Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

TUKANG TIDUR

Dari judulnya saja, seharusnya kamu tahu, aku sedang menyindir diriku sendiri.
Dari Dubai, Maroko, sampai Turki. Aku sudah dikenal, si tukang tidur.
Anehnya, mereka masih tetap respect kepadaku. Mereka tidak memanggilku sebagai si tukang tidur, melainkan tetap dengan namaku. Mereka rajin menyapaku, bersedekah senyum untukku, berbicara ramah denganku. Padahal siapa aku?
Yups.
"Si tukang tidur"
Dari Dubai, maroko, sampai turki, aku dikenal.
Mereka tahu namaku. Setiap berjumpa, mereka memanggilku.
Di chattinganpun begitu, mereka menyimpan nomorku dengan namaku.
Sedangkan aku?
Lupa dengan nama mereka. Maafkan aku.
Aku hanya membalas dengan senyuman dan cekikikan riang, tidak sampai balik memanggil nama semua. Bukan karena aku tidak mau, tapi memang karena aku tidak ingat. Maklumi saja, sekali lagi maafkan aku. Bukan karena aku sengaja lupa. Tapi memang benar karena aku tidak ingat. Maafkan aku. Maka oleh karena itu, sering-seringlah berjumpa denganku, tersenyum, dan saling menyapa nama.
Kau tahu?
Kenapa aku dipanggil "si tukang tidur"?
Maklum saja, aku bisa tidur dimanapun yang aku suka. Aku tidak akan bangun tanpa sekehendak mauku. Oleh karena itu mereka tidak menggangguku meskipun aku tidur.
Aku tidak ada masalah dengan perkara absent dipagi buta. Absent sudah mengenalku, yang mengabsent juga sudah memahamiku. Jadi untuk apa lagi aku berpura-pura lupa ataupun sakit. Bahwasanya yang kulakukan adalah tidur. Mereka sudah tahu itu.
Kau tahu?
Namaku sudah menghibur banyak wajah diruangan rapat. Itu hanya namaku saja. Belum wujudku yang dipanggil kesana. Belum. Dan semoga jangan.
Aku adalah anak yang jujur. Seburuk-buruk yang kulalui akan kukatakan seperti itu.
Sudah dari awal aku berterus terang, jadi, mereka sudah memakluminya. Justru mereka malah tertawa.
"Si tukang tidur"
Jika ibuku sampai membaca tulisan ini, aku yakin. Beliaupun akan tertawa. Maafkan aku.
Eh..... jangan salah paham, ini hanya cerita sindiran  -.-

Comments

Popular Posts