Skip to main content

Featured

METAMORFOSIS

Masih dalam rangka 30 hari bercerita: Setelah makan pisang cokelat di bawah bangunan rumah Aceh pagi sebelum masuk ke kelas, aku merasa lebih siap mengumbar energi kembali. Tadi ini aku memulainya dengan mengajak mereka “bermetamorfosis”. Kemudian salah satu di antara mereka bertanya, “Apa itu metamorfosis?” Lalu aku memutarkan sebuah video tentang metamorfosis untuk anak-anak. https://youtu.be/TeisJz4aIqs?si=xT1N8hw7Bp83Re0e “Perubahan bentuk,” itulah metamorfosis. Kemudian aku menambahkan, perubahan atau metamorfosis tidak hanya merupakan perubahan dalam bentuk fisik yang terlihat oleh mata, namun juga bisa dalam wujud yang tidak terlihat tetapi terasa—perkembangan jiwa. Bukankah ulat yang kemudian menjadi kepompong, lalu kupu-kupu, adalah hal yang indah? Apakah manusia juga akan mengalami metamorfosis? Salah satu di antara mereka menjawab, “Iya, teacher, dari bayi menjadi anak kecil, remaja, dewasa, dan kemudian orang tua.” Ya, itu dalam bentuk fisik. Apakah ada metam...

RUMAH SAKIT

Mana mimpi yang jauh-jauh hari kau banggakan itu?
Mana semua janji kesungguhanmu yang dulu?
Aku ditampar pertanyaan-pertanyaan sakti pada malam ini.
Niat ikhlas mengunjungi korban kecelakaan, adik dari temanku dirawat di salah satu rumah sakit terbaik di Banda Aceh.
Motor masih melaju, hati-hati, pelan sekali ku kendarai. Mengingat belakangan ini banyak kasus kecelakaan yang terjadi di Banda, rata-rata korbannya mahasiswa. Bahkan ada yang sampai meninggal.
Aku yang dulunya suka mengebut dan kurang waspada, namun malam ini lebih fokus dan deg-degan. Takut-takut sesuatu terjadi, mamak dan ayah pasti akan terkejut jika mendengar anak bungsunya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Membayangkan wajah mamak yang panik saja sudah nyilu hatiku, jadi kuputuskan untuk berkendara dengan lebih berhati-hati lagi.
Jalanan kota Banda Aceh malam ini masih seperti biasanya, selalu ramai, kerlap-kerlip lampu mobil dan motor menari-nari sepanjang mata memandang jalanan.
Ku bonceng temanku, dia duduk di belakang, sesekali berkomentar, "hati-hati ata", "itu ada orang jalan", selalu saja dia mengingatkan. Tujuan kami sama, ke rumah sakit besar itu.
Sampailah kami di parkiran, kutinggalkan motor scoopy cream ini bersama teman-temannya yang lain. Aku melesat bersama teman menuju ruang IGD.
Baju-baju putih itu sengaja berjalan melewatiku, tidak tersenyum, bahkan tidak memperhatikan. Berkali-kali aku berpapasan, tidak ada hal yang spesial, mereka terus berjalan, aku pun tetap saja lurus berjalan. Sesekali kulirik yang dibawa ditangan, sesekali kulirik sebuah benda yang dikalungkan, oh iya, setoskop kalau aku tidak salah.
"Hei, bau apa ini"?
Hatiku berdebat, "ini bau yang kau impikan dulu".
"Hei, bau ini tidak seperti yang ku harapkan, bau alkohol dan obat-obatan yang menyesakkan". Aku kesulitan bernafas
Masih berjalan... kemudian membuka pintu sebuah ruangan
Dibalik pintu, ruangan yang kutuju ini ternyata lebih ramai dari lorong-lorong lain yang sudah kulalui, ternyata lebih banyak juga model baju lain dari yang kulihat ketika berpapasan tadi. Tidak hanya yang berbaju putih, namun ada yang hijau, coklat, juga ungu, dsb.
Hei...
"Hati ini kembali bergejolak".
Cukup, tujuanku kemari bukan melirik baju-baju itu.
Lebih kutajamkan pandangan, kami sampai di tempat tidur tujuan, pasien yang ingin dijumpai oleh temanku. Kami bersalaman dengan orangtuanya, si pasien masih saja tertidur lemah. Monitor jantung di atasnya menunjukkan bahwa detak jantungnya masih belum stabil, kadang lemah kadang kuat. Entahlah...
Aku semakin sulit bernafas, bukan hanya satu pasien saja yang ku lihat, namun ada berbagai jenis manusia kesakitan di sini. Para yang berbaju tadi sibuk berlalu lalang. Ada yang mondar-mandir mendorong tempat tidur, ada yang bolak-balik mengganti infus. Penuh kesibukan.
Diruangan ini, bahkan bisa kudengar beberapa teriakan kesakitan.
"Aku semakin sulit bernafas".
Pelan tapi pasti, aku mulai membenci tempat ini.
Disekelilingku, ada bapak-bapak yang sudah renta, tua, lemah sekali fisiknya, dibantu dengan oksigen di hidunya. Ada korban kecelakaan, masih jelas luka merah dijidatnya. Dan pasien lain sebagainya.
Tatapan kosong, tatapan penuh lelah dimata mereka terpancar jelas dalam pandanganku. Apa yang bisa kubanggakan disini? Hatiku semakin sesak saja.
Para yang berbaju itu, sesekali dipanggil oleh temanku untuk memperbaiki infus pasien, sudah naik darahnya.
Berkali-kali dipanggil, tak kunjung jua si berbaju datang menghampiri.
Sabar pikirku.
Eits, tapi tunggu. Kenapa aku seperti ini? Kenapa sejak tadi aku tidak menyukai tempat ini? Baunya? Suasananya? Membuatku justru sulit menerima udara di sekitar sini.
Bukankah dahulu inilah yang kudamba?
Kemana hilangnya mimpi yang jauh-jauh hari ku inginkan dulu?
Kemana rasa cinta ini melebur?
Kenapa mendadak sirna dari hatiku?
Aku mulai memusuhi rumah ini
Suasananya mengganggu setiap indra dalam tubuh ini. Dari kulit sampai hidung, kusisihkan jauh-jauh tempat ini dari kehidupanku. Jangan sampai aku terbaring disini. Jangan sampai aku kembali kemari sebagai penakut seperti malam ini.
Ternyata aku sadar, Allah maha tahu kesanggupanku. Allah yang maha kasih lagi maha penyayang melindungiku dari keegoisan keinginan untuk bekerja ditempat ini. Karena sebenarnya, aku lah si lemah dalam ruangan ini.
Sudah satu jam kami disini, kemudian aku dan temanku memohon izin pulang. Kos kami tutup tepat pukul sepuluh malam. Jadi, sebaiknya sebelum pukul sepuluh kami sudah harus tiba di kos.
Keluar dari sini, akhirnya, lega kembali aku bernafas. Udara malam semakin sejuk saja.....
Dari parkiran, kuambil motorku kembali menuju jalanan yang ramai... kami pulang.... dengan tanpa penyesalan. Apa yang sudah terjadi, itu semua adalah pelajaran. Maka ikhlaslah. Kelak engkau akan menemukan hikmah :)

Comments

Popular Posts