Ketika kita memuliakan orang lain, maka insyaAllah, orang lain pun akan memuliakan kita.
Ketika orang-orang bertanya, kenapa kamu mau membalas beberapa pesan yang simple? Mengapa kamu ramah?
Duh, saya juga bingung mau menjawab bagaimana hehehe.
Wallahualam. Toh saya juga manusia, makhluk bernyawa yang diciptakan dengan berbagai macam perasaan. Saya juga pernah sedih, suka, lalai, senang, alay, lebay, kecewa, kesel, bahkan cinta.
Semua kita punya barang berharga yang namanya hati.
Segala macam hal bentuk rasa yang saya sebutkan tadi, semuanya berkumpul disana.
Iya, perasaan. Mereka sungguh liar.
Hati kita ini benar-benar liar. Sedikit saja tersentuh, boleh jadi dia menjadi sensitif. Sedikit-sedikit baperan, sedikit-sedikit kesel bosan, sedikit-sedikit marah.
Sensitif sekali.
Jadi saya bingung mau menjawab seperti apa kalau ditanya kok kamu mau sih open apa yang aku bilang?
Jadi, jawaban simple saya adalah "Karena kursi pun punya perasaan, bakalan lapuk kalau dibiarkan. Tetep respons dengan senyuman dan kebaikan."
Iya begitu.
Saya bilang sama temen, dunia ini dalam. Dunia ini seru. Dunia ini indah. Dunia ini mengerikan. Begitu juga hati manusia, mulut manusia, tangan manusia. Ada yang seru, dalam, indah, dan mengerikan.
Jadi kita sama-sama saling ngerti. Kalau kamu aja dicuekin bisa marah, apalagi orang lain.
Saya kutip "Khirunnas, anfa'uhum linnas, Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain".
Karena saya bukan malaikat, tidak punya macam-macam kekuatan ajaib, jadi yang saya bisa ya cuman mendengarkan, merespon dengan senyuman, candaan.
Saya bukan spidermen. Saya tidak bisa menciptakan sulap-sulap seperti demian. Saya bukan barbie yang cantik di film-flm yang bisa menghibur pemirsa dilayar kaca. Saya manusia biasa.
Karena saya tahu saya tidak punya kekuatan istimewa, maka dari itu rasanya saya tidak pantas menyombongkan diri. Saya tidak pantas bersikap seolah-olah saya ini adalah manusia suci. Sikap saya biasa-biasa saja, karena saya sama seperti teman-teman semua. Saya juga bisa sedih kalau tidak dianggap. Toh kita sama-sama manusia, Allah yang menciptakan kita. Sudah sepatutnya kita bertegur sapa dengan sesama, saling menghargai, dan mengerti. Hablum minannas.
Kita satu spesies kan?
Well, ditulisan kali ini, saya pakainya saya ya, ga gua, aku, ataupun ane. Biar kesannya lebih greget gimanaaa gitu. Hehehe
Saya ini unique, simple, and humble.
:)
Nanti kalau saya tiba-tiba menjadi sombong, maklumin aja, berarti hati saya lagi sensitif, greget kepingin ngalamin rasanya jadi orang sombong gimana hahaha.
Comments