Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

15 Desember 2017

Salam...
Selamat datang 15 desember. Alhamdulillah kita masih dipertemukan. Aku semakin berumur, almost twenty, almost....
Yes i’m 19.
Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku perbaiki di 18 kemarin?
Apa yang membuat kehidupanku lebih berarti ketika aku membuka mata dipagi hari dan kemudian menutup mata dimalam hari?
Apa yang aku keluhkan disetiap hari?
Apa yang aku syukuri?
Apakah yang sudah aku lakukan membuat hidupku lebih berarti? Lebih berkesan dimataku sendiri? Keluarga? Sahabat? Guru?
Apakah kehadiranku di dunia selama 19 tahun ini hanya kesia-siaan saja?
Apa saja yang begitu sibuk aku pikirkan dan yang aku tinggalkan?
Pertanyaan-petanyaan itu selalu bergentayangan di setiap 15 desember.
Kadang aku merasa aku masih kecil, belum pantas untuk ini dan itu. Ah aku masih kecil. Namun sampai kapan aku merasa bahwa aku masih kecil? Sampai kapan?
Dulu ketika SD mereka masih memangggilku adek, SMP aku masih menganggap diri juga sebagai adek, SMA? Aku juga masih adek. Bukankah anak kuliahan jika bertemu denganku mereka akan  memanggilku sebagai adek?
Dan sekarang.... aku sudah semester 3. Sebagian teman-teman yang sepataran denganku justru diatara mereka sudah ada yang menikah. Ketika teman-teman yang seumuran denganku sudah berani melangkah melebihi fikiranku diumur yang sekarang ini, aku justru masih berfikir bahwa aku sebagai seorang adek? Sedangkan mereka sudah melakapkan nama sebagai seorang istri?
Oh.
Tidaakkk...
Aku sudah semakin dewasa. Umurku sudah menuntutku menjadi yang ditertuakan. Keponakanku sudah lima menjelang enam. Aku sudah dipanggil sebagai cek bun, bukan dek cut lagi. Aku sudah dipanggil sebagai kakak oleh adik-adik semester satu. Bukan dek cut lagi. Bukan dek fadhilah lagi. Bukan dek ata lagi.
Jika sampai sekarangpun aku masih menganggap diri sebagai adek, karena masih ada seniorku yang lebih tua, maka sampai kapan gelar adek itu akan selalu kugenggam? Mungkin beberapa tahun yang akan datang aku akan berada diposisi mereka. Aku akan menjadi senior berikutnya. Apakah aku masih adek juga? Apa-apaan... Kau sedang bermimpi Fadhilah Ata? Sadar! Bangun!
Jadi, masalah terbesarku yang pertama adalah, aku masih menganggap diri sebagai anak kecil. Aku masih memposisikan diri sebagai seseorang yang belum pantas untuk ini dan itu. Aku masih menganggap bahwa tanggung jawabku tidak sebesar tanggung jawab orang lain. Aku masih suka berfikir, ah itu bukan hakku, ah itu bukan dimasaku. Aku masih belum berani mengambil alih pikiranku sendiri. Aku masih kurang dalam menjaga hati dan mengontrol diri. Aku masih dikuasai dunia kekanak-kanakanku sendiri. Padahal umurku.... almost twenty.
Taby...
Aku berbicara padamu. Aku mengetik setiap abjad ini untukmu. Aku bercerita. Aku tahu tidak setiap telinga mampu mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan.
Mengingat hadist yang sering aku bawakan beberapa tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang ini kadang masih sering aku menyampaikannya. Diriwayatkan oleh Baihaqi.
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
Aku masih mengelabui diriku. Sulit sekali rasanya mengontrol jiwa menjauhkan diri dari hal-hal yang menggembirakan namun kurang faedahnya. Sulit sekali.
Aku tahu aku masih muda, aku tahu aku masih sehat, aku tahu aku masih punya seseorang untuk berharap jika aku nmembutuhkan sesuatu, aku tahu aku masih belum sesibuk yang lain, aku tahu aku masih hidup. Namun, disela-sela rahmad itu semua, apa yang sudah aku lakukan?
Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 13:
(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Masalah terbesarku berikutnya adalah aku sulit mengatur waktu. Aku sulit memilah antara mana yang lebih perlu untuk diprioritaskan. Aku masih sering lalai... aku masih muda, namun aku masih kurang berkontribusi terhadap diriku sendiri. apalagi untuk orang lain. hahaha
Aku tahu, banyak ungkapan yang menyuruh kita untuk bersegera dalam melakukan segala sesuatu. Aku bisa menghafalnya, namun praktekku terhadap manjemen waktu dan pengerjaannnya yang masih membuatku amburadul selama 18 tahun ini.
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “
Qs. Al- Insyirah ayat 7 dan 8
(فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ)
(وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ)
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Wah.. ya Allah. Sulit sekali rasanya bersegera dalam melakukan sesuatu :’V
Kemudian, ketika aku mengeluh, kenapa ya orang lain bisa, tapi aku tidak bisa seperti dia. Kenapa ya?
Nah, kalau yang ini, aku punya jawabannya. Jawabannya adalah karena musuhku. Dan.... musuhku itu adalah justru diriku sendiri.
Kemarin aku menonton sebuah video, videonya kak gita savitri devi di youtube. sekilas aku mengutip kalimat dari bapak Baharuddin Djusuf Habibi. Kurang lebih begini: “ ada orang yang satu jam dia dapat 20 euro, tapi ada orang yang 1 jam, dia dapat 1000 euro. Tetapi tiap orang itu diberikan oleh tuhan yang maha esa Allah swt, tiap orang itu tidak diberikan lebih oleh Allah swt 24 jam, tiap hari. Nah, jadi kita tidak ada alasan, karena semua itu ciptaan dari Allah swt.” (https://youtu.be/Bnbsc5IZmAM) (menit ke 17:17)
Wah, setelah mendengar beberapa kalimat tersebut. Jlebb... gitu. Hahaha. Allah maha adil. Cuman aku sendiri yang bermasalah, hahaha. Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa musuhku, adalah diriku sendiri. jangankan bermusuhan dengan manusia lain, mengendalikan diri sendiri saja aku kewalahan. Semoga 15 desember tahun ini, aku bisa berdamai dengan diri sendiri. hahaha amiin.
Kemudian, masalah terbesarku berikutnya adalah mengenai shalat.
Mengingat teguran Allah didalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un ayat 4-5
(فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
Aku masih sering tidak khusyu’, kadang-kadang terbayang bang lee min ho, pikiran menghayal kemana-mana. Hahaha, fagfirli yaa rabi. Amiin.
Ohhiya, alhamdulillah. Aku juga bersyukur, mengucapkan terimakasih kepada manusia-manusia tercinta. Keluarga. Aku juga punya guru-guru yang sabar sekali dalam mengajariku, Punya teman-teman yang baik hatinya, punya sahabat yang pengertian. Mereka tahu, biarpun aku jarang menulis nama mereka, menyebut nama mereka, jarang mengepost foto bersama mereka, insyaAllah mereka tahu, aku sayang sama kalian. Lol
Terimakasih untuk semuanya, ucapannya, doa-doanya, kadonya. Terimakasih sudah bersama Fadhilah ata.
Untuk mamak dan ayah, aku harus tulis apa lagi?
Hahahaha, iya, terimaksih sudah melahirkan, memberi nama, memberi segala fasilitas dunia penunjang akhirat, sudah memberikan teladan, pendidikan karakter, nasehat, dan sebagainya.... wes. Banyak.
Terimakasih sudah mau membaca tulisan ini. Semoga kita saling berbagi guna kebaikan dunia wal akhirat.
Biarlah tulisan kali ini aku tutup dengan nasehat. Berkata sayyidina Lukmanul Hakim kepada putranya, “waspadalah engkau terhadap satu perkara, yang mana perkara tersebut sangatlah berbahaya”.
“apakah itu, wahai ayah?”
“jangan sampai engkau dilihat manusia bahwa engkau adalah orang yang takut kepada Allah, sementara hatimu penuh dengan kemaksiatan.”
Sampai jumpa 15 desember berikutnya, jika masih Allah berikan kesempatan.
Wassalam~

Comments

Popular Posts