Hay taby, what’s up?
Kamu apa kabar?
Kali ini aku mau nulis ngalor ngidul aja deh.
In life, kita bakalan jumpa dan ngobrol sama orang. Mustahil kalau kamu cuman diam aja. Paling enggak, pasti kamu pernah ngobrol lewat chattingan, smsan, or else.
Manusia itu adalah spesies unique. Ternyata gak aku aja yang aneh. Kalian juga aneh.
Semua yang kalian omongin, kalian curahin, itu adalah benar, versi kalian. Bukan versi orang lain.
Well, aku jumpa sama banyak orang, katakanlah 10 orang, dan berarti ada 10 versi kebenaran menurut pribadi masing-masing.
Runyamnya adalah ketika kesepuluh versi kebenaran ini sebenarnya saling bertolak belakang.
Okay, let’s say like this:
“visi misi kamu sama orang yang kamu jumpai itu sama. But the way to reach it is different.”
Dan ketika jalan yang kamu tempuh ternyata berbeda dengan kesembilan temanmu, ada diantara kalian yang akan tersakiti. Pasti. Apakah kerana merasa tertinggal, dibuang, tidak dianggap, atau justru karena iri, dengki, dan sebagainya
Satu versi menggap diri bahwa dia benar, jalan yang sudah ditempuh sudah benar. Disisi yang lain dia gak mikir kalau bakalan ada yang tersakiti dengan jalan kebenaran yang dia lakukan itu. Toh itu adalah versi dia. Bukan versi orang lain.
Well, aku cuman bisa mendeskripsikan secara general saja. Aku gak bisa tulis secara gamblang. Boleh jadi akan ada hati yang tersakiti.
Tapi paling enggak, dengan tulisan ini, kita bisa sama-sama saling mengoreksi diri. Please, jangan egois. Gak semua visi misi itu dijalani cukup hanya dengan mementingkan ego diri. Ada hati yang tersakiti tanpa kamu ketahui. Atau... kamu tahu. Tapi kamu pura-pura gak tahu, kamu merasa gak bersalah. Toh teori kebenaran yang kamu miliki sudah benar. Padahal kamu lupa, memekakkan telinga, mata, dan hati nurani. Kamu tidak ingin merasa. Bahwasanya, kamu kurang baik dalam menempuh visi misi dengan teorimu sendiri. Kamu hanya memanfaatkan beberapa individu dengan tujuan yang sama. Selepas daripada itu semua, kamu pergi. Menyapa saja tidak lagi...
Yang terlebih parahnya adalah, kamu benar-benar sudah mati rasa. Kamu menzalimi manusia. Kata “maaf” saja tidak pernah lagi kamu ucapkan. Kamu tahu kenapa? “karena kamu menganggap, teori kebenaran mu sajalah yang benar. Yang lain, salah.”
Mengingat kasus yang demikian, aku jadi flash back sama cerita orang yang bawa keledai sama anaknya. Serba salah cuy. Serba salah. Aneh, ribet.
Masalahnya, aku lagi ada diposisi sebagai orang yang ngomongin si keledai, tuannya, dan anaknya.
Kadang aku merasa berdosa gitu deh. Ngeselinnya, keledai, tuan, dan anaknya justru nyakitin aku tanpa mereka sadari.
Terus, murkanya lagi, mereka gak peka.
In the end, si penulis jadi capek sendiri karena merasa tersakiti tapi gak bisa berbuat apa-apa. Cukup berlapang dada, senyum, dan terus bersahabat dengan keledai, tuan, dan anaknya. Berharap suatu saat, dengan hidayah Allah, mereka bakalan peka.
Ada quote, “akan ada orang yang menyakiti bertingkah seolah-olah dialah yang paling tersakiti”
Taiik. Giliran jumpa quote yang begituan, aku justru jadi refleksi diri lagi. Aku jadi bingung sendiri. Posisi aku sekarang lagi ada dimana ya?
Hahaha~
Wallahu’alam :)
Comments