Begitulah temanya, apa yang akan tejadi kepadaku enam tahun lagi?
Entahlah.....
Mungkin aku akan menjadi kupu-kupu? Lumba-lumba? Atau Kura-kura?
Ah, aku bercanda kawan. Aku ini manusia, mana mau aku berubah wujud seperti mereka. Ada-ada saja.
Baiklah, kembali ke pertanyaan tadi. Akan jadi apa aku enam tahun lagi? Apa yang akan terjadi?
Jika bukan karena tugas mata kuliah bahasa indonesia dari pak arif fadhilah, mana sering aku merenungi pertanyaan tadi demi karangan ini.
Ku ajak kau kawan, berfikir mengenai masa depan, akan berubah menjadi manusia seperti apa kau nanti?
Kawan, jangankan enam tahun lagi, dua detik kedepan ini saja aku tidak tahu, apa yang akan terjadi kepadaku.
Kau tahu lah, aku ini manusia. Bukan pencipta takdir semesta.
Kawan, aku tahu, aku tidak sempurna. Mana bisa aku meramal semau manisku. Impossibel.
Bolehlah aku mengada-ngada sekenanya saja, khusus demi karangan ini. Mungkin, tiga tahun dari sekarang aku akan menjadi sarjana, lulus dengan predikat coumlaud dari tarbiyah matematika.
Kawan, aminkan saja, toh ini juga karangan. Amiin.
Setelah lulus, kemudian apa?
Sabar kawan, aku juga sedang berfikir.
Biasanya, seorang tamatan sarjana keguruan pasti akan menjadi guru. Boleh jadi setelah wisuda aku diterima di lembaga pendidikan terbaik di negeri ini. Amiin.
Apakah aku yakin akan langsung bisa mendapatkan pekerjaan?
Tenang kawan, pikiranku tidak seklise yang kau bayangkan.
Tentu saja, boleh jadi aku tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah. Boleh jadi lelah sudah aku melamar, tak satupun lembaga yang menerima. Kerena aku hanya lulusan s1. Boleh jadi bukan?
Kawan, ini hanya karangan, doakan yang terbaik-baik saja untukku.
Oke, kemudian apa yang akan aku lakukan?
Sekarang giliranku yang menunggu lamaran datang. Apakah kau lupa? Aku ini seorang wanita bukan?
Biarkan sejenak aku tertawa, Hahaha.
Hanya itu saja?
Tidak.
Boleh jadi aku akan mendirikan usaha. Andai kata modal dari orang tua masih ada, aku akan membangun imperium bisnis yang maha besar, menjadi sarjana kaya raya. Karena enam tahun dari sekarang, aku sedang menulis, belajar, berteman, mendapatkan pengarahan, sedang rajin-rajinnya aku menuntut. Bila rajinku ini terus berkembang, benar pasti suatu hari aku akan menjadi pebisnis besar, dengan relasi yang sudah kubentuk dari sekarang.
Kawan, aku ini pelajar. Si mahasiswa kecil dari kampung seberang. Paling tidak, jika semua yang aku tulis di atas tidak tercapai, aku masih bisa terus belajar bukan?
Itupun jika orang tua masih ada, jika tidak? Siapa yang akan terus membiayai? Apa yang harus aku lakukan? Mengemis-ngemis beasiswa?. Ah. Boleh jadi benar.
Sudahlah, kali ini aku serius. Sekarang aku sedang menulis, menambah-nambah abjad agar sampai 500 kata.
Aku masih muda kawan, baru 18 tahun. Orang-orang tua masih menganggapku bocah kecil ingusan, padahal aku jarang sekali terkena flue. Aku bingung, kapan mereka melihat ingusku?
Ah, menjijikkan.
Kawan, aku ingin menjadi seseorang yang sukses. Sukses menurutku adalah ketika aku dan orang-orang disekeliling menyayangi dan sadar akan keberadaanku. Aku tidak ingin dianggap hanya sebagai angin lalu.
Aku tahu, mereka akan sadar akan keberadaanku kalau aku menjadi sesuatu.
Baiklah, aku ingin menjadi guru ataupun dosen.
Setelah lulus perkuliahan ini, aku berencana melanjutkan pendidikanku kembali, melanjutkan s2. Aku ingin keluar negeri, berpetualang.
Aku masih bodoh kawan, mana bisa aku mendidik murid dengan pengetahuan yang masih dangkal, mana ada murid yang mau berguru dengan guru bodoh? Tentu saja, aku harus lebih giat lagi agar muridku percaya dengan apa yang aku katakan nanti. Percaya dengan pelajaran yang aku berikan.
Anggap saja dua tahun telah berlalu. Aku telah menyelesaikan pendidikan s2. Baiklah, jika masih belum ada yang mau menampungku, aku akan menikah terlebih dahulu.
Aku punya target kawan, di umur 25 aku menikah, setahun kemudian aku mempunyai anak. Sekarang bukankah aku sudah mempunyai murid pribadi? Yaitu anakku sendiri.
Dengan siapa aku menikah lima tahun lagi?
Ah, itu sudah menjadi pembahasan yang membuat jantungku berdetak kencang. Siapa suamiku? Sekarang mana aku tahu kawan. Dengan siapa saja yang dikirimkan Allah untukku. Tentu saja.
Ini rahasia kawan, sebenarnya aku suka menulis cerita, bukankah ini sebuah anugerah? Bakat menulis ini bisa ku investasikan untuk masa depan bukan?
Ah, bisa jadi, satu tahun berikutnya setelah lulus s2, 6 tahun dari sekarang, biarpun aku belum menjadi guru, biarpun aku belum menikah, boleh saja aku akan menjadi penulis besar.
Kawan, kuingatkan, ini hanya sekedar karangan. Aminkan saja.
Kawan, bilapun aku tidak menjadi manusia hebat nantinya, paling tidak aku boleh menjadi manusia yang selalu rajin beribadah. Memohon rezeki dan rahmat Allah, agar kelak jika bukan di dunia, aku akan menjadi hebat di akhirat sana. Eitss, bukan ahli neraka maksudku.
Burung saja masih bisa hidup, burung tidak ahli matematika, dia tidak hidup sepertiku yang ke kampus belajar selalu. Namun sampai sekarang, biarpun tanpa ijzah, dia masih bisa hidup bukan?
Wajar jika aku dan kau khawatir mengenai dunia, karena ini ujian. Adakalanya nafsu menyuruh kita menjadi sesuatu yang luar biasa, adakalanya kita tidak akan dipandang karena kita bukan siapa-siapa.
Kawan, ini dunia.
Dan... ini karanganku.
6 tahun dari sekarang, aku akan menjadi manusia yang ditakdirkan Allah kepadaku.
Comments