“Mengapa?”
“Mengapa langit lebih sering berwarna biru?”
“Mengapa bulan lebih terang saat purnama?”
“Mengapa kau wahai nur, lebih sering memakai profile picture hewan ketimbang wajahmu sendiri?”
“Ah, pintar nian kau berpuisi ratna. Padahal kau hanya ingin bertanya.”
“Ratna, aku tidak tahu jawaban dari dua pertanyaanmu yang pertama. Aku tidak tahu mengapa langit lebih sering berwarna biru, ataupun mengenai bulan. Tanyakan sendiri pada guru mata pelajaran IPAmu.”
“Ratna, boleh aku bertanya?”
“apa nur?”
“Mengapa kau lebih sering tersenyum ketika sedang berjumpa dengan hamdan?”
Ratna tersenyum malu, mengalihkan lirikan mata dari nur, menatap hamdan yang sedang diseberang sana dibawah pohon. Hamdan sedang bercengkrama dengan temannya.
“Ratna, mengapa kau tersenyum? Jawab pertanyaanku.”
“nur, kau kan tahu aku menyukai hamdan sejak lama.”
“Begitupula dengan jawabanku.”
“apa? Jadi kau jatuh cinta kepada setiap gambar hewanmu itu nur?”
“Hahaha... bukan ratna. Bukan. Bukan seperti itu maksudku.”
“atau... kau merasa minder nur? Kau merasa tidak cantik?”
“Bukan ratna. Bukan.”
“jadi?”
“Ratna, aku sedang menjaga hatiku dari orang yang sama seperti kau kepada hamdan. Aku sedang menyimpan senyumku untuknya.”
“Lah, bukankah justru dia nanti bisa lebih sering melihatmu tersenyum didalam foto?”
“Ratna, kalaulah aku memasang foto profile dengan wajahku sendiri, hanya kau saja yang bisa melihat senyumku. Tidak dengan orang yang aku suka.”
“maksudmu? Dia tidak bisa melihatmu nur?”
“Iya ratna. Tidak bisa.”
“jelaskan kepadaku nur, siapa dia yang tidak bisa melihat foto profilemu? Siapa dia yang kau maksud sama seperti hamdanku yang tampan? Siapa?”
“Ratna, orang yang aku maksud, tidak akan setara seperti kau kepada hamdan.”
“dia buta nur”?
“Kau yang buta ratna. Bukan dia” -_-
“jadi?”
“Ratna, bagaimana perasaanmu jika kau lebih menebar gembiramu dihadapan orang lain selain hamdan?”
“Ah nur. Kau justru bertanya, bukannya menjawab pertanyaanku. Siapa dia nur? Katakan kepadaku!”
“Ratna, kau jawab dulu pertanyaanku. Bagaimana kira-kira perasaan hamdan ketika kau lebih sering menebar pesona kepada selain dia?”
“tentu saja, mungkin hamdan akan cemburu.”
“Begitulah aku dalam menjaga perasaannya, ratna. Namun dia bukan tipe pencemburu. Hanya aku saja yang tidak ingin menebar pesonaku.”
“wah nur, aku baru tahu, ternyata kau wanita setia. Saking setianya kaupun sampai tidak ingin mengatakan tentang siapa dia? Kau keterlaluan nur! Demi dia kau menyimpan bahagia dan cinta hanya untukmu sendiri! apalah gunaku sebagai sahabatmu? Kau tidak menganggapku sebagai sesuatu? Aku kecewa padamu nur!”
“Ratna... dia ibuku”
“Bagaimana bisa aku lebih sering menunjukkan senyumku kepada yang lain jika ibuku sendiri jarang melihat senyumku?”
“Bagaimana bisa ketika aku mengganti profile dengan senyum termanisku, orang-orang melihatnya, memujinya, namun ibuku tidak bisa melihatnya, tidak bisa memuji anakknya. Kemudian apa tujuanku menguploadnya?”
Ratna terdiam...
“Tebar pesona kepada siapa aku? Kalau dia yang mencintaiku saja tidak tahu bagaimana rupaku selama merantau disini.”
“Bagaimana aku bisa menebar senyumku selayaknya kau menebar senyummu kepada hamdan?”
“Beliau sudah tua ratna, tidak pandai seperti hamdan yang bermain telefon pintar.”
“Beliau sudah tua ratna, tidak pandai bermain whatsapp seperti kau dan hamdan.”
“Jadi untuk apa aku lebih sering mengganti gambar profileku jika orang yang aku inginkan untuk melihatnya justru tidak bisa melihatnya.”
Ratna masih terdiam....
Kemudian dia berkata “maafkan aku nur, aku tidak tahu dia adalah ibumu. Maafkan aku nur. Aku diam karena malu kepadamu. Aku malu nur. Malu sekali. Maafkan aku nur. Aku lupaa. Bagaimana bisa aku lebih sering menampakkan rupa terbaikku kepada hamdan dibandingkan kepada ibuku sendiri. Setiap hari dirumah aku berjumpa dengan ibuku, namun aku lupa tersenyum manis kepadanya seperti aku tersenyum manis kepada hamdan.”
“nur, aku malu. Nur, aku akan pulang dan memberikan senyuman terindahku kepada ibu.”
Ratna kemudian pergi meninggalkan nur, dia berlari pulang ingin segera berjumpa dengan ibunya.
“Dasar kau ratna, teman egoisku. Dasar. Kau tinggalkan pula aku disini sendiri. Dasar kau. jumpa ibunya si hamdan saja ah”
Nurpun mendapatkan ibu baru. Sang mertua, ibunya si hamdan. Bhahahaha....
Comments