebak
dengan sesuatu yang banyak terjadi. Kita merasa akan menjadi aneh jika berbeda
sendiri. But, who cares at all? Hujan yang aku rasakan, akan berbeda dengan
hujan yang kamu rasakan. Beberapa orang senang jika turun hujan, beberapa orang
justru merasa kebasahan, atau kedinginan. So?
Each of us is different. But our society force us to be the same.
Orang lain dapat nilai bagus, kamu tidak. Bukan brarti
kamu lebih bodoh dari dia. Orang lain lulus sesuai tenggat waktu, kamu
kelewatan waktu. Bukan berarti kamu akan mati. Orang lain tinggi postur
tubuhnya, kamu pendek. Bukan berarti kamu mengidap penyakit tulang. No. You have your own destiny. You have your own
character. Why you have to care too much about what will people say? They don’t care
actually. They just see the different thing from the society. And it’s unique.
Kadang, kalau semua jenis bunga mekar dimusim yang
sama dan layu dimusim yang sama, alam tidak akan indah disetiap bulannya. Lebah
hanya akan bertahan hidup di satu musim saja, dan akan kelaparan disisa musim
berikutnya.
Kamu adalah spesies bunga yang unik. Kalau kamu
belum mekar sekarang, bukan berarti kamu tidak akan mekar kemudian. Teman-temanmu
yang mekar, biarlah mereka mekar terlebih dahulu, menikmati masa mereka. Kelak nanti,
akan ada masanya untukmu. Yang duluan mekar akan layu, posisi akan berganti. Itu
hukum alam. Tumbuhan sadar akan hal itu. Kamu hanya perlu bersabar dan tabah
menanti musim yang cocok. Semua sudah Allah atur dalam kadar dan waktuNya.
Aku akan menjadi legend sepertinya. Sudahlah, toh
ada hikmah. Mekarku akan sedikit telat. Ketika yang lain sudah mulai melayu,
akan tiba masaku. Bukankah aku harus tabah? (sok tabah)
Dalam hal perlombaan, kadang ada dua jenis hewan
berbeda. Cheetah dan elang. Masing-masing cepat pada bagiannya. Cheetah cepat
dalam berlari didarat, eleng cepat dalam terbang diudara. Kalau elang disuruh
lari didarat berlomba dengan cheetah, elang akan kalah. Dan tidak mungkin bagi
elang memaksa cheetah untuk terbang. Cheetah tidak punya sayap. Setidaknya mereka
tinggal dibumi yang sama. Berbagi dan hidup damai. Tidak ada yang perlu
dilombakan. Rezeki elang dan cheetah tidak akan hilang. Jadi apa yang harus
diburu-burukan? Jadi apa yang harus dinyinyirkan? Who cares about that? Nature always finds a way. So don’t be sad,
okay?
Aku akan menikmati apa saja yang disajikan untukku
didunia. Selama aku patuh pada perintahNya, apa yang harus aku sesalkan? Aku
juga yakin. Setiap yang disajikan untukku adalah sesuai dengan kadar yang mampu
aku tanggung. Menjadi berbeda selama tidak melakukan yang dilarangNya.
Bukankah bodoh juga merupakan rahmat? Sesuatu yang
salah juga merupakan rahmat? Bukankah setiap zarrah didunia memilika tujuan
eksistensinya tersendiri? Jadi kenapa kita harus mengklasifikasikan sesuatu
berdasarkan hal yang banyak dielu-elukan?
Hidup pun hanya sementara. Jadi kenapa harus dikeluh
kesahkan setiap saat?
Inilah aku. Manusia yang berkeluh kesah dan
khawatiran. Lupa bersyukur dan tidak belajar dari alam. Tidakkah aku berfikir?
“Maka nikmat
tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”(qs. Ar-rahman ayat 13)
“sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(qs. Ibrahim ayat
7)
“bersyukurlah
kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya
ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (qs. Luqman ayat 12)
“dan Dia (pula)
yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (qs. Al-Furqan ayat 62)
Okaydengs taby. Mau nilai C, D, Z. Kan kutelan,
nikmati, dan perbaiki. Bukankah itu juga bagian dari alphabet? Bukankah hanya
manusia saja yang suka memberi tingkatan terhadap sesuatu? Nama? Ukuran? Kan kunikmati.
Bukankah kita hidup hanya sementara? Persinggahan semata? Akan kunikmati.
This is me, Fadhilah Ata. Legend penikmat yang
berusaha tabah dan santai terhadap permasalahan akademik dunia :v
hahahaaaaa
Dasar pemalas.
Sok bijaksss.
Malas belajar.
salah sendiri wekkkk.
BODO AMATTT
:p
Comments