Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

Si Gadis Diseberang Tembok

Dear taby...
Malam ini malam minggu. Malam ini aku di rumah sakit zainal abidin.
Dear taby...
Disamping kamar rawat inap ini, ada keluarga yang sedang kehilangan. Kehilangan orang yang mereka cintai dalam kehidupan dunia.
Dear taby...
Abang bilang malaikat maut setiap hari 70 kali beliau melirik kita setiap manusia.
Malam ini, kamar disebelahku. Malaikat maut datang melewati kami. Melirik manusia disebelah kamar kami.
Dear taby...
Seorang gadis perempuan menangis diseberang tembok kami. Iya, dia menangis sambil memanggil mama... mama.....
Aku tahu, dia sedang kehilangan mamanya.
Taby,...
Aku sedang memegangmu. Abang menyuruhku meletakkanmu sejenak.
Taby, kami diam. Iya, kami diam.
Dalam kamar ini, kami hanyut dalam sepi. Tidak berani riuh sama sekali. Menghormati keluarga dibalik tembok yang sedang sedih kehilangan manusia yang mereka sayangi.
Taby,...
Malam ini abang mengajakku merenung. Andaikan kita yang berada diposisi mereka. Maka... pasti kita juga merasa sedih.
Abang mengajakku untuk berempati.
Baik, bang. Aku, kakak ipar, berusaha sunyi. Diam. Merenung. Berusaha menggali empati dalam diri.
Taby,...
Abang bilang, jikapun sesuatu terjadi kepada kami seperti keluarga diseberang tembok ini, aku dilarang untuk menangis seperti si gadis tadi.
Aku menjawab. Bagaimana bisa? Aku pun seorang yang rapuh hatinya. Apabila orang yang aku sayangi pergi, akupun akan hancur pula. Aku pasti akan menangis. Maaf bang. Yang satu ini, agak sulit untuk aku patuhi.
Taby...
Abangku masih mengajak berempati.
Dan dia juga masih mengingatkan. Jangan sampai nanti adek menangis seperti ini.
Akupun masih menolak nasehatnya yang ini. Pasti sulit sekali. Iya aku tahu. Menangispun tidak boleh sejadi-jadinya. Aku paham.
Taby,..
Ternyata benar. Mama si gadis sudah pergi. Malaikat maut benar-benar datang tadi.
Entahlah, apakah beliau juga melirik kami?
Wallahualam. Abang masih saja mengajak kami berempati.
Malam ini, yeah. Malam ini. Malam minggu si gadis sebelah tembok yang sedang berduka.
Aku masih dalam diam. Semoga selalu dalam lindungan Allah swt. Amiin.
Ohhiya, malam ini. Aku juga mendapatkan banyak cerita. Seperti dongeng dimalam hari. Pengantar tidur dalam mimpi. Aku sudah berpetualang. Biarpun duduk diam disini, namun aku tahu banyak hal disana. Dari cerita manusia kepadaku.
Jadi, selamat malam~

Comments

Popular Posts