Semakin banyak berjumpa, semakin banyak bermuhasabahlah kita.
Apa yang diri ini anggap sempurna, sebenarnya bukanlah apa-apa. Hanya kosong, tidak ada yang patut dibanding-bandingkan.
Semakin banyak berjumpa, semakin rendah dirilah kita.
Apa saja yang diberikan Allah, patut disyukuri. Jangan sampai ada iri dan dengki.
Semakin bodoh saja diri ini, harus lebih mendalami lagi. Ilmu apa saja.
Semakin banyak berjumpa, semakin bertambahkah senyum di muka atau kerutan di mata?
Ah, bukan hak kita menilai rupa. Namun, sikap dan hatinya yang perlu di damba.
Semakin banyak berjumpa, semakin banyak dosa?
Ah iya, karena terlalu ria
Hati-hati yaa
Semakin banyak berjumpa, semakin mekar tumbuh cinta. Terhadap sesama manusia :)
Hei, jadi andi bersama farhan kemarin berjumpa.
Apa yang terjadi? Sudah satu windu mereka tidak pernah sekalipun bersua.
Andi sudah menjadi orang yang hebat, dia datang dengan masih mengenakan jas berdasi, baru selesai rapat katanya.
Andi adalah seorang pengusaha besar di kotanya. Dia bercerita, bisnisnya semakin subur, sampai-sampai dia bisa mengumpulkan uang untuk berkeliling dunia.
"Apa kabar farhan?
Bagaimana denganmu?"
"Ah, tak patutlah kau tanyakan aku, satu windu kita tidak bertemu, kau sudah menjadi sesuatu. Kau sudah menjadi orang hebat.
Andi, delapan tahun ini aku tidak berbuat banyak.
Setelah lulus dari sekolah keguruan, aku hanya bermalas-malasan, karena ku anggap aku sudah pintar. Dengan nilai ijazah yang memuaskan, aku hanya duduk menunggu panggilan pekerjaan. Tapi, kenyataannya, aku bodoh. Aku sombong, mana ada pekerjaan yang meghampiriku?
Nilai kuliahku yang hebat tidak dibutuhkan. Mereka mencari orang-orang yang giat dalam bekerja. Bukan hanya giat duduk membaca.
Andi, beginilah aku. Tiga tahun aku menganggur, ketika teman-teman sebayaku sudah mendapat pekerjaan dan menikah, aku masih bergelantungan. Ayahku yang dulunya bangga memamerkan nilai-nilai juara umumku disekolah, perlahan-lahan malu. Mengapa anakku farhan belum menjadi sesuatu?
Andi, kau adalah temanku. Kau lebih bodoh daripada aku, nilaimu biasa-biasa saja. Kau nekat, mendirikan usaha dengan modal uang kuliah. Hingga akhirnya kau tidak kuliah.
Tapi lihat, sekarang aku hanya menggenakan kaus oblong coklat, sedangakan kau? Sudah jadi orang hebat, mengenakan jas, berkeliling semaumu.
Andi, aku telah dibodohi oleh nilai yang semu. Aku telah begitu sombong hingga malas berusaha. Dunia meninggalkanku, karena aku bukan apa-apa.
Satu tahun berikutnya, aku mulai bangkit, merobek kesombongan dalam diri. Ah ternyata aku bukanlah apa-apa. Kemudian aku mencari pekerjaan, ku tulis cv dengan mengisi nilai-nilai yang membanggakan. Ku ajukan kepada lembag-lembaga yang membutuhkan.
Pada suatu sore, seseorang menelefon. Alhamdulillah, aku lulus di sebuah lembaga mengajar.
Gajiku hanya pas-pasan, tapi alhamdulillah, ini sudah lebih baik daripada menjadi seorang pengangguran.
Andi, tahukah kau?
Aku berjumpa dengan murid yang pintarnya sama sepertiku dulu. Dia pintar, pintar sekali. Nilainya selalu tinggi dibandingkan dengan murid-murid lain. Namun dia pemalu, lupa berinteraksi dengan sesama karena asyik membaca, bermain sendiri. Bahkan, jarang sekali dia tertawa bersama yang lain. Ketika aku bertanya, tidakkah kau ingin bergabung bersama yang lain? Dia menjawab "tidak, aku hanya ingin belajar saja. Kelak ketika nilaiku tinggi, aku akan menjadi orang hebat".
Aku takut, masa depannya akan suram sepertiku dulu. Bolehlah sekarang dia berbangga karena pintar dan dibutuhkan oleh teman-teman. Namun kelak, dunia tidak hanya sekedar nilai semata. Boleh jadi teman-teman yang mengelu-elukan dia sekarang ini kedepannya akan lupa terhadapnya. Karena dia hanya sibuk sendiri saja, lupa bertanya apa kabar dengan sesama, lupa bertegur sapa dengan manusia disekeliling.
Andi, bagaimana aku menjelaskan tentang bedanya dunia pendidikan dan dunia berlangsungnya kehidupan dangan mendapatkan pekerjaan kepada muridku ini?
Dia sama buta dan tulinya seperti aku dahulu. Ketika aku hanya mencari nilai yang tinggi saja, namun akhirnya tidak bisa kubawa kemana-mana. Karena keahlianku hanya duduk membaca, tanpa mau bersosialisasi dengan sesama."
Andi mendengar ceritaku dengan mulut ternganga. Karena aku tidak pernah terbuka seperti ini. Dulu aku sombong bukan main, ku anggap, aku lah yang akan menjadi orang hebat.
"Farhan, kau sahabatku. Sayangku kepadamu sama seperti sayangku terhadap karyawanku. Maukah kau bekerja denganku? Lupakan muridmu itu. Kelak, muridmu akan menjadi bawahan orang-orang sepertiku."
Yups, seperti itulah perjumpaan sepasang manusia. Apa yang dapat dipetik dari cerita tadi? Hendaknya bisa direnungi. Hahaha
Comments