Sudah lama aku tidak menulis panjang lebar disini.
Belakangan, ada beberapa hal yang mengganggu fikiran dan hati nurani.
Sesuatu yang memang salah, jika melibatkan nama Allah, beristigfar, namun masih tetap tenggelam dalam perbuatan yang sama, yang dilarang agama, berzina. Itu tetap salah hukumnya. Haram.
"Mencintai karena Allah"
Begitu kalimatnya...
Sungguh, Allah maha pengampun, maha pengasih lagi maha penyayang. Bagi orang-orang yang sudah mau bertobat, menangis, berazam tidak mengulanginya, meninggalkan hubungan yang tidak pernah ada dalam islam, yakni "pacaran". Semoga Allah mudahkan urusannya di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah ampunkan dosa-dosanya yang telah lampau. Semoga Allah tinggikan derajatnya karena sebenar-benarnya tobat yang dilakukannya. Amiin.
"Mencintai karena Allah"
Begitu kalimatnya.
Ini benar-benar mengganggu hati dan nurani.
Mengikat manusia, yang masih belum mahramnya, dengan kalimat "biarkan kita saling mencintai karena Allah". Dalam hubungan pacaran. Pacaran islami.
"Whatt?"
Apa maksud kalimat itu?
Melandaskan hubungan dengan nama Allah, namun bukan dalam akad yang semestinya.
Anehnya, hal-hal yang demikian umumnya justru dilakukan oleh orang-orang yang disegani, berpengetahuan, mengaji kesana kemari.
Orang-orang awam yang justru melihat, kemudian mencontoh, beralasan "toh si fulan yang mengajinya sudah tinggi saja juga punya pacar. Jadi apa salahnya? Lagian kan cuman pacaran islami. Saling ngingetin waktu shalat wajib, dhuha, tahajud."
Tidak ada urusannya.
Tidak ada penempatan yang pantas terhadap hal-hal ibadah yang seperti itu. Beribadah hanya karena manusia. Bukan lahir batin karena Allah. Memang setan itu pintar benar memanipulasikan sesuatu. Yang salah seolah-olah baik. Yang baik ditambah-tambahkan sehingga membuat kita menjadi sulit membedakan, benar atau salah.
Memang, tidak ada yang dapat mengukur tingkat keimanan seseorang. Biarpun berilmu tinggi bak tiang pencakar langit, namun nafsunya lebih melangit dari ilmu, apa boleh lah dikata. Orang-orang yang seperti itu pun kalah oleh dirinya sendiri.
Termasuk pribadi yang menulis tulisan ini. Sering benar aku dikalahkan nafsuku sendiri.
Setidaknya, orang-orang yang seperti itu, mereka berilmu. Hanya saja, imannya yang lemah. Berbeda dengan orang-orang bodoh, yang sudah bodoh, tidak ingin mencari tahu, justru mencaplak bulat-bulat sesuatu.
Namun, hal yang salah memang lah harus dikatakan salah. Tidak pantas membuat alasan terhadap yang salah demi kepentingan pribadi semata. "Katakanlah yang benar, walaupun itu menyakitkan".
Aku sadar, tulisanku kali ini mungkin agak memicu pro dan kontra. Terserah. Aku tidak peduli.
Aku perlu mengeluarkan pendapatku kali ini. Aku tidak mau sahabat-sahabatku berzina.
Sungguh, perkara "pacaran" ini benar-benar mengerikan. Mengikis habis keimanan.
Laki-laki baik, pacaran.
Sekali dua kali berjumpa, duduk berduaan.
Awalnya segan, kaku-kakuan.
Lama-lama pegangan tangan
Terus ciuman.
Satu-satunya kunci untuk terhindar dari itu adalah... dengan terang-terangan menghindari status pacaran, kegiatan pacaran, dan teman-temannya.
Sebaik-baik pria, menggombal sepucuk langit, bermanis kata memuji, tolong jangan dimasukkan ke hati. Jangan jadi baper gak jelas. Toh dia itu masih belum siapa-siapa.
Jadi ya biasa-biasa saja jika memang harus ditanggapi.
Aku sudah kehabisan kata-kata menasehati.
Sedih sekali rasanya melihat yang masih bukan siapa-siapa seperti sudah ada apa-apa. Abi ummi, putus, berubah menjadi anjing babi. Berkoar-koar, merusak silaturahmi.
Sudahlah, terserah kalian saja. Terserah versi kalian mencintai karena Allah itu seperti apa.
Toh kita hanya bisa saling mengingatkan. Watawa shaubilhaq, watawa shaubisshabr.
Tidak ada niat sedikitpun ingin menyakiti hati pembaca. Semoga kita semua selalu bisa bersama, didunia dan akhirat. Aamiin.
Comments