Bismillahirrahmaanirrahiim...
Salam kepada jiwa-jiwa yang sedang berbunga-bunga dan berlebah dalam dada, salam kepada penguasa pandangan nan mempesona, salam kepada pemabuk perasaan dalam cinta.
Tidak ada yang lebih sensitif daripada perasaan. Sedikit-sedikit baper, sedikit-sedikit sedih, sedikit-sedikit mencret. Upss. I’m sorry. Karena pas aku lagi nulis ini, aku lagi dalam keadaan yang “horrible”. Setiap lima belas menit, aku harus nyosss masuk wc. Biasa, kalau lagi mencret, atau sedih, aku bawaannya sakit perut, bukan sakit hati. Aku bawaannya keluar mencret, bukan keluar air mata. Sometimes doang, okay? Yang bagian paragraf ini gak usah terlalu dihayati kali ya :)
My philosophy about love is like mathematics.
It’s horrible for me. Karena, pas kamu yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan tiba-tiba jatuh di matematika, kamu diharuskan untuk mencintai dia. Dan mirisnya, kamu bukan siapa-siapanya dia. Kamu kayak debu di matematika. Karena banyak intan, berlian, yang juga jatuh di matematika. It means, saingan kamu banyak buat ngedapetin perhatiannya matematika. Kamu di lingkungan yang penuh banyak banget saingan, dan kemudian muncul pertanyaan “emang kamu siapa? Kehebatan kamu apa? Sehingga kamj berani berkompetisi ditempat yang sebelumnya kamu bukan apa-apa disitu." Dan, masih banyak fansnya matematika yang lebih awal berkecimpung dan jatuh juga disitu. Dan kamuu sadar dong, kamu itu kayak awan yang gak pernah bisa nurunin hujan buat matematika. Kamu cuman ngambang doang diatasnya. (sakit men)
Nyoss... aku mencret lagi :)
Okay, take it easy. Mungkin biarpun kamu gak semampu yang lain dibidang ini, tapi matematika masih tetap nerima kamu untuk berada dilingkungannya. Ngajarin kamu bahasa-bahasa tinggi tentang perhitungan dalam kehidupan. Misalnya integral ataupun deferensial. In life, kamu diajarin kalau susu itu integralnya sapi, terus deferensialnya susu itu jatuh ke keju. Atau, integral dari kamu adalah mamak plus ayah, turunan pertama daripada kamu adalah anak-anak lu, turunan keduanya itu cucu kamu, dan seterusnya.
Di matematika, kamu juga diajarin, biarpun kamj gak bisa memiliki dia, tapi paling enggak kamu bisa deket banget sama dia. Kamu kayak limit lah. Dia bukan punya kamu, tapi kamu deket banget sama dia.
Horrible banget kan?
Di geometry, kamu belajar, matematika ngasih pegertian, dengan dua buah titik kamu bisa membuat satu garis. But the most worst is, kamu sama matematika gak kayak dua buah titik yang bisa ditarik sebuah garis. Karena sejatinya, akj bukan titik yang sempurna buat ngeciptain garis yang perfect di kehidupannya si matematika. Aku gak pinter pinter banget. Jadi gimana aku bisa coba? berhubungan selamanya sama dia?
Next, dimatematika, kamu juga diajarin buat mengenal jati diri. We call it “identitas”. Opposite of identitas adalah “invers”. Jadi buat nemuin invers, kamu harus tahu dulu identitasnya apa. Identitas aku perempuan, jadi invers daripada aku adalah lelaki. The problem is, aku gak tahu identitas aku disini di matematika seperti apa, jati diri aku ini bagaimana, so how can I find my invers here in math?
So far, matematika ngajarin aku banyak hal. Tapi, aku kayak (negatif satu) sama (akar). Kalau disatuin, itu impossible banget ada dalam kehidupan. Aku bakalan dianggap imaginer kalau beneran nikah sama matematika. (it's true)
Aku bukan siapa-siapanya matematika. Bantu dia nyelesein masalahnya dia aja aku kesulitan, mandet, gabisa. Nemuin nilai x yang paling berharga aja aku sering nyerah. Jadi, aku merasa kayak debu gitu di kehidupan dia. Dan.... aku tetap harus dituntut jatuh cinta buat matematika. It’s insane. I can't hold it again. Nyoss... aku mencret lagi.
But... aku seneng disini. Aku nemuin hal yang sebelumnya gak pernah aku temuin, dan jadi bahan pikiran. Contohnya ya tulisan ini. Aku berasa bersyukur, kadang aku bisa nyelenehin sesuatu yang berkaitan dengan perasaan ke bahasanya matematika. (tapi jangan suruh aku buat ngerjain soal. Aku gak sejenius yang kamu bayangin, aku gak sepinter yang kamu harapin). Aku gak terdefinisi disini. Kayak nol. Setiap hal yang dibagi sama nol, itu namanya gak terdefinisi. Math per me, is undefined
Kamu tahu sesuatu gak?
Iya, aku mau-mau mencret lagi. Tapi gak jadi :)
Kadang, yang kamu suka itu gak jadi milik kamu. Tapi Allah ngasih sesuatu yang memang kamu butuhin untuk menjadi milik kamu seutuhnya. Jadi, kamu harus bersyukur.
Dua minggu yang lalu, ada kali ya. Iya, seingat aku dua minggu yang lalu, aku ada diskusi mendalam, we talk about love with my fourth brother.
Singkatnya gini:
Actually, relation happens because of needs. Not because of love. Dia bilang gitu.
And then, he told me that we are living in the cruel world. Only a crazy person who sucks in the romantic world will think that love is healing of all the pain.
Dia gak percaya ada yang namanya kisah romantis. Cuman orang gila aja yang suka banget terpesona sama dunia dongeng penuh baper gak jelas. Aku nangkapnya gitu.
“why you can tell that?”
Yeah, because I am a realistic person. I ever felt almost all the pain in my life. The romantic story is bulshit!
Nyoss... (enggak, enggak. Gak mencret lagi kok)
“So, you don’t believe about love? People said love is a sacrifice. How about that?”
Only love between God to human. That sacrifice belongs to God. Cause God never expect anything from the human.
It is different between human and human. I call it not love. But needs.
“how about mom and dad?”
Yes. They also make the relation, start with needs.
Terus, aku mikir kan. Jadi? Aku sama matematika itu namanya bukan cinta ya? Tapi kebutuhan?
Well... Allah nganugerahin matematika karena sejatinya aku butuh matematika, gitu? Atau.. matematika yang lagi ngebutuhin aku disini?
Kayaknya aku mulai ngerti. Kita berdua saling membutuhkan kali ya. Bukan cuman saling mencintai. Karena cinta tanpa saling memiliki, memenuhi, these all is fake.
Aku maklumin aja.
hahaha...
Thank you untuk pembaca setia.
Aku tutup pakai beberapa kalimat dari lirik lagu yang lagi aku suka
“you’re just too good to be true
Can’t take my eyes off of you
You’d be like heaven to touch
At long last love has arrived
I thank God I’m alive
Pardon the way that I stare
There’s nothing else to compare
There are no words left to speak
But if you feel like I feel
Please let me know that it’s real
You’re just to good to be true”
(maap aku agak ngalay nulis pakai english. Moodnya lagi gituan. Kalau salah ya tinggal dikoreksi aja ya, kamu boleh comment kok. Aku gak marah. Paling mencret) :)
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Comments