Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

CINDERELLA SOMBONG 096 PMA'16

Malam sayang, Malam tulisan, malam kertas putihku...
Malam jiwa-jiwa yang kesepian, malam jiwa-jiwa yang penuh syukur. Apa kabar?
Apakah engkau melewati batasmu?
Entahlah.
Aku ingin bercerita, malam ini rasanya sedikit aneh. Entahlah. Rasanya seperti cinderella PMA. Hahaha.
Apakah aku sudah melewati batas?
Entahlah. Sungguh, jika memangpun benar aku sudah melewati batas, maka yang aku harapkan, batas yang aku lewati adalah batas kanan dari nol pada sumbu x. Aku menghendaki batas positif.
Iya, benar. Akulah manusia yang sedang menciptakan teori melewati batas versi diriku sendiri, menggunakan konsep matematika pada garis bilangan.
Bukankah setiap manusia mempunyai batas?
Batas berfikir?
Batas bekerja?
Batas belajar?
Batas yang sesuai kemampuan?
Batas waktu?
Yaps. Kita mempunyai batas.
Aku masih mengingat, nasehat saudaraku. “adek belum pernah kan berusaha sampai melewati batas kemampuan adek? Makanya coba dek! Baru boleh adek mengeluh mengenai hasil kalau adek sudah berusaha berjuang sampai melewati batas maksimal dari kemampuan.”
Sungguh. Setiap kata yang aku anggap penting, sampai detik ini masih terngiang-ngiang di otakku. Aku tidak perduli dari siapapun itu. Selama kata itu mampu membuat hati ini terenyuh, masuk ke kepalaku. Maka dia adalah saudaraku. Dia adalah guruku.
Yaps, kembali kita berbicara mengenai batas. Aku mulai menciptakan teori abal-abal versiku sendiri. Entahlah, aku tidak tahu, apakah sudah pernah ada sebelumnya?
Entahlah.
Anggap saja, 0 (nol) adalah sebagai batas kita setiap individu dalam melakukan suatu apapun. Ketika kita melakukan kebaikan, maka positiflah yang kita dapatkan (Z positif). Ketika kita melakukan keburukan, maka negatif adalah harga yang semestinya kita dapatkan (Z negatif). Wajar saja, karena invers daripada kebaikan adalah keburukan. 1 kebaikan, jika di inverskan maka adalah -1.
Malam ini, aku tidak tahu. Entah kebaikan, entah inversnya.
Aku rasa aku sudah melewati batasku. Aku tidak suka berdesak-desakan. Laki-laki dan perempuan. Berapa kali aku berada dalam posisi yang berhimpitan? Ah sungguh kadang aku kesal. Ah. Ah. Dan ah.
Ya. Sudahlah. Toh aku juga tidak sengaja. Toh Allah juga maha tahu. Aku tidak sengaja.
Sudah 3 hari aku menghadiri event besar tingkat fakultas ini. Alhamdulillah tahun ini pekan exponya hampir sama besarnya dengan tingkat universitas. Temanku pernah berkata “ta, acaranya tarbiyah fair kok hampir sama ya besarnya seperti UIN fair?” aku menjawab “ya wajar saja, toh bukankah tarbiyah merupakan partisi terbesar dari UIN?”
“oh iya juga ya”
Yaps. Disini ramai. Seluruf prodi pendidikan dibawah naungan fakultas tarbiyah mulai berlomba-lomba menghias stannya masing-masing, memperebutkan manusia untuk berkunjung, menciptakan image bahwa stan prodi kamilah yang paling menarik perhatian.
Stan kami juga ramai, justru selalu ramai, penuh. Orang-orang berlalu lalang, masuk-keluar, berdiri. Selalu penuh. Tentu saja, stan kami banyak peminatnya. Stan mahasiswa tarbiyah prodi pendidikan matematika universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
Ohhiya, perkenalkan, aku adalah bagian dari si sombong letting 16. Nomor urutku adalah 3 digit terakhir dari nim, yaitu 096. Panggillah aku 096.
Malam ini, demi saudara sombongku yang seleting, aku menjelma menjadi tokoh disney.
Sebelumnya kuingatkan, apapun yang aku tulis disini, adalah apa yang aku suka. Apapun itu, kertas putih ini adalah garis bilanganku. Suka-suka hatiku ingin berkhayal menarik kurva tulisan yang seperti apa. Suka-suka aku. Wkwkwk.
Okay, lanjut kembali cerita disneynya.
096 pada malam selasa. Aku berubah menjadi cinderella. Kau tahu cerita cinderella? Yang ingin ke pesta dansa di istana dan berjumpa dengan sang pangeran? Namun dia harus kembali tepat pukul 00:00 Wib sebelum sihir dari ibu peri menghilang.
Tentu saja aku bukan cinderella yang seperti itu. Toh aku juga tidak punya ibu peri. Toh jika pun ada, ibu periku tidak seperti ibu perinya si cenderalla dalam dongeng. Ibu periku nyata, tak bersayap. Setiap bulan beliau menyihir rekeningku dengan jajan. Yaps, sihir beliau begitu menakjubkan, tidak akan hilang meskipun pukul dua belas malam. Hahaha
Kau bercanda? Aku? Dan pangeran? Mimpi. Pangeranku tidak suka pergi ke pesta dansa. Jadi, bagaimana bisa aku berjumpa dengannya? Ah sudahlah. Pangeranku masih berupa katak dalam tempurung. Dia masih menunggu waktu untuk berubah menjadi nyata layaknya manusia seutuhnya. Anggaplah dia masih berada di rimba. Hanya Allah swt yang tahu.
Jadi, aku merasa adalah sebagai cinderella untuk malam ini karena aku harus pergi kesebuah pesta. Iya, anggaplah acara tarbiyah fair ini adalah pesta. Pesta yang diadakan pada malam hari. Aku memilih untuk datang, aku memilih meninggalkan zona amanku dari dalam kamar. Berat sekali rasanya meninggalkan hujrati jannati.
Aku adalah cinderella yang demi keluarga barunya berusaha melewati batas waktu yang sudah penjaga kos berikan. Seharusnya aku tidak boleh keluar melewati dari pukul 10 malam. Sihirku akan hilang. Pintu pagar yang biasanya aku sapa, dia akan menutup diri dariku. Dia tidak akan terbuka. Aku tidak akan bisa kembali ke surgaku.
Keluarga baru? Ya, aku rasa iya. Mereka adalah sombong 16. Keluarga baruku adalah mereka. Jangan tanya mengapa keluargaku bernama sombong. Jangan tanya. Kau akan menyesal. Karena jikapun kau bertanya, kau akan merasa “krik krik krik” atau kau akan dianggap seperti “penjual kacang goreng”. Saking sombongnya, untuk menjawab pertanyaan sesama keluarga saja kami malas. Aku khususnya. Aku termasuk sombong untuk merespon pertanyaan ataupun jawaban dari keluarga sombong. Maklum lah, aku kan juga sombong. Maafkan aku.
Aku melewati batas waktu yang sudah dijanjikan oleh penjaga kos dengan pagar. Aku masih belum pulang. Padahal ini sudah pukul setengah sebelas malam. Toh tidak apa-apa. Karena malam ini, demi menonton pertunjukan keluarga sombong, demi mendukung mereka, malam ini, justru aku yang mengeluarkan sihirku. Aku meminta izin kepada penjaga kos.
Aku? Si penyihir? Kau percaya? Tentu saja tidak berhasil. Hahaha. Mana boleh aku kembali. Tentu saja tidak bisa. Namun seperti biasa, aku si 096. Jika aku mau, penjaga kos tidak bisa menolaknya. Toh kunci pagar yang aku tawarkan adalah kunci kejujuran. Mereka percaya, aku bisa kembali dengan syarat “tidak boleh seorangpun yang di kos ini kecuali penjaga kos saja yang tahu bahwa aku pulang dengan waktu yang melewati batas”. Karena jika yang lain tahu, maka akan bermunculan lagi cinderella-cinderella yang lain, yang menawarkan kunci kebohongan dan kepalsuan dari perkataan. Beginilah awal ceritaku sebagai cinderella pada malam ini.
Dan bagaimana dengan kostum cinderella? Kau berharap malam ini aku menghadiri pesta dengan gaun biru muda? Oh tuhan. Tolong ya. Ini pesta yang sama sekali tidak pernah terbesit difikiranku untuk memakai daster yang seperti itu. Eh, gaun yang seperti itu. Outfitku sederhana. Kaos oblong hijau lumut, kemeja kotak-kotak, dan celana kain andalan 096. Aku menyukai costumku yang sederhana-sederhana saja.
Celakanya, malam ini aku ternyata berjumpa dengan ustadzah dari asrama. Ustadzah merindukanku malam kemarin, zahrina juhaira menceritakannya. “096, ustadzah merindukanmu, semalam beliau bertanya seakan apakah benar ustadzah mendengar suaranya 096?” zahrina menjawab “tentu saja tidak ustadzah, 096 tidak lagi berada di asrama. Ustadzah merindukannya?” “iya.”
“ayo 096, ustadzah juga hadir disini malam ini. Beliau merindukanmu, itu beliau, ayo kamu harus berjumpa dengannya.”
Dan.....
WHAT? Kamu serius zahrina? Kau tahu aku malam ini tidak memakai rok? Kau tahu itu.
Apalah daya, ini pilihanku malam ini. Aku tidak terlalu suka yang berumbai-rumbai, baiklah. Apapun outfitku, selama sopan, ya sudah. Ayo.. aku akan berjumpa dengan  ustadzah.
Inilah pengganti pangeran dalam cerita cinderella versiku. Aku berjumpa guruku dengan gaun yang membuat beliau memerengkan sebelah alisnya.
“ustadzah..... salam ustadzah” “hei... 096, lama kita tidak berjumpa. What? Kamu memakai celana?”
Aku masih seperti biasa, tetap percaya diri dengan apapun yang sudah aku putuskan untuk malam ini. Termasuk outfitku.
“iya ustadzah, I’m wearing trousars, tapi ini kain. Longgar kok. Hahahaha aku masih berusaha membela diri” sungguh. Cinderella macam apa ini? Hahahaha.
Singkat cerita, ustadzah tetap tersenyum dan sayang  kepadaku karena beliau mengenalku dengan baik selama di asrama. Aku tidak muluk-muluk. Aku apa adanya. Dan beliau menerimaku. Aku sayang pada guruku. Aku tidak main-main, kelak nanti, jika ada waktu luang, aku akan menginap diasrama lagi. Maafkan muridmu ini ustadzah lia dan ustadzah zahara. Lol.
Sudah pukul sebelas malam. Aku menunggu keluarga sombongku, mereka masih belum tampil juga di atas panggung pesta yang sudah dipersiapkan. Aku khawatir, sihir kejujuranku akan hilang. Aku khawatir. Oh akhirnya, mereka tampil. Aku penasaran, penampilan seperti apa yang sudah mereka persiapkan? Aku tidak sabar menonton pertunjukan ini.
Dan... tahukah kau? Aku tertawa terpingkal-pingkal. Pertama. bukan karena dramanya, melainkan karena teman gayoku yang tidak mengerti bahasa aceh namun tetap berusaha tertawa demi tidak membuat garing drama sombong yang bergenre komedi ini. Iya benar, aku tahu drama ini lucu. Drama ini lebih sering berdialog menggunakan bahasa aceh. Dan teman gayoku, tidak mengerti, namun tetap tertawa. Wajar, jika aku terpingkal-pingkal sendiri. Lol. Maafkan aku.
Kedua, aku tertawa ya karena lawakan mereka memang lucu. Drama ini bercerita tentang sekelompok pemuda yang mengidam-idamkan seorang gadis cantik. Nah ketika sekelompok pemuda ini sedang berkumpul, muncullah gadis cantik yang diidam-idamkan tersebut. Kau tahu? Yang berperan sebagai seorang gadis adalah temanku yang laki-laki. Kau coba bayangkan saja, dia si laki-laki memakai gamis perempuan lengkap dengan hijabnya. Wow. Itu pengorbanan martabat dan harga diri demi drama lawak sombong 16. Aku salut dengan mereka. Aku salut dengan keluarga sombongku. Mereka percaya diri dan “gila” apa adanya. Wah... luar biasa. lol
Eitss, tunggu dulu. Sudah pukul berapa sekarang? Wah sudah setengah dua belas malam. Aku harus segera bergerak kembali kedalam kandang. Sudah waktunya aku berhibernasi. Hahaha. Akupun pulang, aku menyelesaikan menonton pertunjukan keluargaku.
Aku sampai di kos tepat sebelum pukul dua belas. Aku berhasil kembali ke garis bilangan kehidupan versiku. Namun aku tidak tahu, di bilangan mana aku sekarang? Positif? Atau negatif? Walllahualam.
Malam cinderella PMA 096~

Comments

Popular Posts