Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

MIMPI

Hey, tadi aku bermimpi tentangnya.
Dia mencariku...
Dalam mimpi itu, aku melihatnya membawa sepeda motor. Oh tuhan, dia penuh gaya.
Saat itu sedang hujan...
Dalam mimpi itu, aku kabur dari rumah. Aku takut. Aku membenci saudara-saudaraku. Mereka memeriksa setiap pesan yang aku kirim. Termasuk pesan percakapanku dengannya.
Yaa..
Aku kabur.
Dalam mimpi itu, aku melarikan diri dengan sepeda.
Dalam hujan itu, aku mengayuh sepeda. Kencang.
Aku sampai di sebuah komplek perumahan. Di tepi jalan komplek, aku melihat ada rumah pohon. Aku mampir berteduh disana. Aku naiki pohon itu, ada tangganya juga yang sudah sengaja dibuat. Komplek ini begitu asri, hijau. Banyak pohon besar-besar disini. Aku menyukainya.
Yaa, aku basah. Bajuku basah, rambutku juga basah didalam kerudung putih ini.
Sepedaku aku parkirkan tepat dibawah rumah pohon ini.
Di bawah rumah pohon, aku melihat teman-teman disana. Mereka mencari-cariku.
"Fera.. fera...."
Mereka memanggilku dari bawah sana.
Aku tidak ingin berjumpa dengan mereka. Aku ingin sendiri. Menenangkan diri disini. Namun dilain sisi, aku membutuhkan mereka. Aku senang mereka disini, akhirnya menemukanku.
"Iyaaa.... aku disini"
Baru sempat aku menyahut panggilan, dari arah ujung jalan sana ada seorang pengendara sepeda motor. Iyaa, dia. Dia datang juga. Dia datang mencariku juga. Sungguh dalam batin, "oh tuhaan, ternyata dia juga mengkhawatirkan aku"
"Jangan biarkan rio tahu aku disini. Katakan padanya, kalian masih belum menemukan aku." Aku berteriak kepada mereka.
Kemudian aku tiarap didalam rumah pohon itu. Tentu saja, aku malu berjumpa dengannya. Dia yang telah membuat aku malu dengan diriku sendiri.
Aku mengintip. Rio sedang bercakap dengan temanku raisa, ira, dan nina. Teman-temanku mengatakan "tidak ada fera disini, kami juga masih belum menemukannya"
"Jadi, itu sepeda siapa yang dibawah pohon?" Rio bertanya kembali.
Dalam hatiku, "ah sial. Kenapa pula dia melihat sepedaku."
Wah, aku deg-degan sekali. Pokoknya jangan sampai rio menemukan aku. Sungguh aku malu. Benar-benar malu.
Nina menjawab "oh, kami sudah memeriksanya, benar itu sepedanya fera. Tapi fera tidak kami temukan, dia juga tidak ada di atas rumah pohon."
"Ohh, baiklah kalau seperti itu. Aku akan mencarinya lagi".
Aku melihat dari balik papan rumah kayu yang bercelah, rio dengan gagahnya memutar haluan sepeda motornya, berbalik arah, mengegas kencang dalam hujan, melesat kembali ke jalanan komplek. Berusaha menemukan aku.
"Hufft, lega". Yups. Aku tidak ingin ditemukan olehnya.
Aku tahu, sebentar lagi dia akan kembali. Tetap mencariku disini. Aku takut dia benar-benar pula kembali ke rumah pohon ini. Aku memutuskan untuk turun dari rumah pohon. Aku bergegas ke arah raisa, ira, dan nina.
"Aku harus segera pergi, aku tidak ingin dia kembali menemukan aku disini."
"Baiklah fera, hati-hati. Kami tahu perasaanmu" jawab teman-temanku.
Seolah langkah semakin berat untuk melarikan diri. Dibawah derasan hujan ini, saat aku ingin mengayuh sepeda kembali, justru aku terjerembab di dalam lumpur. Aku basah sebasah basahnya. Aku kotor. Percikan lumpur itu pun mengenai wajahku.
Dari ujung jalan sana, aku melihat, rio dengan sepeda motornya kembali ke arah sini. Teman-temanku berteriak "fera ayo cepat bangkit, larii. Rio kembali lagi kemari"
Sungguh. Badan ini rasanya berat sekali. Aku ingin bangkit dari lumpur. Hujan masih saja turun dengan deras. Semakin aku berusaha bangkit, semakin pula aku terjerembab. Jalan ini juga sungguh licin.
Aku mulai panik. Jangan sampai rio menemukan aku. Apalagi dengan kondisi seperti ini. Jantungku semakin tidak karuan saja.
Aku masih berusaha bangun dari lumpur. Suara deruan sepeda motor rio semakin jelas aku mendengarnya. Pertanda bahwa dia sudah semakin dekat.
Oh tuhan, jangan sampai aku tercyduk di dalam lumpur ini olehnya.
Semakin kuat aku berusaha untuk bangkit. Aku gesek-gesekkan kakiku untuk bangun. Kemudian aku sadar. Ini bukan jalan yang berlumpur, melainkan kasur. Wah... akhirnya aku keluar dari alam mimpi. Syukurlah, dia tidak menemukan aku di mimpi. Hufft. Syukurlah.
Kemudian aku tertawa. Mimpi macam apa ini?
Kenapa pula aku harus kabur dari rumah hanya karena saudara-saudaraku membaca pesan-pesan yang biasa-biasa saja itu?
Hahaha.
Kenapa pula aku harus malu untuk bertemu dengannya?
Memangnya dia siapa?
Inilah mimpi.
THE END~

Comments

Popular Posts